Kepala SDN Lawe Bekung Klarifikasi Isu Pekerja Tanpa APD: Alat Disediakan, Pekerja Menolak Memakai

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 28 September 2025 - 19:03 WIB

50258 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane, Baranews  Proyek revitalisasi gedung SD Negeri Lawe Bekung di Kecamatan Lawe Bekung, Kabupaten Aceh Tenggara senilai Rp411 juta menuai sorotan publik. Hal ini dipicu oleh beredarnya informasi dan pemberitaan yang menyebut para pekerja di proyek tersebut tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja.

Tudingan tersebut langsung dibantah oleh Kepala Sekolah SDN Lawe Bekung, Jus, selaku penanggung jawab lapangan. Dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (28/9/2025), ia menegaskan bahwa seluruh peralatan keselamatan seperti helm, rompi, dan sepatu kerja telah disediakan. Namun demikian, para pekerja enggan menggunakannya karena merasa tidak nyaman.

“Alat pelindung seperti helm dan sepatu proyek sebenarnya lengkap tersedia di lokasi. Tapi memang beberapa pekerja enggan memakainya karena merasa risih dan tidak terbiasa. Bahkan ada yang menyebut takut jatuh jika memakai sepatu proyek,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagaimana diketahui, penggunaan APD adalah syarat wajib dalam setiap kegiatan konstruksi infrastruktur, terlebih lagi dalam proyek yang bersumber dari dana pemerintah. Informasi terkait tidak digunakannya APD oleh para pekerja sempat ramai dibicarakan warganet setelah tayangan video dan pemberitaan sejumlah media daring menyebar di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Direktur LSM Green Mountain Aceh Tenggara, Sadikin SH, mengimbau agar publik tidak terburu-buru menilai. Ia meminta media untuk tetap menjaga prinsip jurnalistik yang berimbang dan menghindari pemberitaan yang tendensius.

“Setiap pemberitaan harus mengedepankan asas keberimbangan dan cek fakta. Pers bukan pihak yang menghukum, tetapi sebagai kontrol sosial yang bekerja berdasarkan etika dan aturan,” tegasnya.

Sadikin juga menekankan bahwa fenomena maraknya jurnalis berbasis LSM yang aktif menyoroti proyek-proyek di daerah harus dibarengi dengan pemahaman atas fungsi pers sebagai edukator, bukan sebagai alat tekanan yang berujung pada pemerasan atau kriminalisasi opini.

Di sisi lain, Kepala SDN Lawe Bekung menyebut bahwa proyek revitalisasi yang sedang berlangsung saat ini masih dalam tahap pengerjaan dan belum menerima pencairan dana dari pusat.

“Sampai sekarang proyek baru capai 75 persen, dan dana dari pusat juga belum cair. Kami menggunakan dana pribadi lebih dulu demi kelangsungan proyek. Tujuan kami cuma satu: memperbaiki sekolah agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama proses berlangsung, dirinya beberapa kali menerima permintaan dana dari sejumlah oknum wartawan. Dengan itikad baik, ia sempat memberikan bantuan secara pribadi sebagai bentuk apresiasi atas dukungan media, namun kemudian merasa keberatan karena permintaan kian meningkat.

“Awalnya saya bantu seratus ribu, dua ratus ribu, bahkan sampai Rp800 ribu saya keluarkan secara pribadi. Tapi kemudian ada yang datang minta sampai lima juta rupiah. Saat itu saya hanya pegang uang Rp2 ribu, karena sisanya habis buat kebutuhan tukang di lapangan,” keluhnya.

Ia menegaskan, keterbatasan anggaran membuat dirinya tidak bisa memenuhi seluruh permintaan. Dirinya berharap setiap pihak bisa memahami kondisi di lapangan, serta tidak menjadikan proyek pendidikan sebagai bahan tekanan atau komoditas pemberitaan yang merugikan.

“Dari Jakarta sampai Aceh Tenggara, kami urus semua ini pakai biaya sendiri. Revitalisasi ini adalah proyek dari pusat, dilaksanakan secara swakelola oleh kepala sekolah. Kami hanya ingin anak-anak kami dapat tempat belajar yang layak,” pungkasnya.

Kepala sekolah juga mengajak semua pihak, baik media, LSM, maupun masyarakat, untuk duduk bersama menjaga keharmonisan serta mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ada demi kelancaran pembangunan di bidang pendidikan. (Sadikin)

Berita Terkait

Belanja Anggaran Pembangunan Infrastruktur Aceh Tenggara Capai 29 Persen, Kepala BPKD Tegaskan Transparansi
Yahdi Hasan Apresiasi Pengabdian Tepian Negeri Chapter 4 Aceh Tenggara
Subuh Keliling dan Jumat Curhat, Kapolres Aceh Tenggara Bangun Kedekatan Bersama Warga Semadam
Tak Sekadar Apel, Kapolres Aceh Tenggara Cek Langsung Kesiapan Polsek Badar Pastikan Siap Layani Masyarakat
Dinsos Aceh Tenggara Pastikan Bantuan Banjir Disalurkan Transparan dan Tepat Sasaran
Dinsos Aceh Tenggara Borong Penghargaan di HUT Kabupaten ke-51
Pastikan Program Berjalan Optimal, Kapolres Aceh Tenggara Tinjau Dua SPPG Yayasan Kemala Bhayangkari
Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Anev Mingguan, Evaluasi Kinerja dan Perkuat Kesiapsiagaan Jajaran

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Siswa SMAN Unggul Binaan Bener Meriah Diduga Dikeroyok Kakak Kelas, Korban Dirawat di Rumah Sakit

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:13 WIB

Perempuan di Aceh Utara Didakwa Jadi Perantara Pembelian Sabu, Persidangan Digelar di PN Lhoksukon

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:57 WIB

Dua Kurir Ganja 93 Kilogram Asal Aceh Ditangkap di Medan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

Mahkamah Agung Terbitkan Pedoman Baru, Putusan Bebas Tidak Bisa Diajukan Banding atau Kasasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:43 WIB

Polresta Banda Aceh Tetapkan MA Tersangka Dugaan Pemerkosaan Anak Tiga Tahun

Kamis, 20 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Satreskrim Polres Nagan Raya Pasang Spanduk Imbauan, Cegah Penambangan Tanpa Izin

Kamis, 20 Agustus 2026 - 16:09 WIB

Temu Ramah dengan Insan Pers, Kapolres Gayo Lues: Saya Merasa Seperti Pulang ke Kampung Sendiri

Kamis, 20 Agustus 2026 - 06:44 WIB

Dokter Tifa Sesalkan Sikap Kejaksaan yang Abaikan Putusan Pengadilan dalam Sidang Praperadilan

Berita Terbaru