Kepala Desa Lembah Haji Diseret ke Penjara Usai Tersandung Dugaan Korupsi Dana Desa Rp 476 Juta

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 10 Oktober 2025 - 21:56 WIB

50428 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUTACANE – Setelah melalui serangkaian penyelidikan yang menyita waktu dan energi aparat penegak hukum, malam itu Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara akhirnya mengambil langkah tegas. Seorang oknum kepala desa aktif dari Kecamatan Bambel harus menerima kenyataan pahit, berjalan tertunduk dengan rompi tahanan berwarna oranye menuju Lapas Kelas IIB Kutacane pada Kamis malam, 9 Oktober 2025.

Menggunakan inisial HM dalam berkas resmi, lelaki yang sebelumnya menjabat sebagai Pengulu Kute (sebutan kepala desa) Lembah Haji itu kini duduk sebagai tersangka dalam kasus korupsi dana desa tahun anggaran 2022 hingga 2023. Angka kerugian negara tidak main-main—Rp 476.692.348 hilang begitu saja dalam praktik culas ini, sebagaimana diungkapkan Kejari Aceh Tenggara dalam konferensi pers di hari yang sama.

“Penetapan tersangka dilakukan berdasarkan hasil penyidikan yang telah kami mulai sejak Mei tahun ini. Dan malam ini, tersangka kami tahan di Lapas Kutacane,” tegas Kepala Kejari Aceh Tenggara, Lilik Setiyawan. Ia merinci proses hukum yang telah dilalui: surat perintah penyidikan diteken sejak 7 Mei 2025, diperbarui pada 10 Juni 2025, hingga akhirnya keluarnya surat penetapan tersangka pada 9 Oktober 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

HM tak sendirian dalam kisruh keuangan desa itu. Bersama oknum Kepala Urusan Keuangan berinisial ZP, HM mencairkan dana desa secara tunai dari Bank Aceh Syariah, dengan motif yang kian terang-benderang: untuk kepentingan pribadi.

“Setelah dicairkan, dana itu langsung disisihkan untuk kebutuhan pribadi. Hanya sedikit—sangat sedikit—yang benar-benar dipakai untuk kepentingan desa,” ungkap Lilik, dengan nada datar namun menggambarkan kedalaman ironi dari seorang pemimpin yang mestinya menjadi pelayan masyarakat.

Lebih jauh lagi, sistem pengelolaan dana pun dikuasai secara otoriter. Dalam setiap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan anggaran desa, HM tidak pernah melibatkan perangkat lain. BPK—Badan Permusyawaratan Kute—dikesampingkan begitu saja. Bahkan, untuk memuluskan laporan pertanggungjawaban fiktif, HM menggunakan cara yang tak lagi bisa ditoleransi.

“HM memaksa perangkat desa menandatangani LPJ kegiatan dana desa, baik yang fiktif maupun yang benar-benar dilaksanakan. Ancaman pemecatan dilontarkan jika mereka menolak,” beber Kajari lagi, mengungkap tabir tekanan yang selama ini menghantui aparatur desa setempat.

Sejumlah kegiatan yang dibiayai dengan dana desa juga ditemukan tidak tercantum dalam dokumen resmi APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Kute) tahun 2022 dan 2023. Banyak kegiatan tanpa rencana, tanpa musyawarah, tanpa evaluasi, dan yang paling fatal: tanpa bukti pengeluaran resmi.

Laporan Hasil Perhitungan Kerugian Keuangan Negara dari Inspektorat Aceh Tenggara pun menguatkan dugaan tersebut. Melalui dokumen resmi LHP-KKN bernomor 700/225/LHP-KKN/IK/2025, tercatat bahwa negara dirugikan hampir setengah miliar rupiah. Angka itu bukan hanya sekadar nominal dalam neraca keuangan—di dalamnya termuat harapan belasan ribu warga desa akan pembangunan dan perbaikan kualitas hidup yang lebih baik, yang nyatanya hanya menjadi fatamorgana.

Atas dasar itu, HM dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 junto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001. Pasal-pasal ini mempertegas bahwa praktik memperkaya diri sendiri maupun orang lain dengan merugikan negara akan mendapatkan pengadilan yang setimpal.

