JAKARTA | Ketegangan terkait pengibaran bendera Bulan Bintang di Aceh kembali menjadi perhatian publik. Isu ini mendapat respons dari tokoh agama Habib Rizieq Shihab yang lewat ceramah terbaru menyoroti dinamika tersebut secara tajam. Dalam ceramah yang diunggah di kanal YouTube Pecinta Habaib, Habib Rizieq menilai bahwa kegaduhan yang terjadi di tingkat pemerintah pusat merupakan cerminan dari trauma masa lalu terhadap dinamika politik dan keamanan di wilayah Aceh.
Ia menyampaikan, pengibaran bendera Bulan Bintang seharusnya tidak otomatis dianggap sebagai simbol separatisme atau indikasi adanya ancaman konflik bersenjata baru di Aceh. Habib Rizieq mengingatkan pemerintah pusat agar melihat persoalan ini secara lebih bijak dan proporsional. “Pengibaran bendera daerah adalah amanat perjanjian damai, bukan tanda perlawanan kepada negara,” ucap Habib Rizieq menanggapi keriuhan yang belakangan muncul, sebagaimana terekam dalam video tersebut.
Dalam ceramah yang berdurasi sekitar satu jam itu, Habib Rizieq juga menekankan pentingnya komitmen untuk menuntaskan seluruh butir yang telah disepakati dalam Perjanjian Helsinki, yang menurutnya hingga kini belum seluruhnya diimplementasikan secara optimal. Salah satu poin utama yang masih tersendat, menurut Habib Rizieq, ialah hak Aceh untuk memiliki dan mengibarkan bendera sendiri, sebagaimana tertuang dalam kesepakatan damai. Ia menilai masalah tersebut masih terhambat oleh tarik-menarik kepentingan dan ego sektoral di antara pemerintah pusat dan daerah.
Selain isu bendera, Habib Rizieq turut mengkritisi ketimpangan bagi hasil kekayaan sumber daya alam Aceh yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi semangat perdamaian yang disepakati. “Keadilan bagi hasil migas dan komoditas lainnya harus dipenuhi, jangan sampai rakyat Aceh merasa dianaktirikan,” ujarnya.
Habib Rizieq lantas mengajak masyarakat Aceh untuk tetap menjaga persatuan dan mengedepankan peran sebagai pelopor pemberantasan korupsi dan perlawanan terhadap cengkeraman oligarki di tingkat nasional. Ia mengingatkan agar perjuangan Aceh tidak hanya terjebak pada narasi kemerdekaan yang sporadis, tetapi diarahkan pada upaya memperbaiki tata kelola dan keadilan sosial di tanah air.
Dalam bagian lain ceramah yang dikutip dari YouTube Pecinta Habaib, Habib Rizieq juga mengimbau para pemimpin Aceh, termasuk Gubernur Aceh, untuk tetap berpegang pada kepentingan rakyat dan menjaga kelestarian sumber daya alam dari pihak-pihak yang ingin mengeksploitasi secara berlebihan. Ia berharap seluruh dinamika di Aceh bisa diselesaikan melalui dialog yang konstruktif demi menjaga stabilitas dan kesejahteraan, tanpa harus kembali berujung pada konflik yang merugikan seluruh masyarakat. (*)







































