BLANGKEJEREN — Penyelidikan kasus kematian dr. Shanti Hastuti di Desa Raklunung, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, terus bergulir. Di tengah proses itu, sebuah foto kebersamaan korban bersama rekan-rekannya menjadi sorotan sebagai momen terakhir sebelum tragedi terjadi.
Dilangsir dari media Berita Merdeka Poto terahir dr. Shanti momen buka puasa, Dalam foto yang diambil saat acara buka puasa bersama pada 28 Februari 2026, dr. Shanti tampak tersenyum di antara teman seangkatannya. Ia mengenakan rok merah bermotif bunga dan kacamata, berdiri berdampingan dengan enam rekannya di sebuah lokasi bernuansa alam terbuka. Suasana hangat dan penuh keakraban dalam foto itu kini menyisakan duka mendalam bagi orang-orang terdekatnya.
Beberapa waktu setelah momen tersebut, kabar duka datang. Warga sekitar rumah korban mulai curiga setelah mencium bau menyengat yang berasal dari dalam rumah. Kecurigaan itu kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mendapat laporan tersebut, tim dari Satuan Reserse Kriminal Polres Gayo Lues langsung menuju lokasi untuk melakukan pengecekan. Saat memasuki rumah, petugas menemukan jasad korban di kamar lantai dua dalam kondisi telah membusuk.
Korban ditemukan terlentang di atas ranjang. Dari hasil pemeriksaan awal di tempat kejadian perkara, kedua tangan korban terikat ke belakang menggunakan kabel listrik dan mulutnya tersumpal kain.
Polisi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi jasad untuk keperluan autopsi. Hingga kini, hasil autopsi masih dinantikan guna memastikan penyebab pasti kematian.
Kepolisian juga mengimbau masyarakat yang memiliki informasi atau pernah melihat hal mencurigakan di sekitar kediaman korban agar segera melapor. Keterangan dari warga dinilai dapat membantu mempercepat pengungkapan kasus.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga masyarakat yang mengenal sosok dr. Shanti sebagai tenaga medis yang berdedikasi. Sementara itu, harapan akan terungkapnya fakta di balik kematian korban terus dinantikan.
(*)










































