BLANGKEJEREN — Warga Kampung Rerebe, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, mengharapkan perhatian serius dari pemerintah untuk memulihkan lahan persawahan mereka yang rusak parah akibat banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu. Banjir besar itu tidak hanya menghanyutkan sebagian areal pertanian, tetapi juga meninggalkan endapan lumpur dan tumpukan kayu yang membuat sebagian sawah tak lagi bisa dikenali.

Kepala Desa Rerebe, Taher, mengungkapkan bahwa lebih dari 95 persen lahan persawahan warga mengalami kerusakan berat. Ketebalan lumpur yang menimbun sawah mencapai 40 hingga 50 sentimeter. Bahkan, sejumlah sawah berubah menjadi genangan yang menyerupai danau, sementara sebagian lainnya tertutup tumpukan kayu layaknya gundukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau kita lihat sekarang, sawah-sawah ini sudah tidak kelihatan bentuknya. Ada yang seperti lapangan bola, ada yang seperti kolam, dan ada juga yang seperti gunung kecil karena dipenuhi kayu,” ujar Taher, Minggu (21/12/2025).
Ia menjelaskan, dampak dari kerusakan ini sangat mengancam penghidupan masyarakat karena mayoritas warga Kampung Rerebe bekerja sebagai petani. Dengan kondisi sawah yang tertimbun lumpur dan saluran irigasi yang rusak, para petani tidak bisa melanjutkan aktivitas bertani seperti biasa.

“Kami di sini petani. Kalau sawah tidak berproduksi, maka kami kehilangan sumber ekonomi dan pangan. Sekarang sudah bisa dipastikan, tahun ini akan mengalami gagal panen,” tambahnya.
Taher juga mengatakan bahwa tim dari Dinas Pertanian sudah turun melakukan peninjauan ke lokasi dan menjanjikan penanganan, termasuk pengangkutan lumpur dari lahan pertanian. Namun ia berharap tindak lanjut dari pemerintah tidak terlalu lama, mengingat kerusakan lahan ini sangat berdampak pada ketahanan pangan warga di tingkat lokal.
“Petani tidak bisa dipaksakan menanam di atas tanah berlumpur seperti ini. Saluran air juga sudah rusak. Air tidak bisa dialirkan ke sawah. Jadi perlu upaya dari pemerintah untuk normalisasi lahan dan perbaikan irigasi,” katanya.
Menurutnya, masyarakat tidak tinggal diam. Warga terus bergotong royong setiap hari membersihkan lahan secara manual. Namun, kondisi kerusakan saat ini membutuhkan bantuan alat berat agar proses pemulihan bisa berlangsung lebih cepat dan efektif.
“Saya selalu tekankan kepada warga untuk tidak mengandalkan bantuan sepenuhnya. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan bersama. Tapi kalau untuk lumpur setebal ini, harus ada alat berat. Tidak mungkin kami sanggup kerjakan sendiri,” tegasnya.
Pemulihan lahan pertanian di Kecamatan Dabun Gelang menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi pascabencana di Gayo Lues. Selain menjadi sumber penghasilan utama, sawah juga menjadi tumpuan ketahanan pangan lokal yang perlu segera dipulihkan agar tidak terjadi krisis berkepanjangan di tengah masyarakat pedesaan.
Warga berharap pemerintah memberikan prioritas pada sektor pertanian sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelompok rentan yang terdampak langsung bencana. Sebagaimana ditegaskan Kepala Desa Rerebe, ketahanan ekonomi warga sangat bergantung pada pemulihan sawah-sawah yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan mereka. (AMJ)






































