ACEH TENGGARA | Debu kembali menjadi “tamu” harian warga Desa Kuning I, Kecamatan Bambel, Aceh Tenggara. Jalan yang belum kunjung diaspal membuat kendaraan melintas di atas permukaan berkerikil, meninggalkan kepulan debu yang masuk ke rumah, warung, dan ruang usaha warga. Minggu(30/08/2026).
Warga menilai pelaksanaan pekerjaan jalan oleh pihak terkait, termasuk BPJN 3.5, terkesan tidak profesional karena dampak lanjutan terhadap masyarakat tidak ikut dipikirkan.
Ketua BPK Desa Kuning I, M. Rasid Reda, yang akrab disapa Tengku Mbelin, mengatakan warga sudah cukup lama menghadapi persoalan tersebut.
“Debu berterbangan setiap hari. Masyarakat yang tinggal di sekitar jalan harus menghirupnya, sementara pedagang juga kesulitan karena pembeli enggan berhenti akibat kondisi jalan,” kata Rasid.
Menurut dia, pekerjaan jalan semestinya tidak berhenti pada pengerasan. Tahapan pekerjaan perlu dipastikan berjalan hingga jalan benar-benar layak digunakan masyarakat.
“Kalau jalan belum diaspal, akibatnya bukan hanya debu. Pedagang kehilangan pembeli, rumah warga kotor, kesehatan terganggu, dan pengguna sepeda motor juga terancam jatuh,” ujarnya.
Di lokasi, material kerikil masih terlihat di sejumlah bagian badan jalan. Ketika kendaraan melintas, debu terangkat dan menyelimuti ruas jalan. Kondisi tersebut membuat pengendara roda dua harus memperlambat laju kendaraan.
Rasid mempertanyakan perencanaan pekerjaan yang menurutnya belum memperhitungkan kenyamanan masyarakat selama proses pembangunan.
“BPJN jangan hanya memikirkan pekerjaan selesai secara administrasi. Dampaknya kepada masyarakat juga harus dipikirkan. Jangan sampai warga yang menanggung akibatnya,” kata dia.
Warga meminta BPJN 3.5 segera memberikan kejelasan mengenai jadwal pengaspalan dan memastikan pekerjaan diselesaikan sesuai standar.
Sebab bagi masyarakat Kuning I, jalan bukan sekadar proyek. Jalan adalah akses warga untuk bekerja, berdagang, bersekolah, dan menjalankan kehidupan sehari-hari. (Tim)






































