KLATEN | Puluhan siswa dan guru di dua madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis, 3 September 2026. Peristiwa ini terjadi di MI Muhammadiyah Desa Srebegan dan MI Muhammadiyah Desa Cetan, di mana sejumlah siswa mengeluhkan kondisi kesehatan usai menerima paket makanan dari program tersebut.
Insiden bermula saat pihak sekolah mendapat laporan adanya keluhan dari siswa sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas kesehatan bersama aparat TNI segera mendatangi MI Muhammadiyah Srebegan untuk memeriksa siswa yang masih berada di lingkungan sekolah. Kepala Puskesmas Jambu Kulon, Muhammad Banu Aryandaru, menjelaskan bahwa jumlah siswa yang mengalami gejala bertambah selama proses pemeriksaan berlangsung. Awalnya tercatat delapan siswa yang mengeluh, namun angka tersebut meningkat hingga akhirnya total terdapat 33 siswa yang melaporkan gangguan kesehatan.
Sementara itu, kasus serupa juga ditemukan di MI Muhammadiyah Desa Cetan, Kecamatan Ceper. Sebanyak 27 orang yang terdiri dari siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan program MBG. Sebagian besar korban di dua sekolah tersebut telah memperoleh perawatan medis dan diperbolehkan untuk pulang setelah kondisi mereka membaik.
Pemeriksaan sampel makanan yang dikonsumsi para siswa turut dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab pasti insiden ini. Salah satu siswa MI Muhammadiyah Srebegan, F (12), mengaku mulai merasa pusing dan mual-mual setelah mengonsumsi sekitar setengah porsi ikan katsu yang menurutnya berbau amis. Paket makanan tersebut juga terdiri dari nasi, sayur tumis kacang dan wortel, serta semangka potong. Siswa tersebut segera menjalani pemeriksaan medis usai mengalami keluhan kesehatan.
Hingga saat ini, pihak penyelenggara program MBG dan SPPG setempat belum memberikan keterangan resmi mengenai kejadian dugaan keracunan massal ini. Pemeriksaan terhadap korban serta investigasi lebih lanjut terhadap sampel makanan masih terus dilakukan oleh tim medis dan otoritas terkait guna memastikan keamanan pangan dan mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (*)








































