Purbaya Siap Tangkap Mafia Perdagangan, Targetkan Penyelundupan dan Under Invoicing

Redaksi Bara News

- Redaksi

Rabu, 22 Oktober 2025 - 06:52 WIB

50323 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta  — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kesiapannya menindak tegas praktik mafia dalam perdagangan nasional. Ia bahkan membocorkan akan terjadi penangkapan besar-besaran terhadap pelaku penyelundupan dan praktik under invoicing yang dinilainya merugikan keuangan negara dalam jumlah besar.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam forum publik di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10), dan kembali disampaikan ke media, Selasa (21/10). Ia menegaskan bahwa upaya penegakan hukum akan dilakukan tanpa pandang bulu, termasuk kepada pelaku yang berada di bawah perlindungan tokoh-tokoh berkuasa.

“Yang suka main selundup, saya tangkap. Bentar lagi ada penangkapan besar-besaran. Saya enggak peduli di belakangnya siapa. Di belakang saya ada Presiden, paling tinggi di sini. Pasti beres,” tegas Purbaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut dia, praktik penyelundupan saat ini paling banyak terjadi di sektor rokok, tekstil, dan baja. Ketiga sektor ini akan menjadi prioritas pemerintah dalam penindakan. Purbaya menyebut, kegiatan ilegal tersebut telah menimbulkan tekanan terhadap industri dalam negeri dan berkontribusi terhadap bocornya potensi penerimaan negara.

“Rokok, saya akan beresin. Jadi (mulai dari) rokok, abis itu tekstil, habis itu baja, habis itu yang lain. Satu per satu saya akan kejar,” ujarnya.

Under invoicing merupakan bentuk pemalsuan data transaksi impor dengan cara mencantumkan nilai faktur yang lebih rendah dari nilai sebenarnya, untuk menghindari pembayaran bea masuk dan pajak ekspor-impor. Praktik ini merugikan negara sekaligus menimbulkan persaingan tidak sehat dalam sektor perdagangan.

Purbaya menegaskan bahwa upaya penertiban tidak selalu ditujukan pada jajaran Bea dan Cukai. Dalam berbagai kasus, ia mengaku mendapati bahwa aparat di lapangan merasa tertekan oleh “backing” dari kekuatan politik atau ekonomi tertentu.

“Saya panggil orang Bea Cukainya, saya tanya, ‘lo enggak benar’. (dia bilang) ‘Bukan begitu Pak, di belakangnya ada bekingan gede, kami enggak bisa apa-apa’,” tuturnya.

Namun, Purbaya mengimbau agar para pejabat dan pegawai untuk tidak gentar. Dukungan Presiden Prabowo Subianto, menurut dia, menjadi jaminan bahwa institusi teknis bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa intervensi kepentingan.

“Sekarang sikat aja. Kan Dirjen Bea Cukai saya bintang tiga. Kecuali bintang empatnya yang nyuruh. Kalau bintang empat, kita lapor presiden,” ujarnya.

Purbaya menekankan bahwa tujuan dari langkah-langkah tersebut bukan sekadar menindak, melainkan bagian dari strategi reformasi struktural ekonomi demi meningkatkan kestabilan dan pertumbuhan. Ia optimistis, dengan langkah itu, laju ekonomi Indonesia dapat secara bertahap meningkat.

“Dengan strategi seperti itu, saya yakin pelan-pelan ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Tapi enggak langsung besok 8 persen ya. Tahun depan mungkin bisa mendekati 6 persen atau lebih. Tahun depannya lebih cepat lagi.”

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menyampaikan akan menertibkan berbagai penyimpangan yang terjadi di dalam sistem perpajakan nasional. Ia menegaskan telah mengantongi nama-nama pelaku penyelundupan dan under invoicing, termasuk wajib pajak yang terlibat dalam praktik curang tersebut.

“Yang melakukan under invoicing, yang selama ini nyelundupin, dari tekstil, baja, dan sebagainya, itu kan sudah ada nama-nama pemainnya. Tinggal kita pilih saja siapa yang mau diproses,” ujar Purbaya.

Ia menyebut bahwa pemerintah saat ini tengah menghitung potensi kerugian negara akibat praktik tersebut. Hingga kini, nilai pasti kerugiannya masih dalam tahap estimasi.

“Belum tahu, masih kita hitung,” katanya.

Di sisi lain, Purbaya juga mengkritik sistem pengawasan arus barang yang belum memadai. Ia mengaku belum dapat secara real-time mengawasi lalu lintas barang keluar-masuk karena keterbatasan sistem data pada Lembaga National Single Window (LNSW).

