JAKARTA | Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan para pejabat agar lebih peka terhadap kondisi rakyat kecil. Ia menyinggung fenomena gaya hidup mewah pejabat dan keluarganya yang kerap dipamerkan di media sosial, yang dinilainya bisa memicu ketimpangan sosial dan kecemburuan masyarakat.
“Dalam hati saya ini kira-kira semua pejabat paham enggak ya. Rp10 ribu sangat berarti. It really matters untuk rakyat kita yang di bawah ini,” kata Tito dalam Rapat Koordinasi Nasional Posyandu 2025 di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Senin (22/9/2025).
Ia menggambarkan kondisi banyak warga Indonesia yang hidup pas-pasan, bahkan harus menghidupi keluarga besar dalam kondisi tidak layak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bayangkanlah kira-kira yang tidurnya di dalam rumah yang enggak layak, membiayai keluarganya tujuh orang sebulan, hidup di rumah-rumah berseng. Ketika kemudian melihat ada berita dari DPR misalnya, dapat tunjangan Rp50 juta per bulan, tunjangan perumahan,” ujarnya.
Mantan Kapolri itu juga menyentil tren pamer kekayaan alias flexing yang dilakukan oleh anak atau keluarga pejabat publik. Menurut Tito, gaya hidup seperti itu berkaitan erat dengan fenomena “nepo kids” atau “nepo baby”—istilah yang merujuk pada anak-anak tokoh terkenal yang dianggap mendapat privilese karena koneksi orang tuanya.
“Jadi flexing itu yang disebut dengan nepo kids, nepo baby. Itu adalah suatu fenomena dunia ya, yang lagi ramai di kalangan Gen Z,” ujar Tito.
Ia menyebut fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga menjadi pemicu aksi demonstrasi di beberapa negara, termasuk Nepal, di mana amarah publik meledak setelah melihat gaya hidup anak-anak pejabat yang dianggap tak berempati dengan penderitaan rakyat.
Tito berharap para pejabat bisa lebih bijak dalam bersikap dan menjaga perasaan masyarakat di tengah situasi ekonomi yang masih berat. (*)



































