Pihak Kejari menegaskan, penahanan terhadap HM bersifat penyidikan dan akan berlangsung selama 20 hari ke depan di Lapas Kelas IIB Kutacane. Namun bukan tidak mungkin masa penahanan akan diperpanjang, mengikuti dinamika penanganan perkara.

Penahanan seorang kepala desa aktif membuka kembali perbincangan publik soal bagaimana dana desa dikelola di pelosok negeri. Sejak digelontorkan pertama kali satu dekade silam, Dana Desa seharusnya menjadi katalis bagi pembangunan infrastruktur, kesehatan, pertanian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Tapi kasus demi kasus korupsi yang bermunculan seperti yang terjadi di Aceh Tenggara justru mencerminkan ironi: kuasa anggaran di tangan para pengulu berubah menjadi mesin kekuasaan personal.

Aceh Tenggara kini dihadapkan pada dua pekerjaan rumah besar: membenahi sistem pengelolaan dana desa dan membersihkan jalur distribusinya dari praktik korupsi yang menyusup dari level terbawah pemerintahan.

Sebab ketika dana pembangunan justru menjadi sumber kemunduran moral pemimpin desa, maka yang hancur bukan hanya angka-angka dalam laporan keuangan, tapi juga kepercayaan masyarakat akar rumput yang bertahun-tahun dihantui kemiskinan, ketertinggalan, dan kebohongan yang terbungkus dalam pembangunan fiktif. (RED)

Berita Terkait

Semangat Kemerdekaan, Wakapolres Aceh Tenggara Pimpin Upacara HUT RI ke-81 di Mapolres
BPKD Aceh Tenggara: HUT ke-81 RI Jadi Momentum Memperkuat Semangat Persatuan
Kapolres Aceh Tenggara Hadir di Tengah Putra-Putri Terbaik Aceh Tenggara, Paskibraka Resmi Dikukuhkan
Kepala SMA Negeri 1 Lawe Sigala Gala Mengucapkan Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia
Kepala BPKD Aceh Tenggara Mengucapkan Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Sekda Aceh Tenggara Yusrizal Ucapkan Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Ajak Masyarakat Perkuat Gotong Royong
Kaukus Nusantara Desak Pemerintah Segera Sahkan Pemekaran ALA dan ABAS
Yahdi Hasan: Pendidikan dan Perdamaian Jadi Kunci Masa Depan Aceh, Disampaikan di Hari Damai Aceh ke-21 Untuk Menyongsong HUT ke-81 RI di SMAN 1 Badar, Kab. Aceh Tenggara

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:51 WIB

Ribuan Warga Samadua Kompak Tolak Tambang, Desak Rekomendasi Eksplorasi Dicabut!

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:34 WIB

Bupati Aceh Selatan Didesak Merdekakan Samadua dari Bayang-bayang Perusahaan Tambang

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:34 WIB

Ribuan Warga Samadua Bergerak Tolak Perusahaan Tambang, Ketua DPRK Aceh Selatan Ikut Tandatangani Petisi

Minggu, 9 Agustus 2026 - 00:06 WIB

ForPAS : IUP MMS Bukan Cek Kosong, KPK Diminta Telusuri Kemungkinan Dugaan Gratifikasi dalam Perizinan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 00:29 WIB

Bupati Aceh Selatan Dukung Peningkatan Kompetensi Guru, Pemkab Jajaki Kerja Sama dengan Pascasarjana USK

Kamis, 23 Juli 2026 - 23:53 WIB

Senjata Api Mengancam Masyarakat, IMP Desak Evaluasi dan Pemeriksaan Polres Aceh Selatan

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:31 WIB

Pemkab Aceh Selatan Percepat Usulan WPR, Sembilan Lokasi Disiapkan untuk Tambang Rakyat Legal

Selasa, 14 Juli 2026 - 23:25 WIB

Seleksi BCKS 2026 Digelar di Tapaktuan, 71 Guru dari 5 Kabupaten di Aceh Ikuti Ujian CAT

Berita Terbaru