Sabirin Siahaan Apresiasi Ketegasan Camat Rundeng T. Ridwan Saidi Tangani Konflik Dana Kampong

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 25 Juli 2025 - 14:02 WIB

50511 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subulussalam – Masa transisi kepemimpinan dari Wali Kota Subulussalam sebelumnya, H. Affan Alfian Bintang, S.E, kepada pemimpin baru H. Rasyid Bancin mulai memperlihatkan sejumlah persoalan yang selama ini tersimpan rapat di tataran pemerintahan kampong. Di Kecamatan Rundeng, konflik pengelolaan anggaran desa satu per satu mulai mencuat ke permukaan, memunculkan keprihatinan di tengah masyarakat yang selama ini hanya bisa bertanya-tanya ke mana arah dan nasib dana publik yang seharusnya menjadi hak mereka.

Pada Kamis (24/7/2025), Sabirin Siahaan, salah seorang tokoh masyarakat, secara terbuka menyampaikan apresiasinya terhadap langkah tegas Camat Rundeng, T. Ridwan Saidi, yang dianggap berani dan konsisten menelusuri serta menyelesaikan konflik anggaran di berbagai kampong di wilayah kerjanya. Sabirin menilai, apa yang dilakukan camat bukan semata-mata tugas administratif, melainkan bentuk integritas yang lahir dari kesadaran etis seorang pejabat publik dalam menjaga amanah rakyat.

Beragam temuan yang dihadapi camat saat ini mencerminkan betapa kompleks dan dalamnya persoalan tata kelola keuangan di sejumlah kampong. Mulai dari dugaan raibnya Dana Ketahanan Pangan, penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang mandek selama beberapa bulan, hingga pelaporan dan penyetoran pajak daerah maupun pajak negara dari proyek dan kegiatan pengadaan yang terkesan diabaikan. Semuanya kini menjadi bagian dari beban penyelesaian yang dipikul oleh camat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks hukum dan etika pemerintahan, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Banyaknya pelanggaran sumpah jabatan yang seharusnya menjadi fondasi dalam mengemban amanah publik menjadi ironi tersendiri. Tidak sedikit para kepala kampong yang saat dilantik menjunjung kitab suci Alqur’an dan menyebut nama Allah SWT, namun kemudian dalam praktiknya justru mengabaikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sumpah tersebut. Ini mencerminkan bahwa bagi sebagian orang, sumpah hanya sebatas seremonial belaka, bukan komitmen sejati.

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh para pelaku pun beragam dan sering kali terdengar tidak logis. Ada yang menyebut dana terpakai karena kebutuhan mendesak, ada pula yang terang-terangan mengakui penggunaan dana untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Semua ini, menurut Sabirin, menunjukkan adanya krisis tanggung jawab moral di kalangan aparatur kampong yang semestinya menjadi pelayan masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, kehadiran sosok T. Ridwan Saidi sebagai camat yang tidak terjebak dalam praktik transaksional patut diapresiasi. Langkahnya yang dianggap sebagian kalangan seperti “berlagak KPK” justru menunjukkan komitmen untuk memulihkan tata kelola pemerintahan kampong yang telah lama tercoreng. Ia memilih tidak menjadi fasilitator atau perantara pencairan dan pemungutan dana desa secara ilegal, melainkan fokus pada upaya pelurusan dan pembenahan sistem yang selama ini bermasalah.

Sabirin menilai bahwa ketegasan seperti itulah yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Saya pribadi dan atas nama masyarakat di beberapa kampong yang terdampak konflik dana desa, menyampaikan apresiasi kepada camat Rundeng. Ketegasannya adalah harapan baru bagi warga yang sudah lama merasa dirugikan,” ujar Sabirin.

Dalam pandangannya, langkah camat yang berani dan tidak kompromi terhadap penyimpangan dana desa bukan hanya menyelesaikan konflik teknis anggaran, tetapi juga menjadi simbol bahwa pemerintahan bisa dijalankan secara bersih, transparan, dan sesuai dengan amanat peraturan yang berlaku.

Langkah T. Ridwan Saidi juga menjadi contoh bahwa penyelesaian konflik anggaran desa tidak selalu harus melalui jalur represif atau pidana, tetapi bisa dimulai dengan keberanian administratif dan keberpihakan kepada masyarakat kecil. Sebab pada akhirnya, yang paling terdampak dari kelalaian dan penyimpangan ini adalah masyarakat kampong itu sendiri.

(Laporan: Tim Bara News)

Berita Terkait

Dukung Program Indonesia ASRI, Brimob Aceh Laksanakan Manajemen Kebersihkan Di Area Puskesmas Penanggalan
Sekolah Buka Suara: Ini Penjelasan Lengkap SMAN Unggul Subulussalam Soal Video Malam Hari
Atap Gerai Koperasi KMP Suka Makmur Roboh, Warga Desak Audit Anggaran dan Konstruksi
Pungli JADUP Siperkas Meledak! Rp54 Juta Diduga Disedot, Nama Pj Kades Terseret Skandal
Jaga Kondusifitas Wilayah Kota Subulussalam, Brimob Aceh Kembali Laksanakan Patroli Harkamtibmas
Jelang Idul Fitri 1447 H. Brimob Aceh Tingkatkan Patroli Preventif Di Wilayah Kota Subulussalam
Peran Kepolisian Resor Subulussalam dalam Penanganan Pasca Banjir
Berkah Ramadhan, Brimob Aceh Dan Bhayangkari Gelar Buka Puasa Bersama Di Mako Kompi

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 14:17 WIB

Kementerian ATR/BPN dan KPK Jadikan Sulut Lokasi Percontohan Transformasi Pelayanan Publik di Bidang Pertanahan

Senin, 11 Mei 2026 - 16:39 WIB

170 CJH Asal Nagan Raya Dilepas Oleh Bupati TRK Dan Dirangkai Prosesi Peusijuek

Senin, 11 Mei 2026 - 08:25 WIB

Anggota RAPI Nagan Raya Bertakziah Kerumah Almarhumah ADRI Anggota RAPI Nagan Raya

Minggu, 10 Mei 2026 - 15:49 WIB

Ratusan Kasi Keuangan Gampong Ikut Sosialisasi Aktivasi IBC Non Tunai Di Bank Aceh Cabang Jeuram

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:07 WIB

Pemkab Nagan Raya Bersama Bank Aceh Syariah Cabang Jeuram Gelar Sosialisasi Pelaksanaan Transaksi Non Tunai Dana Desa

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:07 WIB

Anggota Komisi IV DPR RI Jamaluddin Sidak Gudang Perum Bulog Meulaboh, Ini Temuannya

Rabu, 6 Mei 2026 - 00:40 WIB

Pemkab Nagan Raya dan BNN Teken Nota Kesepakatan, Perkuat Upaya P4GN

Rabu, 6 Mei 2026 - 00:34 WIB

Bupati TRK Lantik 128 PNS, Ingatkan Jangan Pindah Sebelum 10 Tahun

Berita Terbaru