Aceh Tenggara, 21 Desember 2025, Matahari belum sepenuhnya terbit ketika deru mesin motor trail memecah kesunyian pagi di Aceh Tenggara. Wilayah yang biasanya hijau kini berubah menjadi hamparan air cokelat pekat—jejak amukan banjir yang menyisakan luka, sekaligus harapan.
Sebagai bagian dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Kelautan, tim relawan yang dipimpin dr. Wahyu Sulistya Affarah, Sp.KL(K) bersama para residen hadir bukan sekadar membawa obat dan perban. Mereka membawa keahlian khusus dalam manajemen kesehatan di lingkungan yang didominasi air—di saat banjir mengubah wajah desa, akses, dan risiko kesehatan warga.
Menembus Arus, Menjaga Harapan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Banjir kali ini bukan sekadar genangan. Arus deras bercampur material dari pegunungan menciptakan ancaman serius: hipotermia, luka akibat puing, hingga penyakit berbasis air. Dengan motor trail, tim menyisir desa-desa terisolasi, menembus rawa dan jalur berlumpur demi memastikan pertolongan pertama menjangkau mereka yang paling rentan.

Diagnosis di Atas Punggung Air
Di posko kesehatan darurat, lonjakan kasus khas lingkungan air tak terelakkan. Tim menangani:
- Dermatitis dan infeksi jamur, akibat paparan air banjir yang terkontaminasi dalam waktu lama.
- Ancaman leptospirosis, seiring meningkatnya risiko zoonosis saat debit air naik.
- Trauma lingkungan, dari luka sayat kayu dan puing yang terbawa arus ke pemukiman.
Sebagai spesialis kedokteran kelautan, tim juga memantau kualitas air dan sanitasi pengungsian, langkah krusial untuk mencegah merebaknya penyakit tular air (water-borne diseases).

Sisi Kemanusiaan yang Mendalam
Di balik jas lab dan alat medis, ada kisah-kisah yang menggugah. Cerita kehilangan rumah, pelukan orang tua pada anaknya, hingga senyum anak-anak yang tetap bermain di tengah genangan—semuanya menjadi pengingat makna pengabdian. Kedokteran kelautan bukan hanya soal laut dan navigasi, tetapi menjaga martabat manusia yang hidup berdampingan dengan kekuatan alam dan risiko bencana.

Pengabdian Tanpa Batas
Malam hari ditutup dengan evaluasi tim. Lelah fisik terbayar oleh nyawa yang terselamatkan dan wabah yang berhasil dicegah. Bagi seorang PPDS Kedokteran Kelautan, Aceh Tenggara bukan sekadar medan praktik—melainkan ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan dan ketulusan hati, tempat harapan tetap menyala meski air belum sepenuhnya surut.
Peliput: Zulkifli, S. Kom






































