Kepala BPP Nurusalam Diduga Lakukan Pungli  dan Persulit Petani Jelang RDKK Pupuk Subsidi

- Redaksi

Jumat, 17 Oktober 2025 - 23:05 WIB

501,034 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

FoBaranewsaceh.co,ACEH TIMUR |Aroma busuk birokrasi kembali mencuat dari tubuh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Nurussalam, Aceh Timur. Kepala BPP setempat kini menjadi sorotan tajam publik dan kalangan petani karena diduga melakukan pungutan liar (pungli) sebesar Rp200 ribu terhadap sejumlah kelompok tani dalam proses administrasi kelembagaan dan penyusunan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) pupuk subsidi tahun 2026. Jum’at.( 17/10/2025).

Informasi dari lapangan menyebut, setiap kelompok tani yang ingin memperbarui data atau melakukan revisi anggota kelompok dimintai uang sebesar Rp200 ribu, dengan alasan untuk “biaya administrasi.” Namun, tidak ada dasar resmi ataupun surat perintah yang menjelaskan pungutan tersebut. Akibatnya, banyak petani merasa tertekan dan enggan melapor karena takut dipersulit dalam pendataan RDKK.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau tidak bayar, data kami dibilang belum lengkap. Jadi terpaksa ikut saja,” ungkap salah satu petani yang meminta identitasnya dirahasiakan karena takut mendapatkan intimidasi.

Selain dugaan pungli, Kepala BPP Nurussalam juga disorot karena gagap teknologi (gaptek) dan tidak mampu menjalankan sistem input data elektronik RDKK. Kelemahan ini menjadi hambatan serius di tengah upaya pemerintah mempercepat digitalisasi pertanian. Kondisi tersebut bukan hanya soal ketidaktahuan, tetapi sudah masuk pada ranah kelalaian birokratis yang merugikan ribuan petani.

Padahal, BPP seharusnya berfungsi sebagai “guru dan sahabat petani”, tempat belajar dan pendampingan menuju swasembada pangan. Namun, di tangan Kepala BPP Nurussalam, lembaga ini justru berubah menjadi “lumbung pungli dan tembok penghalang” yang menekan petani dengan beban administrasi tidak wajar.

Situasi ini mencederai semangat Good Governance yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dan bertentangan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional. Kalangan petani pun mendesak Bupati Aceh Timur dan Dinas Ketahanan Pangan dan Penyuluhan untuk segera menurunkan tim investigasi independen dan mengevaluasi total Kepala BPP Nurussalam.

Langkah tegas dianggap perlu agar Balai Penyuluh Pertanian benar-benar kembali menjadi rumah pembelajaran petani, bukan birokrasi transaksional yang menindas rakyat kecil.

Berita Terkait

Kurban Pekerja dan Kontraktor Medco E & P Jangkau Ratusan Penerima Manfaat Di Blok A
BNPB, Bangun Huntara Diduga Tak Layak Huni, Korban Banjir Simpang Jernih Mengeluh
Peringati Hari Buruh, Pekerja Medco E&P Malaka Sumbang 136 Kantong Darah
Medco E&P Malaka Jangkau Ribuan Penerima Manfaat Lewat Program Ramadan Di Aceh Timur
Desakan Penyelidikan Dana Sapi Meugang Rp7,5 Miliar Menguat, Kaperwil Mitrapolisi Aceh Minta APH Bertindak
IKABNAS Lemhannas membantu pendidikan warga Pasca bencana Hidrometeorologi di Aceh Timur
Medco E&P Malaka Beri Dukungan Psikososial bagi Anak Terdampak Banjir di Aceh Timur
Kanwil DJBC Aceh dan Bea Cukai Langsa Bersama BNN Ungkap Penyelundupan 60 Kilogram Sabu di Aceh Timur

Berita Terbaru