KUTACANE, dua puluh September dua ribu dua puluh enam — Pengabaian terhadap kerusakan infrastruktur vital di ruas jalan nasional yang menghubungkan Aceh Tenggara menuju Medan kini mencapai titik nadir. Sudah lebih dari empat bulan pascabanjir bandang sembilan Mei dua ribu dua puluh enam, dinding pengaman sejumlah jembatan strategis dibiarkan ambruk dan hancur tanpa sentuhan perbaikan yang berarti.
Dikutip dari Tribun Gayo, kondisi memprihatinkan ini terpampang nyata di wilayah Lawe Tua Makmur dan Lawe Tua Gabungan, Kecamatan Lawe Sigala-gala. Kerusakan serupa juga melumpuhkan keamanan akses di kawasan Suka Makmur, Pasar Puntong di Kecamatan Semadam, hingga Jembatan Kuning di Kecamatan Bambel. Ketiadaan dinding pengaman di sisi jembatan menciptakan lubang maut yang setiap saat mengancam kendaraan terperosok ke dasar sungai yang penuh dengan material bebatuan tajam.
Sikap diam Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh memicu kemarahan publik. Para sopir angkutan umum yang setiap hari bertaruh nyawa di jalur tersebut menilai pemerintah telah abai terhadap keselamatan warga. Dalih mengenai pengusulan anggaran yang masih berjalan dianggap sebagai alasan klasik yang tidak masuk akal, mengingat anggaran perawatan rutin seharusnya menjadi pos wajib yang siap digunakan kapan saja untuk keadaan darurat.
Pejabat Pembuat Komitmen BPJN Aceh, Jaya Yuliadi, mengakui bahwa perbaikan baru sekadar wacana yang diupayakan tahun ini. Namun, hingga saat ini, lokasi jembatan masih dibiarkan dalam kondisi rusak parah dengan sisa-sisa kayu gelondongan material banjir yang masih berserakan. Ketidaktegasan pihak berwenang dalam memulihkan akses publik ini mencerminkan buruknya manajemen pemeliharaan infrastruktur di daerah, yang kini berujung pada ancaman kecelakaan fatal bagi masyarakat luas. (*)








































