GAYO LUES | Aktivitas belajar mengajar di Kabupaten Gayo Lues dijadwalkan akan kembali dimulai pada Senin, 5 Januari 2026. Meskipun sejumlah wilayah masih dalam masa tanggap darurat akibat banjir dan longsor, Dinas Pendidikan Gayo Lues memastikan anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikannya, terutama di daerah terdampak, dengan memanfaatkan tenda darurat sebagai ruang kelas sementara. Langkah ini diambil agar hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi di tengah kondisi sulit pascabencana.
Kepala Dinas Pendidikan Gayo Lues, Salid, mengatakan bahwa beberapa sekolah dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini hingga Sekolah Menengah Pertama mengalami kerusakan yang cukup berat dan tidak memungkinkan untuk digunakan dalam waktu dekat. Dari data yang dihimpun, setidaknya terdapat satu Taman Kanak-Kanak, lima Sekolah Dasar, empat Sekolah Menengah Pertama, serta satu Madrasah Ibtidaiyah Swasta yang terdampak langsung oleh bencana.
“Sistem belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana biasanya namun tentu dengan penyesuaian. Kami tidak bisa memaksa proses belajar berlangsung sepenuhnya normal di hari-hari awal. Kemungkinan besar pembelajaran akan dibuat lebih ringan, lebih ke pendekatan bermain sambil belajar, sebagai bagian dari trauma healing bagi anak-anak,” ujar Salid, Minggu (4/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan bahwa kegiatan belajar akan berlangsung dalam waktu lebih singkat dari biasanya, mengingat fasilitas yang terbatas, serta kondisi psikologis siswa dan guru yang masih dalam masa pemulihan. Beberapa lokasi sekolah darurat telah dipersiapkan di Kecamatan Tripe Jaya, antara lain SD Negeri 3 dan SMPIT Askaril Ikhlas. Di Kecamatan Pantan Cuaca, dua titik sekolah darurat akan ditempatkan di Kampung Remukut dan Tetingi, tepatnya di SD Negeri 4 dan SD Negeri 5.
“Di Kecamatan Pining, SD Negeri 5 di wilayah Pepelah juga terdampak, begitu juga di Agusen, meski sekolahnya mungkin masih bisa dipakai, sebagian besar masyarakatnya menjadi pengungsi. Di Kampung Palok, anak-anak dari keluarga pengungsi juga perlu fasilitas belajar yang darurat,” jelasnya.
Dinas Pendidikan juga bergerak cepat untuk mendata guru dan tenaga pendidikan yang terdampak. Dari hasil pendataan, sebanyak 85 rumah milik guru dilaporkan hanyut terbawa arus banjir. Untuk meringankan beban para guru tersebut, keluarga besar Dinas Pendidikan turut memberikan bantuan secara gotong royong.
“Bersama Bapak Bupati dan BPBD, kami juga tengah menyiapkan bantuan untuk para siswa dan guru berupa seragam sekolah, seragam dinas, serta perlengkapan alat tulis. Kami pastikan hari pertama masuk sekolah, anak-anak sudah bisa menerima bantuan ini. Karena banyak dari mereka yang betul-betul tidak lagi memiliki apa-apa,” ungkap Salid.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar darurat, tenda tempat belajar akan didirikan di sekitar lokasi pengungsian, namun tetap dijaga agar tidak membaur langsung di tengah-tengah tenda pengungsi. Hal ini untuk menjaga kenyamanan dan konsentrasi siswa selama pembelajaran berlangsung. Namun, ia mengakui bahwa ada pengecualian di lokasi-lokasi tertentu seperti di SD Negeri 10 Palok.
“Di Palok, memang kemungkinan besar ruang tenda belajar akan berdampingan dengan posko pengungsi. Bahkan, ada kemungkinan ruang belajar digunakan oleh orang tua di dalam posko, sedangkan anak-anak melaksanakan kegiatan belajar di tenda di luar,” tambahnya.
Melalui pembukaan sekolah darurat ini, pemerintah daerah berharap proses pendidikan di wilayah terdampak tetap berjalan meski dalam keterbatasan. Selain mendidik, kehadiran sekolah darurat ini juga diharapkan menjadi bagian dari proses pemulihan emosional bagi anak-anak yang terdampak langsung oleh bencana, sekaligus menjadi ruang harapan baru di tengah bangkitnya masyarakat Gayo Lues pascabencana. (Abdiansyah)





































