Demagogi: Ketika Politik Memainkan Ketakutan dan Kebencian Massa

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 13 Juli 2026 - 14:00 WIB

50242 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Novita Sari Yahya

Ketika membaca berbagai narasi politik dan meme yang beredar hari ini, saya teringat kembali pada istilah demagogi. Dalam sejarah politik, demagogi menjadi salah satu fenomena yang menunjukkan bagaimana kekuatan kata-kata dapat digunakan untuk menggerakkan massa, tetapi juga dapat menjadi alat berbahaya ketika digunakan untuk mengeksploitasi ketakutan, kemarahan, dan kebencian.

Masyarakat Indonesia memiliki sejarah panjang dalam dinamika politik dan perdebatan sosial. Fenomena tentang kehidupan politik, karakter masyarakat, serta hubungan antara rakyat dan kekuasaan juga banyak dicatat oleh para jurnalis dan pemikir Indonesia, termasuk Rosihan Anwar melalui berbagai tulisan dan catatan sejarahnya mengenai perjalanan bangsa Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari ini, ruang media dan media sosial sering dipenuhi oleh perdebatan politik yang sangat intens. Hampir semua orang dapat menjadi komentator dan pengamat terhadap berbagai isu. Namun, kebebasan berbicara yang tidak disertai literasi politik dapat menyebabkan berkembangnya opini tanpa dasar, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, serta narasi yang lebih mengutamakan emosi dibandingkan fakta.

Di sinilah demagogi menjadi penting untuk dipahami. Demagogi bukan sekadar kemampuan berbicara dengan menarik di depan publik. Demagogi adalah cara memengaruhi massa dengan memainkan emosi kolektif, membangun rasa takut, menciptakan musuh bersama, serta mengeksploitasi prasangka yang sudah ada dalam masyarakat.

Sejarah dunia memberikan contoh paling terkenal mengenai bahaya demagogi melalui perjalanan politik Adolf Hitler (1889–1945), pemimpin Partai Nazi (Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei/NSDAP) yang kemudian dikenal dengan gelar Führer, yaitu pemimpin tertinggi Jerman Nazi.

Hitler naik ke tampuk kekuasaan pada masa Jerman mengalami krisis ekonomi, ketidakstabilan politik, serta trauma akibat kekalahan dalam Perang Dunia I dan dampak Perjanjian Versailles. Melalui pidato yang penuh emosi, propaganda besar-besaran, nasionalisme ekstrem, serta janji untuk mengembalikan kejayaan Jerman, Hitler berhasil memperoleh dukungan dari sebagian masyarakat yang mengalami kekecewaan dan ketidakpastian.

Namun, di balik retorika tentang kebangkitan bangsa, rezim Nazi membangun kekuasaan melalui politik ketakutan, penindasan terhadap lawan politik, diskriminasi rasial, dan ideologi supremasi ras Arya. Nazisme Jerman, sebagai bentuk khusus dari fasisme, menjadikan propaganda dan kebencian terhadap kelompok tertentu sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Pada akhirnya, politik yang dibangun melalui kebencian membawa Jerman menuju kehancuran. Perang Dunia II menyebabkan jutaan korban jiwa dan menghancurkan sebagian besar wilayah Eropa. Kekuatan militer Jerman Nazi melalui organisasi Wehrmacht, yang pada awal perang memiliki kemampuan tempur sangat kuat, akhirnya mengalami kekalahan akibat berbagai faktor, termasuk keputusan strategis Hitler, perang di berbagai front, keterbatasan sumber daya, serta perlawanan negara-negara Sekutu.

Tragedi Jerman Nazi menjadi pelajaran bahwa kemenangan politik yang diperoleh melalui manipulasi emosi massa tidak selalu menghasilkan kejayaan. Kekuasaan yang dibangun dengan kebencian sering kali berakhir dengan kehancuran bagi bangsa itu sendiri.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa demagogi tidak hanya terjadi pada satu negara atau satu masa. Pola yang sama dapat muncul dalam berbagai bentuk politik ekstrem ketika seorang pemimpin menggunakan rasa takut, ancaman, dan kebencian sebagai modal untuk memperoleh dukungan.

