Salah Baca Kritik

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 4 Mei 2026 - 00:28 WIB

50227 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini
Penulis: Sri Radjasa (Pemerhati Intelijen)

Tagar #kaburajadulu dan narasi “Indonesia gelap” bukan sekadar riuh rendah media sosial. Ia adalah gejala sosial yang mencerminkan akumulasi kegelisahan, terutama dari generasi muda yang hidup di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan persepsi ketidakadilan yang belum terjawab. Dalam perspektif kajian komunikasi politik, fenomena ini dapat dibaca sebagai collective grievance expression, yakni luapan kekecewaan kolektif yang mencari saluran alternatif ketika ruang formal dianggap tidak lagi memadai.

Masalahnya bukan pada kemunculan tagar itu sendiri, melainkan pada cara kekuasaan membacanya. Respons yang cenderung defensif bahkan mengarah pada tudingan bahwa kritik tersebut direkayasa atau didanai pihak tertentuy justru memperlihatkan adanya jarak kognitif antara negara dan warganya. Dalam literatur demokrasi deliberatif ala Jürgen Habermas, ruang publik seharusnya menjadi arena pertukaran argumen rasional, bukan medan delegitimasi terhadap suara kritis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah politik Indonesia memberi pelajaran penting, dimana ketika kritik dibungkam atau direduksi sebagai ancaman, yang muncul bukan stabilitas, melainkan akumulasi ketidakpercayaan. Data dari berbagai survei nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap institusi negara sangat dipengaruhi oleh dua variabel utama, yaitu penegakan hukum yang adil dan kinerja ekonomi yang inklusif. Ketika kedua aspek ini dipersepsikan bermasalah, maka ekspresi kritik akan menemukan jalannya, termasuk melalui simbol-simbol digital seperti tagar.

Generasi muda hari ini tidak selalu berbicara dalam bahasa formal. Mereka menggunakan satire, ironi, dan viralitas sebagai medium ekspresi. Dalam kajian sosiologi digital, ini disebut sebagai networked expression, yakni bentuk komunikasi yang tidak linear, tetapi memiliki daya resonansi tinggi. Membaca “kabur” secara literal sebagai bentuk anti-nasionalisme adalah penyederhanaan yang keliru. Ia lebih tepat dipahami sebagai metafora atas menurunnya harapan terhadap kualitas tata kelola negara.

Di titik ini, pemerintah seharusnya hadir sebagai pendengar, bukan pembantah. Pendekatan deterrence, yang menempatkan kritik sebagai ancaman, hanya akan memperdalam trust deficit. Sebaliknya, pendekatan engagement membuka ruang dialog dan memperkuat legitimasi. Dalam konteks ini, kritik publik berfungsi sebagai early warning system yang memberi sinyal adanya masalah struktural yang perlu segera diperbaiki.

Filosofi kepemimpinan, menempatkan keadilan dan kepekaan sebagai inti kekuasaan. Pemimpin bukan hanya pengambil keputusan, tetapi juga penjaga rasa keadilan masyarakat. Ketika publik melihat adanya ketimpangan, baik dalam penegakan hukum maupun perilaku elite, maka legitimasi tidak lagi bertumpu pada jabatan, melainkan pada kepercayaan yang terus diuji.

Berbagai isu yang berkembang, mulai dari dugaan ketidakadilan hukum, kriminalisasi terhadap pihak tertentu, hingga sikap sebagian elite yang dinilai arogan, tidak bisa diselesaikan dengan penyangkalan. Ia membutuhkan klarifikasi terbuka, evaluasi kebijakan, dan langkah konkret yang dapat dirasakan publik. Tanpa itu, kritik akan terus berulang dalam bentuk yang mungkin lebih keras.

Tagar #kaburajadulu pada akhirnya adalah cermin. Ia mungkin tidak nyaman, tetapi mencerminkan realitas yang dirasakan sebagian masyarakat. Mengabaikannya sama dengan mengabaikan sinyal peringatan.
Dalam politik modern, kekuasaan yang mampu bertahan bukanlah yang paling kuat menahan kritik, melainkan yang paling adaptif dalam meresponsnya.

Jika kritik terus salah dibaca, maka yang terancam bukan hanya citra pemerintah, tetapi kualitas demokrasi itu sendiri. Sebab demokrasi yang sehat membutuhkan keberanian untuk mendengar, terutama dari suara-suara yang paling tidak nyaman.

Berita Terkait

Hambalang Boy, Dinasti Politik, dan Bom Waktu Transisi Elite
Gawat : Tem Gabungan di Lapas Kelas IIB Meulaboh, Petugas Temukan Senjata Tajam dan HP
Tanpa Pers Yang Bebas, Demokrasi Hanyalah Slogan. PWI Nagan Raya Ajak Jurnalis Jaga Integritas dan Profesionalisme
Belajar Memahami Anak di Hari Pendidikan Nasional
Hardiknas 2026: Momentum Aceh Melompat atau Tertinggal
Transformasi ‘Asabiyyah’ di Era Algoritmik dan Dampaknya Terhadap Polarisasi Sosial-Politik Indonesia
Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi
Kapolsek Kuala Berikan Bantuan Masa Panik Untuk Warga Korban Rumah Tertimpa Pohon Di Gunong Reubo

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 01:55 WIB

Kaliber: Tantang Kajati Aceh Bongkar Dugaan Skandal Dana Kapitasi,JKN dan BOK Kesehatan Aceh Tenggara

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:56 WIB

Gerak Cepat Resmob Agara! Pelaku Curanmor yang Resahkan Warga Berhasil Dibekuk dalam Ops Sikat

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:54 WIB

TIPIKOR : Desak Inspektorat Dan APH Usut Dana Ruti Dinas Pangan tahun 2025 dan awal 2026.Dugaan Ratusan juta Menguap

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:53 WIB

Dana Kapitasi dan JKN Dinas Kesehatan Aceh Tenggara di sinyalir sarat Manipulasi dan Korupsi

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:52 WIB

Drh Karnodi Selian M,MA, Plh, Dinas Pangan Agara Pacu Perbaikan dan Jaga Pangan Bebas Pestisida

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:20 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Kembali Bergerak Cepat, Pengedar Sabu di Lawe Bulan Dibekuk Bersama Barang Bukti

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:34 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Gagalkan Peredaran 13,35 Kg Ganja, Seorang Pemuda Diamankan di Ketambe

Rabu, 6 Mei 2026 - 22:04 WIB

PT. Hutama Karya Diminta Jangan Bayarkan Proyek Beronjong Gunakan Material Tanpa Izin

Berita Terbaru