Demagogi: Ketika Politik Memainkan Ketakutan dan Kebencian Massa

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 13 Juli 2026 - 14:00 WIB

50259 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Novita Sari Yahya

Ketika membaca berbagai narasi politik dan meme yang beredar hari ini, saya teringat kembali pada istilah demagogi. Dalam sejarah politik, demagogi menjadi salah satu fenomena yang menunjukkan bagaimana kekuatan kata-kata dapat digunakan untuk menggerakkan massa, tetapi juga dapat menjadi alat berbahaya ketika digunakan untuk mengeksploitasi ketakutan, kemarahan, dan kebencian.

Masyarakat Indonesia memiliki sejarah panjang dalam dinamika politik dan perdebatan sosial. Fenomena tentang kehidupan politik, karakter masyarakat, serta hubungan antara rakyat dan kekuasaan juga banyak dicatat oleh para jurnalis dan pemikir Indonesia, termasuk Rosihan Anwar melalui berbagai tulisan dan catatan sejarahnya mengenai perjalanan bangsa Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari ini, ruang media dan media sosial sering dipenuhi oleh perdebatan politik yang sangat intens. Hampir semua orang dapat menjadi komentator dan pengamat terhadap berbagai isu. Namun, kebebasan berbicara yang tidak disertai literasi politik dapat menyebabkan berkembangnya opini tanpa dasar, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, serta narasi yang lebih mengutamakan emosi dibandingkan fakta.

Di sinilah demagogi menjadi penting untuk dipahami. Demagogi bukan sekadar kemampuan berbicara dengan menarik di depan publik. Demagogi adalah cara memengaruhi massa dengan memainkan emosi kolektif, membangun rasa takut, menciptakan musuh bersama, serta mengeksploitasi prasangka yang sudah ada dalam masyarakat.

Sejarah dunia memberikan contoh paling terkenal mengenai bahaya demagogi melalui perjalanan politik Adolf Hitler (1889–1945), pemimpin Partai Nazi (Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei/NSDAP) yang kemudian dikenal dengan gelar Führer, yaitu pemimpin tertinggi Jerman Nazi.

Hitler naik ke tampuk kekuasaan pada masa Jerman mengalami krisis ekonomi, ketidakstabilan politik, serta trauma akibat kekalahan dalam Perang Dunia I dan dampak Perjanjian Versailles. Melalui pidato yang penuh emosi, propaganda besar-besaran, nasionalisme ekstrem, serta janji untuk mengembalikan kejayaan Jerman, Hitler berhasil memperoleh dukungan dari sebagian masyarakat yang mengalami kekecewaan dan ketidakpastian.

Namun, di balik retorika tentang kebangkitan bangsa, rezim Nazi membangun kekuasaan melalui politik ketakutan, penindasan terhadap lawan politik, diskriminasi rasial, dan ideologi supremasi ras Arya. Nazisme Jerman, sebagai bentuk khusus dari fasisme, menjadikan propaganda dan kebencian terhadap kelompok tertentu sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Pada akhirnya, politik yang dibangun melalui kebencian membawa Jerman menuju kehancuran. Perang Dunia II menyebabkan jutaan korban jiwa dan menghancurkan sebagian besar wilayah Eropa. Kekuatan militer Jerman Nazi melalui organisasi Wehrmacht, yang pada awal perang memiliki kemampuan tempur sangat kuat, akhirnya mengalami kekalahan akibat berbagai faktor, termasuk keputusan strategis Hitler, perang di berbagai front, keterbatasan sumber daya, serta perlawanan negara-negara Sekutu.

Tragedi Jerman Nazi menjadi pelajaran bahwa kemenangan politik yang diperoleh melalui manipulasi emosi massa tidak selalu menghasilkan kejayaan. Kekuasaan yang dibangun dengan kebencian sering kali berakhir dengan kehancuran bagi bangsa itu sendiri.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa demagogi tidak hanya terjadi pada satu negara atau satu masa. Pola yang sama dapat muncul dalam berbagai bentuk politik ekstrem ketika seorang pemimpin menggunakan rasa takut, ancaman, dan kebencian sebagai modal untuk memperoleh dukungan.

