slot preparation.lsrs.lu

Demagogi: Ketika Politik Memainkan Ketakutan dan Kebencian Massa

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 13 Juli 2026 - 14:00 WIB

50312 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Novita Sari Yahya

Ketika membaca berbagai narasi politik dan meme yang beredar hari ini, saya teringat kembali pada istilah demagogi. Dalam sejarah politik, demagogi menjadi salah satu fenomena yang menunjukkan bagaimana kekuatan kata-kata dapat digunakan untuk menggerakkan massa, tetapi juga dapat menjadi alat berbahaya ketika digunakan untuk mengeksploitasi ketakutan, kemarahan, dan kebencian.

Masyarakat Indonesia memiliki sejarah panjang dalam dinamika politik dan perdebatan sosial. Fenomena tentang kehidupan politik, karakter masyarakat, serta hubungan antara rakyat dan kekuasaan juga banyak dicatat oleh para jurnalis dan pemikir Indonesia, termasuk Rosihan Anwar melalui berbagai tulisan dan catatan sejarahnya mengenai perjalanan bangsa Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari ini, ruang media dan media sosial sering dipenuhi oleh perdebatan politik yang sangat intens. Hampir semua orang dapat menjadi komentator dan pengamat terhadap berbagai isu. Namun, kebebasan berbicara yang tidak disertai literasi politik dapat menyebabkan berkembangnya opini tanpa dasar, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, serta narasi yang lebih mengutamakan emosi dibandingkan fakta.

Di sinilah demagogi menjadi penting untuk dipahami. Demagogi bukan sekadar kemampuan berbicara dengan menarik di depan publik. Demagogi adalah cara memengaruhi massa dengan memainkan emosi kolektif, membangun rasa takut, menciptakan musuh bersama, serta mengeksploitasi prasangka yang sudah ada dalam masyarakat.

Sejarah dunia memberikan contoh paling terkenal mengenai bahaya demagogi melalui perjalanan politik Adolf Hitler (1889–1945), pemimpin Partai Nazi (Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei/NSDAP) yang kemudian dikenal dengan gelar Führer, yaitu pemimpin tertinggi Jerman Nazi.

Hitler naik ke tampuk kekuasaan pada masa Jerman mengalami krisis ekonomi, ketidakstabilan politik, serta trauma akibat kekalahan dalam Perang Dunia I dan dampak Perjanjian Versailles. Melalui pidato yang penuh emosi, propaganda besar-besaran, nasionalisme ekstrem, serta janji untuk mengembalikan kejayaan Jerman, Hitler berhasil memperoleh dukungan dari sebagian masyarakat yang mengalami kekecewaan dan ketidakpastian.

Namun, di balik retorika tentang kebangkitan bangsa, rezim Nazi membangun kekuasaan melalui politik ketakutan, penindasan terhadap lawan politik, diskriminasi rasial, dan ideologi supremasi ras Arya. Nazisme Jerman, sebagai bentuk khusus dari fasisme, menjadikan propaganda dan kebencian terhadap kelompok tertentu sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Pada akhirnya, politik yang dibangun melalui kebencian membawa Jerman menuju kehancuran. Perang Dunia II menyebabkan jutaan korban jiwa dan menghancurkan sebagian besar wilayah Eropa. Kekuatan militer Jerman Nazi melalui organisasi Wehrmacht, yang pada awal perang memiliki kemampuan tempur sangat kuat, akhirnya mengalami kekalahan akibat berbagai faktor, termasuk keputusan strategis Hitler, perang di berbagai front, keterbatasan sumber daya, serta perlawanan negara-negara Sekutu.

Tragedi Jerman Nazi menjadi pelajaran bahwa kemenangan politik yang diperoleh melalui manipulasi emosi massa tidak selalu menghasilkan kejayaan. Kekuasaan yang dibangun dengan kebencian sering kali berakhir dengan kehancuran bagi bangsa itu sendiri.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa demagogi tidak hanya terjadi pada satu negara atau satu masa. Pola yang sama dapat muncul dalam berbagai bentuk politik ekstrem ketika seorang pemimpin menggunakan rasa takut, ancaman, dan kebencian sebagai modal untuk memperoleh dukungan.

