Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, Fadlullah, tampil mengambil peran penting dalam meredam kericuhan yang terjadi di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), saat memperingati 21 tahun Hari Damai Aceh. Kericuhan yang berlangsung di tengah kerumunan massa dan aparat keamanan ini bermula dari ketegangan berulang terkait pengibaran bendera Aceh, isu yang selalu mencuat setiap peringatan hari bersejarah seperti 15 Agustus dan 4 Desember.
Dalam suasana yang tegang tersebut, Fadlullah, yang juga dikenal sebagai mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), langsung hadir di lokasi. Ia turun dengan niat menenangkan massa yang mulai ricuh dan membawa berbagai benda keras. Tindakan cepat yang diambil Fadlullah didasari keinginan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung, sekaligus mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. “Saya hadir secara langsung untuk berdialog dan mencari solusi damai demi masyarakat Aceh,” ujarnya dalam video yang diunggah di kanal YouTube Serambi.com.
Situasi memanas sempat menyebabkan bentrokan yang membuat sejumlah warga diamankan aparat kepolisian. Menanggapi hal ini, Fadlullah langsung melakukan koordinasi intensif bersama Kapolda Aceh di lapangan. Ia meminta agar warga yang sempat diamankan dapat segera dibebaskan, sebagai bentuk komitmen menjaga kedamaian. “Kami sama-sama bagian dari rakyat Aceh, dan saya bertanggung jawab menjaga ketenangan daerah,” tambahnya.
Persoalan pengibaran bendera, menurut Fadlullah, merupakan isu klasik yang memerlukan penyelesaian menyeluruh antara Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat. Hal tersebut dinilai penting supaya ketegangan serupa tidak terus berulang dari tahun ke tahun. “Kami saat ini terus menjalin komunikasi intens dengan pemerintah pusat agar masalah ini tuntas, dan masyarakat Aceh tidak lagi harus menghadapi peristiwa seperti ini setiap peringatan hari damai,” jelasnya.
Fadlullah menekankan bahwa dialog adalah jalur utama untuk menyampaikan aspirasi, bukan melalui aksi yang dapat berujung konflik. Ia mengungkapkan harapan agar seluruh elemen masyarakat tetap menjaga perdamaian yang sudah terjalin selama lebih dari dua dekade. Menurutnya, perdamaian Aceh adalah aset penting yang mesti dirawat bersama, mencegah terjadinya bentrok antara masyarakat dan aparat yang sebenarnya merupakan bagian dari keluarga besar Aceh sendiri.
Kehadiran langsung Wakil Gubernur Aceh di tengah massa berhasil meredakan suasana, setidaknya hingga kegiatan peringatan selesai berlangsung dengan kondusif. Dari apa yang terjadi, terlihat bahwa pendekatan dialogis dan kehadiran pemimpin daerah di tengah masyarakat menjadi kunci utama menjaga situasi damai di Tanah Rencong. (*)







