Demagogi menjadi berbahaya karena tidak membutuhkan gagasan besar untuk berkembang. Ia hanya membutuhkan emosi yang mudah dipancing: kemarahan, ketakutan, prasangka, dan keinginan untuk menemukan pihak yang dianggap sebagai penyebab masalah.

Di era digital, tantangan ini semakin besar. Media sosial mampu mempercepat penyebaran pesan-pesan emosional yang sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan fakta dan analisis rasional.

Karena itu, demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Demokrasi bukan hanya tentang kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga tanggung jawab untuk memeriksa informasi, menghargai perbedaan, dan menolak politik yang menjadikan kebencian sebagai alat kekuasaan.

Sejarah Adolf Hitler dan Jerman Nazi mengingatkan dunia bahwa demagogi mungkin mampu memenangkan dukungan dalam waktu singkat, tetapi politik yang dibangun di atas ketakutan dan kebencian dapat membawa sebuah bangsa menuju tragedi besar.

Daftar Referensi

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Evans, Richard J. (2005). The Third Reich in Power. London: Penguin Books.

Kershaw, Ian. (1998). Hitler: Hubris 1889–1936. London: Penguin Books.

Kershaw, Ian. (2000). Hitler: Nemesis 1936–1945. London: Penguin Books.

Merriam-Webster. (t.th.). Demagogue. Dalam Merriam-Webster.com Dictionary.

Paxton, Robert O. (2004). The Anatomy of Fascism. New York: Alfred A. Knopf.

United States Holocaust Memorial Museum. (t.th.). Adolf Hitler and Nazi Germany. Holocaust Encyclopedia.

Berita Terkait

Perkuat Sinergi Organisasi, DPD TMI Nagan Raya Apresiasi Pelantikan DPW TMI Sumut
Brimob Batalyon C Pelopor Bekali 230 Santri dengan Jiwa Kepemimpinan dan Semangat Cinta Tanah Air
Brimob Batalyon C Pelopor Pasang Sling Jembatan 109 Meter di Sikundo, Permudah Akses Sekolah dan Kebun Wujud
DPD Tani Merdeka Indonesia Nagan Raya Usulkan Don Muzakir Jadi Wakil Menteri Pertanian
BSI, OJK, dan FKIJK Perkuat Literasi Keuangan Syariah ASN Nagan Raya Lewat Program GENCARKAN
Hari Anak Nasional 2026, Salman Ajak Semua Pihak Hadirkan Madrasah Aman dan Ramah Anak
DPD Tani Merdeka Indonesia Nagan Raya Ucapkan Selamat atas Pelantikan Dr. Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional
Satlantas Polres Nagan Raya Gencarkan Sosialisasi Tertib Berlalu Lintas kepada Sopir Angkutan Barang dan Pengangkut TBS Sawit

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Meninggal Mendadak, Polisi Lakukan Penyelidikan

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:41 WIB

Arief Martha Rahadyan: Penguatan Hubungan Indonesia–Rusia Cerminkan Diplomasi Bebas dan Aktif

Minggu, 26 Juli 2026 - 06:09 WIB

AJI Tuntut Prabowo Minta Maaf soal Ucapan ‘Londo Ireng’, Tuding Diskreditkan Jurnalis

Minggu, 26 Juli 2026 - 00:26 WIB

YLBHI Kecam Tajam Stigma “Londo Ireng”, Dinilai Ancaman Serius terhadap Kebebasan Pers dan Demokrasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 02:40 WIB

KPK Jelaskan Alasan Penahanan Febrie Adriansyah di Rutan KPK, Tegaskan Tak Ada Kriminalisasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 02:18 WIB

Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Ngaku Dikriminalisasi

Jumat, 24 Juli 2026 - 22:03 WIB

MK Tetapkan Sisa Kuota Internet Tidak Boleh Hangus, Operator Wajib Lindungi Hak Konsumen

Jumat, 24 Juli 2026 - 00:30 WIB

Prof DR Sutan Nasomal Meminta Presiden RI Membuat Aturan Ketat Jaga Ibu & Anak Indonesia

Berita Terbaru