slot preparation.lsrs.lu

Rocky Gerung Sebut Polemik Ijazah Jokowi Hanya Perang Persepsi, Bukan Lagi Soal Bukti

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 5 Juli 2026 - 15:26 WIB

50470 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA |  Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo kembali menjadi fokus perdebatan panas publik, seiring pernyataan tajam dari Rocky Gerung yang dikutip dalam diskusi panjang pada kanal YouTube Indonesia Lawyers Club. Rocky, yang selama ini dikenal kritis dalam menyoroti isu-isu nasional, menilai bahwa kasus ijazah Jokowi kini bukan lagi sekadar soal keberadaan atau absennya dokumen, tapi sudah bergeser menjadi ajang perang persepsi politik yang kian terpolarisasi.

Rocky menyampaikan, pertarungan yang terjadi di ranah publik akhir-akhir ini sudah tak lagi mempertentangkan substansi berkas perkara. Menurutnya, publik kini lebih sibuk memperdebatkan gelagat yang melingkupi kasus tersebut. “Yang kita pertengkarkan dalam dua hari ini bukan lagi berkas perkara, tapi gelagat dari perkara ini,” ucap Rocky dalam kutipan yang diambil dari video diskusi tersebut, Jumat (5/7/2026).

Rocky menyoroti, setiap kali muncul istilah “orang kuat”, arah diskusi otomatis berpindah dari urusan fakta pada spekulasi gelagat politik. Ia juga secara lugas menyebut, penangguhan penahanan Roy Suryo dan Tifa, dua nama yang sempat terjerat kasus terkait dugaan ijazah ini, diduga kuat atas ‘restu’ langsung Presiden Jokowi. Menurut Rocky, Jokowi memilih jalan tersebut demi meredam potensi konflik horizontal yang bisa berakibat pada keretakan sosial di masyarakat. “Orang kuatnya adalah Joko Widodo,” katanya, sambil menambahkan narasi bahwa keputusan itu datang atas perhitungannya sendiri agar bangsa tidak pecah karena isu ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rocky juga menyentil, publik kadang terjebak pada persoalan kelengkapan dokumen tanpa melihat kapasitas berpikir sang pemimpin secara utuh. Ia melempar pertanyaan retoris, “Kalau ijazahnya hilang, apakah otaknya juga hilang?” Menurut Rocky, selama Jokowi dapat menunjukkan alasan yang runut, kemampuan berpikir yang logis, dan kebijakan yang berdampak, sebagian masyarakat sebenarnya tidak lagi terlalu peduli apakah ada ijazah secara fisik atau tidak.

Namun, Rocky Gerung mengingatkan, inti dari pertarungan dalam kasus ini adalah soal pengujian kapasitas nalar, bukan sekadar dokumen. “Yang sedang diuji adalah kapasitas berpikir dari hakim, pengacara, tim Jokowi, tim Roy Suryo tentang kasus ini,” kata Rocky, menyoroti bahwa polemik berkepanjangan akan menjadi semacam ujian toleransi dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi silang pendapat yang tak berujung.

Dalam paparan Rocky, perang yang terjadi di kasus ijazah Jokowi bukanlah perang hukum, perang senjata, apalagi perang data, melainkan lebih kepada perang persepsi. “Bukan untuk memenangkan kebenaran, tapi untuk memenangkan persepsi,” ujar Rocky. Ia bahkan dengan jenaka menyinggung kemungkinan dokumen ijazah hilang dan hanya tinggal berkasnya dijual di Pasar Pramuka, demi menunjukkan betapa absurdnya situasi ketika argumen sudah terjebak pada dugaan tanpa bukti kuat.

Rocky juga menggunakan analogi klasik tragedi Yunani untuk menjelaskan nasib tokoh-tokoh ‘orang kuat’, yang menurutnya justru sering berakhir buruk karena beban kekuasaan. Menurut Rocky, sejarah selalu menunjukkan bahwa kekuatan, baik secara politik maupun simbolik, mengandung risiko besar kegagalan jika hanya diandalkan semata.

Lebih jauh, Rocky menyinggung variabel-variabel lain yang membuat polemik ini tak kunjung selesai, mulai dari sentimen ekonomi hingga sentimen politik pengganti. Ia menilai, pada akhirnya isu seperti ijazah bisa berkelindan dengan isu lain seperti kenaikan harga dolar hingga program-program pemerintah seperti pemindahan ibu kota negara (IKN) yang menimbulkan beban ekonomi baru.

