Suka Makmue : Harapan masyarakat Gampong Blang Baro Rambong, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, untuk kembali mengolah lahan persawahan yang selama bertahun-tahun terlantar mulai menemukan titik terang.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan rembuk tani bersama tokoh masyarakat, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), kelompok tani, serta unsur TNI dari Danki TP 856, yang digelar di Masjid Gampong Blang Baro Rambong, Senin malam, 7 September 2026.
Pertemuan tersebut membahas kesiapan masyarakat dalam menerima dan mendukung pelaksanaan kegiatan rehabilitasi sawah terlantar yang bersumber dari APBN.
Salah satu areal persawahan milik masyarakat di Gampong Blang Baro Rambong direncanakan menjadi bagian dari kegiatan rehabilitasi tersebut.
Suasana pertemuan berlangsung penuh antusias dan rasa syukur.
Masyarakat menyambut baik rencana rehabilitasi karena lahan persawahan mereka telah lama tidak dapat dimanfaatkan secara optimal akibat dampak bencana alam.
Bagi masyarakat, rencana rehabilitasi ini bukan sekadar membuka kembali lahan yang terlantar.
Lebih dari itu, program tersebut diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali aktivitas pertanian, memperkuat kebersamaan, serta mengembalikan semangat gotong royong masyarakat di tengah kehidupan persawahan.
Program rehabilitasi tersebut merupakan bagian dari program usulan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP).
Dalam pertemuan tersebut, Kepala DTPHP Kabupaten Nagan Raya, Marzuki, S.E., mengajak masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan kembali lahan persawahan yang selama ini terlantar.
Menurutnya, kembali ke sawah bukan hanya berbicara tentang produksi pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga memiliki nilai sosial dan religius yang kuat.
“Kita kembali lagi ke sawah.
Karena dengan kembali ke sawah, kita kembali mengharapkan keberkahan dan nilai religius di sawah. Dengan turun ke sawah, setidaknya kita kembali teringat atas jerih payah orang tua kita yang dahulu bersusah payah mencetak sawah dan mewariskannya kepada bapak-bapak semua.”
Marzuki juga mengingatkan bahwa sawah memiliki hubungan erat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat Aceh. Ketika masyarakat kembali turun ke sawah, berbagai tradisi kebersamaan yang selama ini melekat dalam kehidupan petani diharapkan dapat kembali tumbuh.
“Wate sigo-go ta troen u blang, tanyo teringat penulang ureung tuha ngen ka hanale.Dan Insyaallah ta tume kirem Al-Fatihah ku gopnyan.”
( Sekali kali kita turun ke sawah kita harus teringat kepada Masa nenek moyang kita yang sudah mendahului kita dan insyaallah kita sama sama kirem Doa ).
Ia menambahkan, dengan kembali berfungsinya lahan persawahan, diharapkan akan kembali lahir doa-doa keselamatan, rasa syukur dan harapan masyarakat melalui tradisi khanduri blang, abah lung, serta berbagai kegiatan sosial lainnya.
“Semoga suasana persatuan, kebersamaan dan gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat dapat hidup kembali seiring dengan aktifnya kembali lahan persawahan,” ujarnya.
Masyarakat Sambut Positif
Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Gampong Blang Baro Rambong, Ibnu Amin, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap program pemerintah tersebut.
Ia mengaku bersyukur karena masyarakat kembali mendapatkan harapan untuk memanfaatkan lahan sawah yang selama ini terlantar akibat bencana alam.
“Syukur Alhamdulillah, kami masyarakat Gampong Blang Baro Rambong sangat mengapresiasi serta mendukung penuh program Pemerintah Kabupaten Nagan Raya melalui Dinas Pertanian dalam mewujudkan kembali sawah kami yang sudah lama terlantar akibat bencana alam.”
Ibnu Amin berharap program rehabilitasi tersebut dapat direalisasikan sesuai dengan harapan masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi para petani.
“Semoga program dari Pemerintah Kabupaten Nagan Raya ini dapat terealisasi sesuai dengan yang diinginkan masyarakat Gampong Blang Baro Rambong.
Kami siap mendukung dan bersama-sama menjaga serta mengelola kembali lahan persawahan ini,” katanya.
Rembuk tani tersebut menjadi awal dari semangat baru masyarakat Blang Baro Rambong.
Sawah yang selama ini terdiam diharapkan kembali menghijau, aktivitas petani kembali bergeliat, dan roda perekonomian masyarakat kembali bergerak.
Dari sawah yang terlantar, tumbuh harapan baru. Dari kebersamaan, lahir kekuatan untuk kembali membangun pertanian dan kesejahteraan masyarakat. (*)









































