Petani di Kecamatan Dabun Gelang Harap Pemulihan Sawah Pascabanjir Dipercepat

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 21 Desember 2025 - 17:27 WIB

50580 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BLANGKEJEREN — Warga Kampung Rerebe, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, mengharapkan perhatian serius dari pemerintah untuk memulihkan lahan persawahan mereka yang rusak parah akibat banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu. Banjir besar itu tidak hanya menghanyutkan sebagian areal pertanian, tetapi juga meninggalkan endapan lumpur dan tumpukan kayu yang membuat sebagian sawah tak lagi bisa dikenali.

Kepala Desa Rerebe, Taher, mengungkapkan bahwa lebih dari 95 persen lahan persawahan warga mengalami kerusakan berat. Ketebalan lumpur yang menimbun sawah mencapai 40 hingga 50 sentimeter. Bahkan, sejumlah sawah berubah menjadi genangan yang menyerupai danau, sementara sebagian lainnya tertutup tumpukan kayu layaknya gundukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau kita lihat sekarang, sawah-sawah ini sudah tidak kelihatan bentuknya. Ada yang seperti lapangan bola, ada yang seperti kolam, dan ada juga yang seperti gunung kecil karena dipenuhi kayu,” ujar Taher, Minggu (21/12/2025).

Ia menjelaskan, dampak dari kerusakan ini sangat mengancam penghidupan masyarakat karena mayoritas warga Kampung Rerebe bekerja sebagai petani. Dengan kondisi sawah yang tertimbun lumpur dan saluran irigasi yang rusak, para petani tidak bisa melanjutkan aktivitas bertani seperti biasa.

“Kami di sini petani. Kalau sawah tidak berproduksi, maka kami kehilangan sumber ekonomi dan pangan. Sekarang sudah bisa dipastikan, tahun ini akan mengalami gagal panen,” tambahnya.

Taher juga mengatakan bahwa tim dari Dinas Pertanian sudah turun melakukan peninjauan ke lokasi dan menjanjikan penanganan, termasuk pengangkutan lumpur dari lahan pertanian. Namun ia berharap tindak lanjut dari pemerintah tidak terlalu lama, mengingat kerusakan lahan ini sangat berdampak pada ketahanan pangan warga di tingkat lokal.

“Petani tidak bisa dipaksakan menanam di atas tanah berlumpur seperti ini. Saluran air juga sudah rusak. Air tidak bisa dialirkan ke sawah. Jadi perlu upaya dari pemerintah untuk normalisasi lahan dan perbaikan irigasi,” katanya.

Menurutnya, masyarakat tidak tinggal diam. Warga terus bergotong royong setiap hari membersihkan lahan secara manual. Namun, kondisi kerusakan saat ini membutuhkan bantuan alat berat agar proses pemulihan bisa berlangsung lebih cepat dan efektif.

“Saya selalu tekankan kepada warga untuk tidak mengandalkan bantuan sepenuhnya. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan bersama. Tapi kalau untuk lumpur setebal ini, harus ada alat berat. Tidak mungkin kami sanggup kerjakan sendiri,” tegasnya.

Pemulihan lahan pertanian di Kecamatan Dabun Gelang menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi pascabencana di Gayo Lues. Selain menjadi sumber penghasilan utama, sawah juga menjadi tumpuan ketahanan pangan lokal yang perlu segera dipulihkan agar tidak terjadi krisis berkepanjangan di tengah masyarakat pedesaan.

Warga berharap pemerintah memberikan prioritas pada sektor pertanian sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelompok rentan yang terdampak langsung bencana. Sebagaimana ditegaskan Kepala Desa Rerebe, ketahanan ekonomi warga sangat bergantung pada pemulihan sawah-sawah yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan mereka. (AMJ)

Berita Terkait

Siswi Kelas IV SD Negeri 6 Blangkejeren Diduga Dianiaya Kakak Kelas, Orang Tua Desak Sekolah Bertindak
7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK
Polres Gayo Lues Salurkan Bantuan Sosial kepada Korban Kebakaran Desa Lukup Baru
Hasan G Aman Selena Berpulang Kerahmatullah di RS Adam Malik Medan
Sanksi Administratif Gubernur Tak Dihiraukan, PT HAI Dituding Lawan Perintah Pemerintah, AMPL Bawa Persoalan ke Gakkum
Usai Rapat Siaga Karhutla, Damkar Gayo Lues Hadapi Dua Kebakaran dalam Hitungan Jam
Antrean Panjang di Jalan Nasional Blangkejeren–Kutacane, Warga Keluhkan Sistem Buka-Tutup
Kadis Damkar Gayo Lues Gelar Rapat Siaga Karhutla

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 18:57 WIB

Mahasiswa Trumon Tantang Desak DLH Aceh Selatan Transparan: Jika PT ATAK Terbukti Cemari Krueng Luas, Proses Hukum!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 00:02 WIB

Warga Samadua Tolak Rekomendasi DPRK Aceh Selatan, Dinilai Berikan Karpet Merah untuk Perusahaan Tambang

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:21 WIB

Teken Petisi Tolak Tambang, Kini DPRK Merekomendasikan IUP Samadua: Konsistensi Dipertanyakan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 04:17 WIB

Warga Samadua Tolak Perusahaan Tambang, Koalisi: Izin Bukan Cek Kosong

Rabu, 19 Agustus 2026 - 02:14 WIB

3 Keuchik di Kemasjidan Air Sialang Samadua Resmi Tolak IUP PT MMS, 2 Keuchik Cabut Rekomendasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:02 WIB

DPRK Aceh Selatan Didesak Bongkar Dugaan Maladministrasi Izin Perusahaan Tambang di Samadua

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:51 WIB

Ribuan Warga Samadua Kompak Tolak Tambang, Desak Rekomendasi Eksplorasi Dicabut!

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:34 WIB

Bupati Aceh Selatan Didesak Merdekakan Samadua dari Bayang-bayang Perusahaan Tambang

Berita Terbaru