Aceh Tenggara — Minggu, 21 Desember 2025.
Kepedulian dan empati kembali ditunjukkan oleh Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Kelautan) melalui kegiatan trauma healing bagi anak-anak yang terdampak banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Fokus utama kegiatan ini adalah membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak yang mengalami tekanan mental akibat bencana.
Kegiatan dipusatkan di Kecamatan Ketambe dan dipimpin langsung oleh dr. Wahyu Sulistya Affarah, Sp.KL(K) bersama para residen. Kehadiran tim medis ini bukan hanya membawa obat dan peralatan kesehatan, tetapi juga pendekatan kemanusiaan berbasis psikososial, yang sangat dibutuhkan anak-anak pascabencana ketika rasa aman mereka terguncang.
Sejak awal kegiatan, suasana hangat langsung terasa. Anak-anak dan warga menyambut antusias kedatangan para dokter. Interaksi langsung pun dilakukan—mulai dari menyapa, mendengarkan cerita, hingga memberi motivasi agar anak-anak kembali percaya diri dan berani menatap hari esok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk mencairkan suasana, para dokter mengajak anak-anak bernyanyi, bermain bersama, serta mengikuti games edukatif yang dirancang khusus untuk memicu tawa dan keceriaan. Perlahan, wajah-wajah cemas berubah menjadi senyum. Tawa anak-anak pun kembali terdengar, menjadi tanda awal pulihnya kondisi psikologis mereka.
Kegiatan trauma healing ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk nyata kehadiran tenaga medis di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit. Pendampingan seperti ini diharapkan mampu membantu anak-anak merasa lebih aman, tenang, dan siap kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa bayang-bayang trauma.
Dalam keterangannya, dr. Wahyu Sulistya Affarah, Sp.KL(K) menegaskan bahwa kegiatan trauma healing akan terus dilaksanakan di sejumlah titik lain yang terdampak banjir. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen PPDS Kedokteran Kelautan untuk mendampingi masyarakat Aceh Tenggara agar dapat pulih secara fisik maupun mental pascabencana.
Di tengah duka akibat banjir, upaya ini menjadi bukti bahwa sentuhan kemanusiaan mampu menyalakan kembali harapan—terutama bagi anak-anak, generasi penerus yang paling berharga.
Peliput : Zulkifli, S. Kom






































