Tiga titik yang dilaporkan tidak bisa dilewati tersebut tersebar di sepanjang jalur lintas. Titik pertama berada di Dusun Genting, Desa Gumpang Pekan, di mana sebuah pohon kemiri berukuran besar tumbang dan melintang menutupi seluruh badan jalan raya Blangkejeren-Kutacane. Material pohon yang besar membuat pembersihan tidak bisa dilakukan secara manual.
Titik kedua berada di Desa Meloak Aih Ilang, di mana tanah longsor menutupi badan jalan sehingga arus lalu lintas tertutup total. Material longsor berupa tanah bercampur bebatuan menumpuk di tengah jalan dan belum bisa disingkirkan tanpa bantuan alat berat.
Titik terparah berada di lokasi yang dikenal dengan sebutan Titi Maut, Dusun Air Panas, Desa Singgah Mule. Di titik ini tanah longsor juga menutupi badan jalan lintas Blangkejeren-Kutacane dengan volume yang cukup besar. Tinggi material longsor diperkirakan mencapai sekitar dua meter dengan panjang hamparan sekitar tiga puluh meter, sehingga menutup seluruh ruas jalan dan tidak menyisakan celah bagi kendaraan untuk melintas.
Kondisi tersebut membuat kendaraan dari dua arah, baik dari Kutacane menuju Blangkejeren maupun sebaliknya, tertahan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Warga dan pengendara yang hendak melintas diimbau untuk menunda perjalanan sementara waktu hingga proses pembersihan selesai dilakukan.
Peristiwa longsor tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan pegunungan di perbatasan Aceh Tenggara dan Gayo Lues pada 3 November 2026. Kondisi tanah yang labil di jalur perbukitan tersebut memang rawan longsor, terutama saat curah hujan meningkat. Petugas dari pihak kecamatan bersama masyarakat setempat telah berada di lokasi untuk melakukan pemantauan, sementara laporan telah diteruskan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait untuk pengerahan alat berat pada 3 November 2026.
Hingga laporan ini disusun, akses Jalan Lintas Kutacane-Blangkejeren masih dalam status tertutup total dan proses pembukaan jalan masih menunggu penanganan lebih lanjut dari tim gabungan di lapangan. (*)








































