KUTACANE – Ironi pembangunan infrastruktur dipertontonkan secara telanjang di Kabupaten Aceh Tenggara. Jembatan rangka baja Mbarung yang menjadi urat nadi penghubung tiga kecamatan, yakni Lawe Alas, Tanoh Alas, dan Babul Rahmah, kini hanya menyisakan rangka warna-warni yang ambruk dan teronggok di bibir Sungai Alas. Di tengah derasnya arus cokelat yang meluap, warga dipaksa mempertaruhkan nyawa menyeberang menggunakan rakit darurat yang terbuat dari bambu dan batang pinang yang diikat seadanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kondisi memprihatinkan ini adalah puncak dari pembiaran berbulan-bulan. Jembatan tersebut dilaporkan ambruk setelah dihantam banjir bandang dan luapan Sungai Alas. Alih-alih membangun jembatan bailey sebagai solusi cepat, pemerintah daerah hingga saat ini hanya berkutat pada alasan klasik force majeure dan dalih proyek oprit yang masih berjalan. Padahal, sejak akhir 2024 hingga September 2026, banjir susulan telah berulang kali menghancurkan jalan, tanggul, dan jembatan di wilayah itu.
Kelalaian ini berdampak langsung pada lumpuhnya ekonomi dan akses dasar warga. Ketika jembatan utama putus, tidak ada jalur alternatif yang layak. Warga di tiga kecamatan terisolasi itu terpaksa membangun sendiri jembatan darurat. Namun berdasarkan informasi pada 7 Oktober 2026, jembatan darurat yang mereka bangun kembali hanyut karena tanggul pengaman sungai yang jebol tidak pernah diperkuat secara permanen. Situasi ini mempertegas bahwa mitigasi bencana di Aceh Tenggara hanya berjalan di atas kertas.
Potret beberapa warga yang menyeberang di atas rakit bambu yang hampir tenggelam diterjang arus, sementara di belakangnya berdiri megah sisa jembatan yang ambruk, adalah tamparan keras bagi Dinas PUPR dan Pemerintah Kabupaten. Aparat seolah absen saat rakyatnya berjuang melawan arus untuk sekadar pergi ke kebun, ke sekolah, atau ke puskesmas.
Sudah dua bulan lebih warga menunggu kejelasan, namun yang datang hanya peninjauan pejabat dan janji perbaikan. Jika keselamatan warga harus digantungkan pada dua batang bambu di atas sungai yang sedang banjir besar, lantas untuk apa anggaran penanggulangan bencana dan pemeliharaan infrastruktur itu dialokasikan. (*)








