“Berhenti kasus Jokowi ijazah palsu, mak-mak merasa mau palsu, enggak palsu, yang penting dapur berasap. Polemik ini juga akan nyasar ke situ,” tegas Rocky, menyoroti bahwa kebutuhan masyarakat kecil jauh lebih nyata ketimbang hiruk-pikuk politik di level elite.

Rocky juga mengingatkan, keputusan di pengadilan belum tentu identik dengan kemenangan di mata publik. “Tetapi kalau misalnya Pak Jokowi menang di pengadilan, apakah dia menang di hati rakyat?” tanyanya, menyoroti dampak kekecewaan masyarakat yang merasa masalah ekonomi yang dialami saat ini berkaitan erat dengan kebijakan-kebijakan pemerintah.

Di ujung diskusi, Rocky mengajak semua pihak untuk tetap menggunakan akal sehat dan tidak mudah tersulut oleh konflik persepsi. Ia menggunakan perumpamaan tokoh-tokoh wayang seperti Bima, Kresna, hingga Semar dalam mengilustrasikan bahwa bangsa ini butuh lebih dari sekadar kekuatan atau kecerdasan, melainkan juga kebijaksanaan dan ketulusan dalam meredam polemik besar. “Semar bilang, ‘Demi keutuhan saya mengalah supaya kebenaran menang.’”

Dengan demikian, hingga hari ini, polemik ijazah Jokowi nampaknya belum akan selesai dalam waktu dekat, terutama jika perang persepsi terus menjadi dominan dalam narasi publik. Rocky Gerung menilai, selagi jalan hukum masih berproses, publik harus mampu menahan diri dan kembali memberi ruang pada logika serta akal sehat dalam memandang kasus yang telah menyerap atensi nasional ini. (*)

Berita Terkait

Polemik Bendera Aceh Berlarut, Anggota DPR Asal Aceh Ingatkan Ancaman Terhadap Perdamaian
Potensi Pemeriksaan Jokowi dalam Kasus Penyadapan Presiden Prabowo: Ujian Integritas Penegak Hukum
Menko Polkam Dudung Abdurachman Pastikan Stabilitas Nasional Tetap Aman di Tengah Kasus Dugaan Penyadapan Presiden
Jakarta Siaga 1, Dokumen Mobilisasi 20.980 Prajurit TNI AL ke Ibu Kota Beredar di Tengah Skandal Penyadapan Presiden
Istana Tegaskan Dugaan Penyadapan Ilegal Terhadap Presiden Prabowo Masuk Kategori Makar
Aksi Penurunan Foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sejumlah Lokasi
Foto Wapres Gibran Diturunkan Massa di DPRD Yogyakarta
SBY Kritik Keras Dugaan Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo dan Minta Politik Berkeadaban Dihidupkan Kembali

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 23:47 WIB

Polemik Bendera Aceh Berlarut, Anggota DPR Asal Aceh Ingatkan Ancaman Terhadap Perdamaian

Rabu, 4 November 2026 - 23:03 WIB

Potensi Pemeriksaan Jokowi dalam Kasus Penyadapan Presiden Prabowo: Ujian Integritas Penegak Hukum

Rabu, 4 November 2026 - 22:55 WIB

Menko Polkam Dudung Abdurachman Pastikan Stabilitas Nasional Tetap Aman di Tengah Kasus Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 4 November 2026 - 20:20 WIB

Istana Tegaskan Dugaan Penyadapan Ilegal Terhadap Presiden Prabowo Masuk Kategori Makar

Rabu, 4 November 2026 - 19:28 WIB

Aksi Penurunan Foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sejumlah Lokasi

Rabu, 4 November 2026 - 19:19 WIB

Foto Wapres Gibran Diturunkan Massa di DPRD Yogyakarta

Rabu, 4 November 2026 - 19:08 WIB

SBY Kritik Keras Dugaan Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo dan Minta Politik Berkeadaban Dihidupkan Kembali

Rabu, 4 November 2026 - 18:54 WIB

Polda Metro Jaya Siapkan Pengamanan Khusus Sidang Kasus Ijazah Jokowi

Berita Terbaru