Demagogi menjadi berbahaya karena tidak membutuhkan gagasan besar untuk berkembang. Ia hanya membutuhkan emosi yang mudah dipancing: kemarahan, ketakutan, prasangka, dan keinginan untuk menemukan pihak yang dianggap sebagai penyebab masalah.

Di era digital, tantangan ini semakin besar. Media sosial mampu mempercepat penyebaran pesan-pesan emosional yang sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan fakta dan analisis rasional.

Karena itu, demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Demokrasi bukan hanya tentang kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga tanggung jawab untuk memeriksa informasi, menghargai perbedaan, dan menolak politik yang menjadikan kebencian sebagai alat kekuasaan.

Sejarah Adolf Hitler dan Jerman Nazi mengingatkan dunia bahwa demagogi mungkin mampu memenangkan dukungan dalam waktu singkat, tetapi politik yang dibangun di atas ketakutan dan kebencian dapat membawa sebuah bangsa menuju tragedi besar.

Daftar Referensi

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Evans, Richard J. (2005). The Third Reich in Power. London: Penguin Books.

Kershaw, Ian. (1998). Hitler: Hubris 1889–1936. London: Penguin Books.

Kershaw, Ian. (2000). Hitler: Nemesis 1936–1945. London: Penguin Books.

Merriam-Webster. (t.th.). Demagogue. Dalam Merriam-Webster.com Dictionary.

Paxton, Robert O. (2004). The Anatomy of Fascism. New York: Alfred A. Knopf.

United States Holocaust Memorial Museum. (t.th.). Adolf Hitler and Nazi Germany. Holocaust Encyclopedia.

Berita Terkait

LSM ABA Dukung Kapolri Usut Tuntas Dugaan Penyadapan Presiden, Suryadi: Jangan Ada yang Kebal Hukum!
Pererat Kemitraan dengan Forkopimda dan Lintas Sektor, PWI Nagan Raya Gelar Makan Siang Bersama
Kapolres Nagan Raya Berikan Penghargaan kepada 63 Personel Berprestasi, Apresiasi Dedikasi dan Kinerja dalam Pelaksanaan Tugas
Jamaluddin Idham Raih Penghargaan JAB Award 2026 sebagai Wakil Rakyat Responsif dan Aspiratif
Dekat dengan Masyarakat, Brimob Kompi 2 Batalyon C Pelopor Tebar Kebaikan di Nagan Raya
Temui Nelayan Gosong Telaga Aceh Singkil, Jamaluddin Idham: Suara Masyarakat Pesisir Harus Didengar dan Diperjuangkan
Masjid Giok Jadi Pusat Peringatan Milad GAM ke-50 di Nagan Raya
Sambangi Petani di Sawah, Jamaluddin Idham Siap Perjuangkan Alsintan dan Infrastruktur Pertanian Simeulue

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 23:03 WIB

Potensi Pemeriksaan Jokowi dalam Kasus Penyadapan Presiden Prabowo: Ujian Integritas Penegak Hukum

Rabu, 4 November 2026 - 22:55 WIB

Menko Polkam Dudung Abdurachman Pastikan Stabilitas Nasional Tetap Aman di Tengah Kasus Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 4 November 2026 - 22:37 WIB

Jakarta Siaga 1, Dokumen Mobilisasi 20.980 Prajurit TNI AL ke Ibu Kota Beredar di Tengah Skandal Penyadapan Presiden

Rabu, 4 November 2026 - 19:28 WIB

Aksi Penurunan Foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sejumlah Lokasi

Rabu, 4 November 2026 - 19:19 WIB

Foto Wapres Gibran Diturunkan Massa di DPRD Yogyakarta

Rabu, 4 November 2026 - 19:08 WIB

SBY Kritik Keras Dugaan Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo dan Minta Politik Berkeadaban Dihidupkan Kembali

Rabu, 4 November 2026 - 18:54 WIB

Polda Metro Jaya Siapkan Pengamanan Khusus Sidang Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 4 November 2026 - 18:48 WIB

Skandal Penyadapan Ilegal Guncang Institusi Kepolisian

Berita Terbaru