slot preparation.lsrs.lu

110 Hektare Hutan Produksi di Aceh Tamiang Dibabat untuk Sawit: Ketika Papan Larangan Dicabut dan Hukum Diuji

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 03:43 WIB

50363 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TAMIANG – Sekitar 110 hektare kawasan hutan produksi di Kampung Pusung Kapal, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, telah berubah dari hutan menjadi hamparan terbuka yang diduga disiapkan untuk perkebunan kelapa sawit. Angka itu bukan angka awal, melainkan hasil perluasan. Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Tujuh Aceh, Aang Kunaifi, menyebut luasan itu membengkak dari sebelumnya sekitar 60 hektare menjadi 110 hektare hanya dalam pemantauan sekitar satu bulan terakhir.

Kapan pembukaan itu terjadi? Mengutip pemantauan di lapangan, aktivitas berlangsung secara sistematis sejak Januari hingga September 2026. Artinya, pembabatan itu bukan insiden spontan, melainkan pekerjaan yang berjalan selama sembilan bulan di bawah hidung aparat pengawasan. Sebagian lahan yang telah dibuka bahkan sudah ditanami kelapa sawit.

Siapa yang bermain dan bagaimana negara merespons? Saat melakukan pengecekan dan penertiban, petugas KPH menemukan satu unit ekskavator di dalam kawasan hutan. Ratusan bibit kelapa sawit juga ditemukan, sebagian sudah tertanam. Yang paling telanjang menunjukkan pembangkangan adalah fakta bahwa papan imbauan resmi KPH yang berisi larangan membuka kawasan hutan ditemukan telah dicabut. Alat berat itu kemudian dikeluarkan dan dibawa ke kantor Datok Penghulu setempat, dan kasusnya dilaporkan ke Polres Aceh Tamiang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sinilah letak kritik kerasnya. KPH mengklaim telah memberikan peringatan agar aktivitas dihentikan, tetapi fakta di lapangan justru menunjukkan perluasan dari 60 hektare menjadi 110 hektare. Jika peringatan sudah diberikan, mengapa ekskavator masih bisa bekerja, bibit masih bisa ditanam, dan papan larangan negara bisa dicabut tanpa rasa takut? Ini bukan sekadar pelanggaran, ini adalah pesan bahwa hukum di kawasan hutan produksi di Seruway tidak ditakuti.

Pola ini adalah pola klasik perampasan hutan di Aceh. Dimulai dengan pembukaan kecil, dibiarkan, lalu meluas, lalu ditanami sawit, lalu kemudian diformalkan dengan berbagai dalih. Jika 110 hektare di Pusung Kapal bisa hilang dalam sembilan bulan, berapa ratus hektare lagi yang akan hilang dengan modus yang sama?

Pernyataan bahwa pengawasan akan diperketat dengan melibatkan Datok Penghulu dan bahwa masyarakat bisa mengajukan mekanisme perhutanan sosial adalah pernyataan normatif yang selalu berulang setiap hutan dibabat. Namun, ketika papan larangan saja dicabut, apa jaminannya pengawasan akan efektif?

Kasus Pusung Kapal tidak boleh berhenti pada laporan ke polisi dan pemindahan ekskavator ke kantor desa. Publik menunggu apakah Polres Aceh Tamiang akan mengungkap siapa pemilik modal di balik 110 hektare ini, siapa yang mendanai ekskavator dan ratusan bibit sawit itu. Karena jika tidak, yang terjadi adalah negara hanya memindahkan alat berat, sementara hutan tetap hilang untuk selamanya.

Berita Terkait

Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Aceh Tamiang, Getaran Terasa Hingga Gayo Lues
Warga Resah, Buaya Ganas Mulai Mengintai di Aliran Sungai Tamiang
Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang Terendam Banjir, Aktivitas Santri Lumpuh
Pembukaan 110 Hektare Hutan di Aceh Tamiang Tak Bisa Dibiarkan, Hukum Harus Bongkar Siapa Bekingnya
Pembukaan 110 Hektare Hutan Produksi di Aceh Tamiang Diduga untuk Sawit, Satu Ekskavator Diamankan
Pelayanan Gigi Keliling Polres Aceh Tenggara Curi Perhatian Ketua Umum Bhayangkari di Aceh Tamiang
Pemilik Mobil yang Terparkir di Jembatan Kuning Ditemukan Meninggal di Sungai
Pasokan Ayam MBG di Aceh Tamiang Belum Berizin, Standar Higienis Dipertanyakan

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 02:37 WIB

dr Tifa Didakwa Fitnah dan Pencemaran Nama Baik Terkait Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Jumat, 6 November 2026 - 02:33 WIB

Jokowi Tegaskan Tak Pernah Rekonstruksi Wajah Sejak 1985 di Sidang Kasus Fitnah Ijazah

Jumat, 6 November 2026 - 02:30 WIB

Polda Aceh Apresiasi Aksi Damai di Depan Kantor DPR Aceh Berjalan Tertib

Jumat, 6 November 2026 - 02:27 WIB

Mahfud MD Desak Polri Pecat Tidak Hormat Listyo Sigit, Sebut Ada Lambang Bangkai di Mabes Jika Tak Dipecat

Jumat, 6 November 2026 - 02:24 WIB

Bareskrim Ungkap Peran Kunci Irjen Slamet Uliandi Beri Restu Penyadapan dan Hapus File Sadapan Presiden

Jumat, 6 November 2026 - 02:21 WIB

Tiga Tersangka Kasus Penyadapan Presiden Ditahan di Mako Brimob, Satu Tersangka Sakit Pascastroke

Jumat, 6 November 2026 - 02:08 WIB

Debat Panas Warnai Sidang Kasus Ijazah, Tim Hukum Terdakwa Bersitegang dengan Jaksa

Jumat, 6 November 2026 - 02:04 WIB

Skandal Penyadapan Ilegal di Lingkaran Istana: Pengkhianatan Jabatan yang Ancam Stabilitas Negara

Berita Terbaru

GAYO LUES

Sanitasi, Rehab MCK TMMD ke-130 Hampir Rampung

Jumat, 6 Nov 2026 - 11:55 WIB