Gayo Lues — Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Gayo Lues pada akhir 2025 meninggalkan kerusakan infrastruktur yang cukup berat. Sejumlah fasilitas dasar seperti jalan, jembatan, saluran irigasi, dan bangunan pengaman tebing dilaporkan rusak atau hancur diterjang banjir dan longsor yang terjadi secara beruntun selama beberapa pekan terakhir tahun lalu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Gayo Lues, Chairuddin Kasiman, menyampaikan bahwa hingga Minggu (4/1/2026), pihaknya mencatat sebanyak 55 ruas jalan mengalami kerusakan ringan hingga berat. Sejumlah ruas bahkan terputus total akibat tertimbun longsor atau amblas diterjang air bah. Kerusakan ini mengganggu mobilitas masyarakat dan upaya distribusi bantuan logistik yang saat ini masih berlangsung di sejumlah kawasan terdampak bencana.
“Dari hasil pendataan sementara, ada 55 ruas jalan yang terdampak. Kondisinya bervariasi, ada yang hanya tergenang, namun tak sedikit yang mengalami kerusakan struktural dan perlu dilakukan perbaikan besar,” ujar Chairuddin saat dikonfirmasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain jalan, kerusakan juga terjadi pada 105 unit jembatan di seluruh wilayah kabupaten. Rinciannya meliputi 13 jembatan rangka baja, 21 unit jembatan baja komposit, 58 unit jembatan gantung, tiga unit jembatan bailey, dan 10 unit jembatan baja WF. Sejumlah jembatan tersebut mengalami kerusakan akibat kuatnya arus sungai yang meningkat signifikan selama hujan deras terjadi.
Tak hanya itu, sistem irigasi yang menunjang pertanian warga juga terdampak cukup parah. Sebanyak 60 infrastruktur irigasi dilaporkan rusak atau tersumbat, sehingga mengancam kelangsungan pengairan lahan pertanian di beberapa kecamatan. Padahal sektor pertanian selama ini menjadi tumpuan utama bagi perekonomian masyarakat Gayo Lues.
“Kerusakan ini terjadi secara merata, tidak hanya di satu atau dua titik. Hampir seluruh kecamatan terdampak dalam beragam skala,” jelas Chairuddin.
Kerusakan juga menyasar infrastruktur pengamanan sungai, seperti bangunan penahan atau pengaman tebing. Sebanyak 58 titik bangunan pengaman yang selama ini menjadi pelindung kawasan permukiman dan lahan pertanian dari ancaman erosi dan banjir telah hanyut terbawa arus besar. Hilangnya bangunan pengaman ini menambah kerentanan wilayah terhadap bencana susulan, terutama bila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.
Kondisi cuaca di awal tahun yang masih menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat menjadi perhatian tersendiri. Pihak PUPR bersama instansi terkait saat ini terus melakukan penilaian cepat di lapangan guna merancang perbaikan darurat sekaligus penyusunan rencana rehabilitasi infrastruktur secara menyeluruh.
Pemerintah daerah juga tengah mengupayakan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat untuk penanganan infrastruktur pascabencana ini, mengingat skala kerusakan yang cukup luas dan membutuhkan alokasi anggaran besar.
Dalam situasi seperti ini, ketahanan infrastruktur diuji secara nyata. Rangkaian kerusakan tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, tetapi juga memperlambat respons tanggap darurat serta pemulihan jangka panjang. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan pemulihan infrastruktur dasar sebagai bagian dari agenda rekonstruksi pascabencana, seraya meminta dukungan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga serta memantau potensi risiko lanjutan di lapangan. (RED)






































