ACEH TENGGARA – Ironi kembali terlihat di ruas jalan nasional Kutacane-Medan. Tanpa didahului hujan deras di lokasi, permukiman dan badan jalan di Desa Kuning I, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, mendadak terendam banjir setinggi lutut orang dewasa. Arus air keruh bercampur lumpur melumpuhkan aktivitas warga dan membahayakan pengguna jalan, padahal langit di kawasan tersebut cerah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, banjir merupakan kiriman dari wilayah hulu. Alhamdulillah banjir di Desa Terutung Seperai sudah surut, tiba-tiba banjirnya pindah ke Desa Kuning I lagi. Pola banjir pindahan ini menguatkan dugaan bahwa persoalan bukan sekadar curah hujan, melainkan buruknya sistem pengaliran dan pendangkalan Sungai Lawe Kinga dan Lawe Tuban yang tak pernah ditangani serius.
Genangan yang merendam kawasan pertokoan di Kuning I tersebut terjadi pada Minggu 11 Oktober 2026. Air dengan ketinggian sekitar 30 hingga 80 sentimeter menggenangi rumah warga, toko, pangkas rambut, hingga pasar. Sejumlah sepeda motor mogok di tengah jalan, mobil pribadi dan angkutan umum terpaksa merayap bahkan mendorong kendaraan untuk mencari titik dangkal. Warga, termasuk perempuan dan anak-anak, terlihat menerjang banjir untuk menyelamatkan barang dagangan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan keras: di mana kerja mitigasi bencana yang selama ini diklaim pemerintah daerah? Fakta bahwa Kuning I tidak diguyur hujan namun tetap kebanjiran adalah bukti telak gagalnya tata kelola daerah aliran sungai. Normalisasi sungai yang hanya menjadi proyek seremonial, drainase yang tersumbat, serta lemahnya pengawasan terhadap alih fungsi lahan di hulu, dibiarkan menjadi bom waktu yang kini meledak berulang kali di wilayah Bambel.
Warga menyebut banjir di Kuning I bukan peristiwa baru. Hampir setiap tahun, delapan hingga puluhan desa di Kecamatan Bambel, Semadam, dan Bukit Tusam menjadi langganan banjir dengan dalih yang sama, curah hujan tinggi di hulu. Namun hingga kini, tidak ada solusi permanen yang dirasakan masyarakat selain kedatangan petugas untuk mengatur lalu lintas saat jalan nasional tergenang.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dan instansi terkait didesak untuk tidak lagi berlindung di balik alasan cuaca. Jika pengendalian banjir hanya sebatas respons darurat tanpa perbaikan infrastruktur sungai secara menyeluruh, maka warga Kuning I akan terus menjadi korban banjir kiriman yang datang tanpa hujan di kampung mereka sendiri. (*)








































