BANDA ACEH – Kericuhan yang terjadi di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), tak hanya menimbulkan ketegangan antara aparat keamanan dan massa aksi, tetapi juga berdampak pada kerusakan berbagai kendaraan milik warga yang tengah berada di sekitar lokasi. Insiden ini terjadi saat massa memperingati 21 tahun perdamaian antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Pantauan di lokasi menunjukkan, setidaknya satu unit sepeda motor dibakar massa di tengah kekacauan. Selain itu, sekitar empat mobil mengalami kerusakan cukup parah, terutama pada bagian kaca yang pecah akibat lemparan atau bentrokan yang terjadi. Salah satu pemilik kendaraan, Bahagia, warga Aceh Barat Daya, mengaku menjadi korban insiden yang tidak pernah ia perkirakan.
Bahagia menuturkan, kedatangannya ke Banda Aceh berawal dari niat menjemput anak sekaligus mengikuti kegiatan zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman. Ia mengaku masih berada di dalam mobil ketika situasi di luar mendadak berubah menjadi kericuhan. “Rencananya dari Abdya jemput anak sambil main-main. Mau zikir juga, makanya saya ajak anak dari pesantren untuk zikir,” ujar Bahagia.
Ia baru menyadari mobilnya rusak setelah situasi mulai mereda dan bisa kembali ke lokasi kendaraan diparkir. Kaca-kaca mobil sudah pecah dan seluruh kondisi kendaraan tidak bisa digunakan lagi. “Setelah sudah nampak aman, kami datang ke mobil, tengok mobil sudah rusak semua. Kaca-kaca sudah tidak bisa lagi dipakai,” ungkapnya.
Sebelum diamankan, kendaraan Bahagia diparkir di tikungan yang berada tak jauh dari pusat kericuhan. Kini ia belum dapat memastikan nilai kerugian yang dialaminya akibat kejadian tersebut. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian bagi warga yang kendaraannya rusak dalam tragedi hari damai Aceh tahun ini.
“Kalau bisa diganti lah, kalau ada rasa kasihan. Sekarang kan lagi sulit juga. Untuk kami mengganti mungkin tidak sanggup kalau sekarang,” harap Bahagia, menutup keterangannya. Pemerintah diharapkan dapat menangkap aspirasi para warga terdampak dan memberikan solusi konkret agar masyarakat tidak menanggung beban sendiri dampak dari kericuhan yang terjadi di momen penting peringatan perdamaian Aceh. (*)







































