HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Damai Aceh Yang Tak Sampai Ke Rakyat

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 26 Oktober 2026 - 05:19 WIB

5050 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini

Penulis : Sri Radjasa (Praktisi intelijen dan pemerhati kebangsaan )

Dua puluh satu tahun setelah Perjanjian Helsinki, pertanyaan lama kembali nyaring di Aceh: damai ini untuk siapa? Dana otonomi khusus telah mengalir lebih dari Rp 100 triliun. Aceh tetap bercokol di jajaran provinsi termiskin di Sumatera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akar soalnya ada pada tata kelola keuangan daerah. Eksekutif dan legislatif Aceh dinilai gagal mengurus anggaran. Korupsi disebut sudah dianggap lumrah, bahkan “fardu ain”, di lingkaran pejabat dan lembaga penegak hukum daerah. Penegakan hukum pun lemah karena sebagian aparat diduga ikut berebut proyek dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).

Dari Jakarta, kewenangan Aceh di sektor sumber daya alam yang dijamin Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) terus terkikis. Rakyat yang ingin keluar dari kemiskinan lewat koperasi tambang rakyat berulang kali terbentur: izin mereka mandek di meja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Sementara itu, karpet merah digelar untuk investor dan pemain besar tambang. Damai, dalam kacamata ini, lebih banyak dinikmati oligarki tambang, elite eksekutif-legislatif yang didominasi bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan aparat yang ikut “mengambil jatah”.

 

Di tengah kekayaan alam yang berlimpah, rakyat Aceh hanya menonton sinetron “Geutanyoe Mandum Meusyedara”—kita semua bersaudara—sambil terus dimiskinkan.

 

Kemiskinan itu menyuburkan kembali gagasan lama. Atjeh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) kini aktif lagi di luar negeri. Teriakan merdeka pun terdengar dari banyak kalangan, termasuk sejumlah ulama, bukan hanya dari bekas anggota GAM. Perlu dicatat, tuntutan itu kini dibungkus bukan sebagai separatisme, melainkan hak menentukan nasib sendiri (self-determination).

Argumen ini punya akar sejarah. Pada 25 Desember 1873, pasukan Belanda di bawah Jenderal Van Swieten menyerbu Aceh. Januari 1874, ia menyatakan Kesultanan Aceh telah dianeksasi dan dimasukkan ke Hindia Belanda. Hasan Tiro, pendiri GAM, menyebut tindakan itu melanggar hukum dekolonisasi dan hukum internasional. Rujukannya Resolusi Majelis Umum PBB 1514 (XV) dan 2625 (XXV): kedaulatan wilayah jajahan ada pada rakyatnya, tak bisa dialihkan dari satu penjajah ke penguasa lain, dan kekuasaan wajib dikembalikan kepada bangsa asalnya. Piagam PBB (pasal 1 ayat 2 dan pasal 55) menegaskan hak setiap bangsa menentukan nasibnya. Jadi, selama kesejahteraan tak kunjung datang, wacana ini akan terus punya pendengar.

Persoalannya kian ruwet di sektor migas. Pemerintah pusat, lewat Kementerian ESDM, memakai batas 12 mil laut untuk menegaskan kewenangannya atas Blok Andaman. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyatakan keberatan. Namun beredar informasi bahwa ia dan orang dekatnya diduga menerima imbalan dari Mubadala Energy. Informasi ini perlu diuji, dan pihak yang disebut layak dimintai tanggapan.

Fakta lain lebih mudah dicek. Mawardi Nur, yang disebut sepupu orang dekat Muzakir, kini memimpin Badan Pengelola Migas Aceh. Putra Muzakir, Sunnyl Iqbal, menjabat komisaris utama PT Pema Global Energi. Penempatan orang-orang dekat di posisi strategis menjelang pengelolaan Blok Andaman dan Blok Arun menimbulkan kesan bahwa yang dikejar adalah bagian kue, bukan kemakmuran  rakyat. Kritik juga datang soal keseringan sang gubernur berada di Malaysia, dan pelantikan sekretaris daerah yang digelar di Medan, bukan di Banda Aceh.

Pemerintah pusat semestinya mengkaji ulang kebijakannya di Aceh, yang telah melebarkan kesenjangan ekonomi. Penyaluran dana otonomi khusus perlu direncanakan dan diawasi lebih ketat agar tak jadi bancakan pejabat. Kinerja penegakan hukum di Aceh harus dievaluasi, sebab kelemahannya membuka ruang korupsi sistemik, termasuk di lembaga hukum itu sendiri. Mempermudah izin koperasi tambang rakyat bisa menjadi jalan tercepat mengangkat ekonomi warga.

 

Kepada Presiden Prabowo Subianto: bila ingin matahari Indonesia terus terbit di atas Seulawah, jalankan program kesejahteraan rakyat secara konsekuen dan hadirkan damai yang menyentuh rakyat kecil. Gagasan successor state—negara penerus—yang dirumuskan Hasan Tiro, dan lembaga Wali Nanggroe yang dianggap kelanjutan kedaulatan Kesultanan Aceh, menunjukkan bahwa gagasan merdeka belum pernah benar-benar padam.

Berita Terkait

Jamaluddin Idham Sambangi Simeulue, Lepas Rindu dengan Kader PDI Perjuangan dan Serap Aspirasi Rakyat
Temui Nelayan di Sabang, Jamaluddin Idham Siap Perjuangkan Aspirasi hingga ke Pemerintah Pusat
Demi Kemajuan Gampong, Blang Baro Rambong Gelar Musyawarah Pemilihan Tuha Peut
Tebar Kebaikan di Hari Jumat, Brimob Polda Aceh Pererat Silaturahmi dengan Jamaah Masjid Baiturrahim
Pemkab Nagan Raya Bantu Dua Keluarga Korban Kebakaran di Tripa Makmur
Nagan Raya Gelar Diklatsar TAGANA Pertama di Tingkat Kabupaten/Kota se-Aceh
Perkuat Silaturahmi Lewat Radio, Arafik Karim Resmi Gunakan Callsign JZ.01.BBD
Bupati TRK diwakili Wabup Raja Sayang Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 04:06 WIB

18 Alat Berat dari Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pusat Dikirim Rusak ke Aceh Tenggara, Pemulihan Bencana Dipermainkan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Kapolres Aceh Tenggara diwakili Wakapolres Hadiri Kegiatan Minggu Kasih di HKBP Maranatha,, Ajak Jemaat Jaga Kamtibmas

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:15 WIB

Pengurus Baitul Mal Aceh Tenggara Enam Bulan Belum Gajian

Minggu, 25 Oktober 2026 - 00:39 WIB

Kematian Kilat Buron Lapas Kutacane Setelah Ditangkap, Ada Apa di Balik Penjemputan Itu?

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:57 WIB

Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah IWarga Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Setelah Setahun Lebih Buron, Ishak alias Icak yang Kabur dari Lapas Kutacane Ditangkap di Kamar Rumahnya Sendiri

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 17:43 WIB

Kapolres Aceh Tenggara diwakili Wakapolres, Terjun Langsung Laksanakan Strong Point Bersama Personel

Berita Terbaru

OPINI

Damai Aceh Yang Tak Sampai Ke Rakyat

Senin, 26 Okt 2026 - 05:19 WIB