KUTACANE – Gerakan Mahasiswa Peduli Perikanan atau GEMPAR kembali menunjukkan peran mahasiswa di luar ruang kampus dengan membawa inovasi budidaya ikan yang aplikatif ke lingkungan pesantren. Melalui program berbagi ilmu tentang sistem Budikdamber, yakni Budidaya Ikan dalam Ember, mahasiswa berupaya mendorong kemandirian pangan, peningkatan gizi, hingga kemandirian ekonomi di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan.
Kegiatan yang menyasar para santri ini tidak sekadar mengajarkan teknik budidaya, tetapi mengintegrasikan praktik tersebut dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. GEMPAR memposisikan kegiatan ini sebagai wujud nyata dari SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu, di mana mahasiswa memberikan edukasi perikanan yang aplikatif, mudah diterapkan, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari santri di luar kampus.
Apa yang diajarkan dan mengapa penting? Praktik budidaya mandiri dengan ember ini bertujuan agar lingkungan pesantren mampu memproduksi ikan sendiri untuk memastikan terpenuhinya asupan protein harian yang sehat bagi para santri. Hal ini sejalan dengan SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, di mana ketersediaan pangan bergizi menjadi kunci untuk menunjang kesehatan dan konsentrasi belajar santri. Dengan sistem yang sederhana, pesantren tidak perlu bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar untuk memenuhi kebutuhan protein hewani.

Siapa yang terlibat dan di mana kegiatan ini berlangsung? Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam GEMPAR bersama keluarga besar pesantren sebagai mitra utama. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting, karena tanpa kolaborasi yang solid, inisiatif pemberdayaan tidak akan berjalan lancar. Prinsip ini merepresentasikan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, di mana perguruan tinggi dan masyarakat saling memperkuat.
Lebih dari sekadar pemenuhan gizi, hasil panen dari sistem Budikdamber kelak juga diproyeksikan menjadi peluang usaha mikro yang berdampak langsung pada peningkatan kemandirian ekonomi pesantren. Ikan yang dihasilkan dapat dikonsumsi sendiri maupun dijual untuk menambah kas pesantren, sehingga sejalan dengan SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan. Model usaha kecil berbasis pangan ini mengajarkan santri tentang kewirausahaan sejak dini, mulai dari proses produksi hingga pemasaran.
Di sisi lain, penerapan sistem Budikdamber juga mengajarkan prinsip SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Sistem ini memanfaatkan sarana sederhana seperti ember bekas secara efisien untuk memproduksi pangan berkelanjutan tanpa membutuhkan lahan luas maupun modal besar. Air bekas budidaya pun dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman, sehingga menciptakan siklus produksi yang ramah lingkungan dan zero waste di lingkungan pesantren.
Kegiatan pemberdayaan yang berlangsung pada 3 November 2026 tersebut menegaskan bahwa inovasi perikanan tidak harus mahal dan rumit. Dengan edukasi yang tepat, pesantren dapat bertransformasi menjadi pusat kemandirian pangan yang tidak hanya mencetak santri yang unggul dalam ilmu agama, tetapi juga tangguh dalam kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. (*)








