Demagogi menjadi berbahaya karena tidak membutuhkan gagasan besar untuk berkembang. Ia hanya membutuhkan emosi yang mudah dipancing: kemarahan, ketakutan, prasangka, dan keinginan untuk menemukan pihak yang dianggap sebagai penyebab masalah.

Di era digital, tantangan ini semakin besar. Media sosial mampu mempercepat penyebaran pesan-pesan emosional yang sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan fakta dan analisis rasional.

Karena itu, demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Demokrasi bukan hanya tentang kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga tanggung jawab untuk memeriksa informasi, menghargai perbedaan, dan menolak politik yang menjadikan kebencian sebagai alat kekuasaan.

Sejarah Adolf Hitler dan Jerman Nazi mengingatkan dunia bahwa demagogi mungkin mampu memenangkan dukungan dalam waktu singkat, tetapi politik yang dibangun di atas ketakutan dan kebencian dapat membawa sebuah bangsa menuju tragedi besar.

Daftar Referensi

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Evans, Richard J. (2005). The Third Reich in Power. London: Penguin Books.

Kershaw, Ian. (1998). Hitler: Hubris 1889–1936. London: Penguin Books.

Kershaw, Ian. (2000). Hitler: Nemesis 1936–1945. London: Penguin Books.

Merriam-Webster. (t.th.). Demagogue. Dalam Merriam-Webster.com Dictionary.

Paxton, Robert O. (2004). The Anatomy of Fascism. New York: Alfred A. Knopf.

United States Holocaust Memorial Museum. (t.th.). Adolf Hitler and Nazi Germany. Holocaust Encyclopedia.

Berita Terkait

Gerak Jalan Indah Meriahkan HUT ke-81 RI di Gunong Geulogo, Warga Antusias Semarakkan Kemerdekaan
Semangat Kemerdekaan Membara, Warga Dusun Neupet Meriahkan HUT ke-81 RI
Muspika, RAPI dan Masyarakat Sungai Mas Bersatu Kobarkan Semangat Kemerdekaan
RAPI Nagan Raya Apresiasi Gerak Cepat Satreskrim Polres Nagan Raya Tindak Dugaan Tambang Emas Ilegal
Semangat Merah Putih, Polsek Kuala Pesisir Bersama Warga Gotong Royong Bersihkan Masjid
Jelang HUT ke-81 RI, Muspika Seunagan Timur dan Masyarakat Kompak Gotong Royong di Alue Kala
Jamaluddin Idham Salurkan Bantuan Alat Tangkap, Perkuat Produktivitas Nelayan Abdya
Cici Wirdah Agsa Tampil Percaya Diri dalam Lomba Pidato Bahasa Aceh HUT RI ke-81 di Seunagan Timur

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 02:50 WIB

Pemerintah Aceh dan DPRA Konsultasikan Kepastian Hukum Bendera Bulan Bintang ke Kemendagri

Senin, 17 Agustus 2026 - 02:44 WIB

Bendera Merah Putih Kembali Berkibar di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Simbol Pemulihan Menjelang HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:15 WIB

Teriakan “Merdeka” Warnai Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Masjid Raya Baiturrahman

Minggu, 16 Agustus 2026 - 04:54 WIB

Hari Damai Aceh Berubah Jadi Chaos, Massa Kejar Aparat hingga Bakar Motor TNI

Minggu, 16 Agustus 2026 - 04:49 WIB

Aksi Kericuhan Hari Damai Aceh Rusak Sejumlah Kendaraan, Warga Minta Pemerintah Beri Perhatian

Minggu, 16 Agustus 2026 - 04:43 WIB

Massa Tunjukkan Foto Korban Luka Saat Kerusuhan Peringatan Damai Aceh

Minggu, 16 Agustus 2026 - 04:37 WIB

Kericuhan Hari Damai Aceh: Tanda Kekecewaan atau Aksi yang Ditunggangi?

Minggu, 16 Agustus 2026 - 04:22 WIB

Kericuhan 21 Tahun Perdamaian Aceh Meluas ke Pendopo Gubernur, Simbol Negara Dicopot Massa

Berita Terbaru