Ia mengatakan seharusnya sistem LNSW yang berada di bawah Kementerian Keuangan bisa berfungsi seperti sistem intelijen IT yang canggih. Sayangnya, hingga kini konektivitas data dari berbagai instansi terkait masih belum terintegrasi secara menyeluruh.

“Saya pikir udah kayak di film-film itu. Saya lihat ujung, langsung ke ujung, langsung saya bandingkan ketahuan semuanya. Ternyata belum terlalu lengkap datanya. Real-nya belum di-link ke LNSW,” ujarnya ketika ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/10).

Menurut Purbaya, Kementerian Keuangan ke depan akan mempercepat perbaikan sistem tersebut dan melakukan integrasi antara instansi seperti bea cukai, pelabuhan, dan lembaga karantina dalam satu sistem terpadu.

“LNSW itu harus jadi semacam IT intelijen saya. Saya bisa tahu barang masuk apa, barang keluar apa, saya bisa bandingkan semua di satu tempat. Sekarang belum sampai sana.”

Ia menambahkan, sistem integrasi data akan menjadi salah satu alat utama pemerintah untuk mendeteksi penyimpangan secara lebih cepat, termasuk untuk mengatasi praktik under invoicing yang sebelumnya disoroti langsung oleh Presiden dalam beberapa rapat terbatas.

Purbaya mengaku optimistis, dukungan sistem teknologi informasi yang baik akan mendorong kinerja penerimaan negara dari sektor perpajakan dan menutup celah kebocoran anggaran yang selama ini rawan dimanfaatkan oleh segelintir pihak.

“Yang jelas saya akan monitor sistem IT impor ekspor, sehingga kebocoran under invoicing bisa kami tuntun dan tindak lebih cepat,” ujar Purbaya. (*)

Berita Terkait

Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 06– 12 Mei 2026
KKP Rampungkan 65 Kampung Nelayan Merah Putih Tahap I, Satgas Dikerahkan Percepat Operasional
Dirjen LIP Apresiasi TA Khalid Dalam Percepatan Rehab Lahan Pertanian Paska Bencana
Wakapolri Dorong Brimob Tingkatkan Profesionalisme dan Modernisasi Hadapi Tantangan Baru
Polda Riau Raih IKPA Terbaik Nasional Kategori Pagu Sedang Di Rakernis Polri 2026
PJI Kaltim dan MIO Indonesia Soroti Pengamanan Demo Samarinda: Humanis, Profesional, dan Jaga Ruang Demokrasi
Jaga Desa Terintegrasi Siskeudes, Kejaksaan Perkuat Pengawasan Dana Desa Secara Real Time
PT Mahakarya Abadi Konsultan Tegaskan Komitmen Profesionalisme di Tengah Isu Negatif

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 17:52 WIB

Polsek Lawe Sigala-gala Kawal Pembagian Makan Malam bagi Korban Banjir Bandang di Desa Lawe Tua Persatuan

Senin, 11 Mei 2026 - 15:05 WIB

KALIBER Aceh Desak APH Bongkar Dugaan Material Ilegal Proyek Bronjong Sub kontrak PT Hutama Karya di Aceh Tenggara.

Minggu, 10 Mei 2026 - 12:44 WIB

Wushu Aceh Tenggara Bidik Tiket Pora 2027, Atlet Dilepas ke Ajang Pra Pora di Banda Aceh

Sabtu, 9 Mei 2026 - 01:55 WIB

Kaliber: Tantang Kajati Aceh Bongkar Dugaan Skandal Dana Kapitasi,JKN dan BOK Kesehatan Aceh Tenggara

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:56 WIB

Gerak Cepat Resmob Agara! Pelaku Curanmor yang Resahkan Warga Berhasil Dibekuk dalam Ops Sikat

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:45 WIB

Team Resmob Sat Reskrim Polres Agara Berhasil Ungkap Kasus Pencurian, Satu Pelaku Diamankan

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:54 WIB

TIPIKOR : Desak Inspektorat Dan APH Usut Dana Ruti Dinas Pangan tahun 2025 dan awal 2026.Dugaan Ratusan juta Menguap

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:53 WIB

Dana Kapitasi dan JKN Dinas Kesehatan Aceh Tenggara di sinyalir sarat Manipulasi dan Korupsi

Berita Terbaru

NAGAN RAYA

Bupati TRK Buka Rakor Layanan Call Center 112 di Nagan Raya

Senin, 11 Mei 2026 - 21:08 WIB

ACEH BARAT DAYA

Rahmat: Turnamen Layangan TMMD Kodim Abdya Pererat Silaturahmi Warga

Senin, 11 Mei 2026 - 18:10 WIB