SIMEULUE | Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Simeulue telah selesai digelar pada 20 Desember 2025. Meski sempat diwarnai dinamika pemilihan seperti perbedaan pilihan dan kompetisi antar calon, sejumlah elemen masyarakat mengajak warga untuk kembali mempererat tali persaudaraan dan menjaga ukhuwah Islamiah, demi mendorong keberlanjutan pembangunan desa.
Salah satu suara yang muncul dari kalangan muda datang dari Alwan Samri, aktivis yang aktif dalam gerakan sosial kemasyarakatan di Simeulue. Ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai kebersamaan usai proses demokrasi selesai berlangsung di tingkat desa. Menurutnya, Pilkades adalah ruang pembelajaran berdemokrasi yang sehat, bukan alasan untuk merenggangkan hubungan sosial yang selama ini sudah terpelihara dengan baik.
“Sebelumnya, kita ketahui bersama bahwa masyarakat Simeulue memiliki hati seperti ate fulawan, hati seperti emas. Kita juga memiliki budaya gotong royong dan saling menjaga yang sudah lama menjadi jiwa kita. Itu harus kita jaga,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia meyakini, perbedaan pilihan merupakan hal biasa dalam demokrasi. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat tetap menjaga hubungan sosial dan tidak terpecah akibat hasil pemilihan. Persatuan, menurutnya, tidak harus berarti kesamaan, melainkan kemampuan masyarakat untuk menghargai perbedaan dalam satu kesatuan tujuan: membangun desa.
“Kita bisa berbeda pendapat dan pilihan, tapi itu bukan alasan untuk berantakan atau membenci satu sama lain. Setiap suara berharga, dan setiap pilihan harus dihormati,” kata Alwan.
Alwan menuturkan, ia bersama sejumlah aktivis lokal lainnya telah berupaya membangun kesadaran publik tentang pentingnya menjaga persatuan, bahkan sebelum Pilkades dilaksanakan. Cara yang digunakan beragam, mulai dari diskusi kecil dengan mahasiswa hingga forum warga yang melibatkan pemuda dan tokoh masyarakat.
“Kita selalu mengadakan diskusi dengan beberapa mahasiswa, mengajak pemuda dan orang tua untuk berbicara tentang pentingnya Pilkades yang damai. Ini bagian dari ikhtiar kita untuk menciptakan suasana desa yang rukun,” ucapnya.
Ke depan, ia berharap persatuan dan semangat gotong royong yang sudah ditunjukkan masyarakat selama dan setelah Pilkades dapat menjadi fondasi kuat untuk pembangunan desa. Alwan menegaskan bahwa kepala desa yang terpilih harus didukung bersama demi kemajuan desa, tanpa melihat latar belakang pilihannya.
“Setelah kepala desa dipilih, kita butuh semua elemen—pemuda, pengusaha, tokoh masyarakat—bekerja bersama membangun infrastruktur, pendidikan, dan perekonomian desa. Tanpa persatuan, itu sulit dicapai,” tutupnya.
Diharapkan, semangat persaudaraan dan nilai-nilai lokal yang hidup di masyarakat Simeulue dapat menjadi modal sosial yang terus dijaga dan diwariskan, bukan hanya untuk menghadapi pesta demokrasi, melainkan juga sebagai pondasi kebersamaan dalam membangun masa depan yang lebih baik di tingkat desa. (*)




































