Gayo Lues — Harapan warga Kabupaten Gayo Lues, Aceh, untuk kembali beraktivitas normal pascabencana alam tampaknya masih menghadapi tantangan besar. Hingga Senin (5/1), layanan jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut dilaporkan belum pulih sepenuhnya. Gangguan serius pada jaringan Telkomsel yang menjadi penyedia utama layanan seluler di wilayah itu menyebabkan akses telepon dan internet masih sangat terbatas.
Sejumlah warga mengeluhkan kondisi sinyal yang tidak stabil. Layanan komunikasi tidak hanya lemah, tetapi kerap menghilang total (blank spot), bahkan di pusat kecamatan yang biasanya menjadi titik prioritas jaringan. Situasi ini memicu kesulitan komunikasi secara luas di tengah masa pemulihan dari banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan pegunungan Aceh sejak akhir November 2025.
Ketergantungan masyarakat terhadap jaringan digital saat ini membuat gangguan tersebut berdampak luas. Di beberapa desa, warga terpaksa berjalan kaki atau menempuh jarak jauh dengan kendaraan ke kawasan dataran tinggi hanya untuk sekadar mengirim pesan atau menelpon keluarga. Pencarian sinyal menjadi aktivitas harian yang melelahkan, terutama bagi mereka yang masih berada di lokasi terdampak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sudah lebih dari sebulan, tapi internet dan telepon masih mati-hidup. Padahal komunikasi itu vital, apalagi kalau ada kondisi darurat pasca bencana,” ujar seorang warga Kecamatan Teripe Jaya yang ditemui di perbukitan saat mencari sinyal. Ia bersama beberapa warga lain mendirikan tenda kecil di lereng bukit demi bisa mengakses jaringan meski sekilas.
Masalah ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi turut memengaruhi sektor-sektor penting lainnya. Koordinasi logistik bantuan kemanusiaan menjadi tidak lancar akibat sulitnya menjangkau pos-pos relawan dan perangkat desa. Di sisi lain, aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk proses jual beli dan distribusi hasil pertanian, juga terganggu karena tidak tersedianya akses komunikasi elektronik.
Sektor pendidikan pun terdampak. Banyak sekolah dan madrasah yang tidak bisa menjalankan kegiatan administrasi berbasis daring karena terputusnya koneksi. Beberapa guru dilaporkan kesulitan melakukan pelaporan ke dinas karena sistem berbasis aplikasi tidak bisa diakses. Hal ini memperparah kondisi anak-anak yang sebelumnya sempat diliburkan akibat bencana.
Masyarakat berharap pemulihan jaringan dapat segera dilakukan menyeluruh, tidak bersifat sementara atau bergantung cuaca. Sejumlah warga meminta agar penyedia layanan memberikan perhatian serius terhadap wilayah-wilayah seperti Gayo Lues yang memiliki tantangan geografis tinggi, tetapi tak bisa diabaikan dari pembangunan infrastruktur dasar, terutama di sektor komunikasi.
Sebagai wilayah yang secara historis rawan bencana, keberadaan jaringan komunikasi menjadi sangat krusial. Tidak hanya untuk mobilitas informasi, tetapi juga sebagai jalur penyelamatan dan peringatan dini bila terjadi kejadian susulan.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari penyedia layanan terkait kendala teknis maupun target waktu pemulihan penuh jaringan di wilayah tersebut. Beberapa upaya perbaikan dilaporkan telah dilakukan secara bertahap, namun belum menunjukkan dampak signifikan terhadap kualitas layanan di lapangan.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah daerah diharapkan dapat turut aktif mendorong pemulihan layanan telekomunikasi dengan melibatkan operator dan pemangku kebijakan pusat. Keberfungsian layanan komunikasi menjadi syarat dasar bagi percepatan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat Gayo Lues yang krisisnya belum sepenuhnya berakhir. (*)








































