BANDA ACEH | Gempa bumi bermagnitudo 4,5 mengguncang wilayah Sinabang, Kabupaten Simeulue, Aceh, pada Kamis (24/9/2025), pukul 19.58 WIB. Gempa ini tergolong dangkal, dengan pusat gempa berada pada kedalaman 13 kilometer. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa terletak pada koordinat 2,12 Lintang Utara dan 96,66 Bujur Timur, sekitar 50 kilometer tenggara dari pusat Kota Sinabang.
Visual yang dirilis BMKG menunjukkan lokasi gempa berada di zona seismik yang aktif, tepat di sepanjang busur luar zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia yang membentang di lepas pantai barat Sumatera. Dari citra tersebut juga terlihat padatnya sebaran titik aktivitas gempa di sepanjang garis subduksi, yang mengindikasikan tingginya potensi kegempaan di wilayah tersebut.
Gempa ini merupakan salah satu dari sekian banyak aktivitas tektonik yang rutin terjadi di wilayah barat Sumatera, yang dikenal sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik. Wilayah ini sangat rawan karena menjadi pertemuan dua lempeng besar dunia. Benturan dan pergerakan lempeng menyebabkan akumulasi energi yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedalaman gempa yang dangkal menyebabkan guncangan dapat lebih mudah dirasakan oleh penduduk di sekitar pusat gempa, meskipun hingga saat ini belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa. Meski berkekuatan sedang, gempa dengan magnitudo tersebut dapat menimbulkan kecemasan, khususnya di kawasan dengan struktur bangunan yang rentan.
BMKG belum mengeluarkan peringatan tsunami dan menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang laut besar. Namun demikian, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Pulau Simeulue sendiri merupakan wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam aktivitas kegempaan. Salah satu gempa besar tercatat terjadi pada 28 Maret 2005 dengan magnitudo 8,6. Penduduk lokal dikenal memiliki pemahaman tradisional yang baik terkait mitigasi bencana, melalui warisan budaya berupa istilah dan kebiasaan, seperti “smong” untuk menyebut tsunami, yang terbukti menyelamatkan banyak jiwa dalam peristiwa tsunami 2004.
BMKG menambahkan bahwa informasi ini merupakan hasil analisis awal dan dapat diperbarui seiring dengan pemrosesan data lanjutan. Masyarakat diimbau untuk hanya merujuk pada informasi resmi dari lembaga terkait dan tidak terpancing kabar yang belum terverifikasi.



































































