ACEH TAMIANG – Insiden membahayakan terjadi di aliran Sungai Tamiang, tepatnya di kawasan dermaga penyeberangan Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, pada Sabtu, 26 September 2026. Seorang operator perahu penyeberangan bernama Maulana nyaris menjadi sasaran serangan buaya saat ia tengah berada di dalam air.
Peristiwa tersebut bermula ketika Maulana melihat sebatang kayu balok hanyut di tengah sungai. Berniat untuk mengambil kayu tersebut, ia melompat dari perahunya dan berenang menuju tengah aliran sungai. Namun, saat berada di air, teriakan histeris dari warga dan penumpang yang berada di dermaga menyadarkannya akan ancaman predator yang mengintai. Beruntung, nyawa Maulana berhasil diselamatkan setelah rekan sesama operator dengan sigap mengemudikan perahu untuk mengevakuasinya dari air sebelum buaya tersebut menjangkaunya.
Lokasi kejadian diketahui berada tepat di bawah bekas jembatan yang putus akibat bencana banjir bandang pada November 2025. Warga setempat menyatakan bahwa penampakan buaya di kawasan tersebut bukanlah hal baru. Dalam beberapa hari terakhir, dilaporkan terdapat dua hingga tiga ekor buaya yang kerap terlihat berjemur di sekitar muara alur kecil dekat lokasi penyeberangan yang menjadi akses vital bagi warga Kecamatan Sekerak dan Kecamatan Bandarpusaka.
Maulana menduga, perilaku reptil tersebut yang menjadi lebih agresif dan mendekati permukiman disebabkan oleh terganggunya habitat asli akibat aktivitas perburuan liar di wilayah hulu. Menanggapi situasi yang mengancam keselamatan warga ini, Camat Bandarpusaka, Cakra Agi Winapati, menegaskan pihaknya akan segera menyurati Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk menangani konflik antara warga dan satwa liar tersebut. Pemerintah setempat berharap BKSDA dapat segera melakukan pemetaan keberadaan satwa sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat agar ekosistem sungai tetap terjaga tanpa harus mengorbankan keselamatan jiwa penduduk. (*)









































