JAKARTA | Hampir dua ribu orang, mayoritas anak-anak sekolah, dilaporkan mengalami gejala keracunan massal usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di empat kabupaten berbeda, mulai Selasa hingga Kamis, 1-3 September 2026. Kasus terjadi secara beruntun dan dalam skala besar di Sidoarjo, Rembang, Agam, hingga Tana Toraja.
Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sebanyak 730 santri dan siswa diduga keracunan usai menyantap MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan sejumlah sekolah di Kecamatan Tanggulangin. Dari jumlah tersebut, 706 orang telah dipulangkan untuk rawat jalan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menerangkan seluruh korban sempat menjalani perawatan intensif sejak Selasa malam, dan sebagian masih terus dipantau.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo langsung mengerahkan tenaga medis dan memastikan biaya penanganan korban sepenuhnya ditanggung pemerintah. Sampai Kamis sore, penyebab pasti keracunan masih ditelusuri. SPPG terkait juga telah diberi sanksi administratif dan dihentikan sementara operasionalnya.
Lonjakan kasus juga terjadi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 777 siswa dan guru SMA Negeri 1 Lasem mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare berat setelah mengkonsumsi menu MBG pada Rabu siang. Ruang toilet sekolah tak mampu menampung siswa yang antre akibat diare, memaksa pihak sekolah memulangkan seluruh murid dan tenaga pendidik lebih awal. Layanan Puskesmas dan ambulans dikerahkan untuk penanganan darurat, dan SPPG Desa Soditan menyatakan tanggung jawab penuh dengan menanggung seluruh biaya perawatan medis.
Kasus serupa juga ditemukan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sebanyak 276 orang, mulai pelajar SD hingga guru, dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG. Pemerintah daerah mengambil langkah cepat dengan menghentikan distribusi makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pasia Laweh untuk mencegah meluasnya kasus. Pelayanan puskesmas di berbagai nagari sempat kewalahan dan beberapa pasien terpaksa dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi.
Tak hanya di Jawa dan Sumatra, kasus keracunan massal juga terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di wilayah ini, 152 pelajar dua SMP di Makale dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap MBG dari SPPG Batupapan. Menu makanan yang disajikan diduga menjadi pemicu, setelah beberapa siswa mengeluhkan nasi berlendir dan ayam berbau. Pemerintah kabupaten dan seluruh fasilitas kesehatan setempat langsung bergerak cepat mengatasi lonjakan pasien.
Gejala yang dialami para korban relatif serupa: mual, muntah, sakit perut berat, diare, hingga beberapa kesulitan bernapas. Pemeriksaan laboratorium dan investigasi masih berlangsung di masing-masing daerah namun hingga kini belum ada satu pun pihak yang ditetapkan sebagai tersangka.
Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menegaskan penanganan dan penelusuran kasus dilakukan secara ketat, bahkan membuka kemungkinan proses hukum jika ditemukan unsur kelalaian dan pidana. Pemerintah daerah di seluruh wilayah terdampak menegaskan evaluasi ketat moet segera dilakukan terhadap pelaksanaan program MBG.
Rentetan kejadian ini menimbulkan keresahan publik dan menohok kredibilitas program bantuan makanan nasional. Ribuan anak menjadi korban dalam kejadian yang menyisakan pertanyaan besar tentang mutu pengawasan, keamanan distribusi, hingga tanggung jawab hukum pihak terkait di lapangan. Pemerintah pusat dan daerah dituntut segera merampungkan proses investigasi dan menetapkan langkah tegas agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. (*)








































