BANDA ACEH — Potensi cuaca ekstrem kembali mengancam sebagian besar wilayah Aceh mulai Senin (14/9/2026) sore hingga malam hari. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Aceh secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait hujan sedang hingga lebat yang diperkirakan bakal disertai kilat, petir, dan angin kencang mulai pukul 15.46 WIB dan dapat berlangsung hingga 19.15 WIB.
Wilayah yang terpantau berstatus siaga terdiri dari puluhan kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Simeulue, Aceh Singkil, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Pidie Jaya, hingga sejumlah kota seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, Sabang, dan Subulussalam.
BMKG menegaskan peringatan tidak hanya berlaku terbatas pada kawasan rawan, namun berpotensi meluas hampir ke seluruh Aceh, mencakup wilayah pantai, pegunungan, dataran rendah, hingga lingkungan perkotaan. Warga diingatkan untuk mewaspadai risiko banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga sambaran petir di tengah tingginya intensitas curah hujan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan lereng perbukitan.
Petugas BMKG di Aceh juga telah mengonfirmasi pertumbuhan awan konvektif secara masif yang memicu lonjakan anomali cuaca di wilayah setempat. Pihak terkait, terutama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan relawan diharapkan siaga penuh mengantisipasi jika terjadi situasi darurat. Pemantauan langsung di lapangan menjadi kunci guna mencegah jatuhnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur akibat cuaca ekstrem tersebut.
Masyarakat diimbau untuk tidak berteduh di bawah pohon atau baliho besar saat hujan lebat dan petir mengguyur, serta segera mengevakuasi diri ke lokasi lebih aman apabila ketinggian air mulai meningkat. Sementara, warga di kawasan rawan longsor diminta siaga menghadapi potensi guguran tanah susulan, menyusul kondisi tanah yang sudah jenuh akibat hujan sejak beberapa hari terakhir.
BMKG Aceh menekankan pentingnya disiplin warga untuk terus memantau informasi resmi dan tidak terpancing isu di luar kanal pemerintah guna menghindari kepanikan. Setiap permukiman kini diharapkan menjadi garda terdepan dalam membangun kesiapsiagaan dan menjaga keselamatan masing-masing.
Situasi cuaca ekstrem yang melanda Aceh sudah menjadi ancaman tahunan. Namun, gelombang peringatan dini kali ini perlu menjadi alarm keras untuk semua pemangku kepentingan agar tidak lengah. Kesiapsiagaan dan respon cepat menjadi penentu utama dalam melindungi rakyat dan meminimalkan kerugian yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat bencana hidrometeorologi yang kini kembali mengintai Aceh. (*)









































