Prabowo, Presiden Rasa Pemangku Kerajaan?

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 14 April 2026 - 00:35 WIB

50264 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini
Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Kemenangan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024 semestinya menjadi penanda berjalannya sirkulasi kekuasaan yang sehat dalam demokrasi. Namun, alih-alih menghadirkan jeda dari praktik lama, yang tampak justru kesinambungan dalam bentuk yang lebih halus, seolah republik ini hanya mengganti wajah, bukan arah.

Sejak awal, konstruksi politik Prabowo bersama Gibran Rakabuming Raka telah memunculkan kegelisahan publik. Bukan semata karena faktor usia atau pengalaman, melainkan karena simbolisme yang melekat, yakni kekuasaan yang bergerak dalam orbit keluarga. Dalam demokrasi modern, ini bukan sekadar isu etika, tetapi ancaman terhadap prinsip dasar kesetaraan politik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Potret pemerintahan yang terbentuk memperkuat kesan tersebut. Komposisi kabinet yang sarat figur lama, sebagian dengan rekam jejak kontroversial, memberi sinyal bahwa agenda pembaruan tidak menjadi prioritas. Alih-alih menjadi lokomotif perubahan, pemerintahan baru tampak seperti gerbong tambahan dari rangkaian lama.

Dalam analogi sederhana, Prabowo memang duduk di kursi pengemudi, tetapi peta jalan tampaknya masih ditentukan oleh tangan-tangan yang sama. Publik pun mulai bertanya, siapa sebenarnya yang memegang kemudi kekuasaan?

Memasuki tahun kedua pemerintahan, kritik publik kian menguat. Sejumlah kebijakan strategis dinilai lebih mencerminkan upaya menjaga stabilitas politik ketimbang keberanian melakukan koreksi. Dalam beberapa kasus yang menyita perhatian publik, baik terkait proyek besar negara maupun isu dugaan konflik kepentingan, respons pemerintah cenderung defensif, bahkan kompromistis.

Kedekatan politik antara presiden dengan pendahulunya menjadi variabel penting dalam membaca situasi ini. Pernyataan terbuka yang menempatkan figur lama sebagai “guru politik” bukan sekadar retorika, melainkan pesan simbolik tentang kesinambungan pengaruh. Dalam tradisi politik patronase, loyalitas sering kali lebih menentukan daripada independensi.

Di titik inilah istilah “pemangku kerajaan” menjadi relevan sebagai metafora. Dalam sistem monarki, pemangku raja adalah figur yang memegang kekuasaan sementara yang menjaga stabilitas hingga pewaris takhta siap mengambil alih. Jika logika ini diam-diam bekerja dalam sistem republik, maka kita sedang menyaksikan pergeseran yang tidak sederhana, dari demokrasi menuju reproduksi kekuasaan.

Fenomena yang kerap disebut sebagai shadow power atau kekuasaan bayangan semakin memperjelas lanskap ini. Ia tidak hadir dalam struktur formal, tetapi bekerja melalui jaringan loyalitas, pengaruh politik, dan kepentingan ekonomi yang terbangun sebelumnya. Dalam kondisi demikian, presiden berada dalam ruang gerak yang terbatas, dimana secara konstitusional kuat, tetapi secara politik terikat.

Dampaknya mulai terasa dalam persepsi publik. Kepercayaan terhadap independensi kekuasaan perlahan tergerus. Muncul anggapan bahwa negara tidak sepenuhnya dikendalikan oleh institusi formal, melainkan oleh konfigurasi kekuatan di balik layar. Persepsi ini, benar atau tidak, adalah masalah serius dalam demokrasi, karena legitimasi tidak hanya dibangun oleh fakta, tetapi juga oleh kepercayaan.

Sementara itu, dinamika politik jangka panjang tampak mulai disiapkan. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap presiden, figur wakil presiden relatif berada di ruang yang lebih aman, dimana minim eksposur terhadap isu sensitif, tetapi tetap aktif dalam konsolidasi basis politik. Di saat yang sama, mesin politik bekerja senyap dengan membangun jaringan, menguasai ruang digital, dan memperkuat legitimasi.

Jika dibaca secara strategis, ini bukan sekadar dinamika biasa. Ini adalah desain.

Dalam perspektif teori elit, kondisi ini mencerminkan kecenderungan elite reproduction, dimana kekuasaan tidak benar-benar berputar, melainkan diwariskan dalam lingkar terbatas. Sirkulasi elit yang seharusnya menjadi jantung demokrasi justru tersumbat oleh kepentingan menjaga kesinambungan kekuasaan.

Namun, sejarah politik selalu membuka ruang kejutan. Tekanan publik, fragmentasi elite, dan dinamika ekonomi dapat mengubah arah yang tampak mapan. Tidak ada kekuasaan yang benar-benar stabil ketika legitimasi mulai dipertanyakan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukanlah apakah Prabowo kuat atau lemah sebagai presiden. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah ia memimpin untuk dirinya dan rakyat, atau untuk memastikan kesinambungan kekuasaan pihak lain?

Jika seorang presiden lebih berperan sebagai penjaga stabilitas bagi suksesi politik tertentu, maka republik ini sedang berjalan di jalur yang berbahaya. Demokrasi tidak mati secara tiba-tiba; ia melemah perlahan, melalui kompromi-kompromi kecil yang dibiarkan menjadi kebiasaan.

Dan ketika publik mulai terbiasa dengan itu, saat itulah republik kehilangan maknanya, tanpa pernah benar-benar menyadarinya.

Berita Terkait

Bupati TRK Diwakili Plt Sekda Ikuti Peresmian Operasional 1.061 KDKMP Secara Virtual
PT Socfindo Semayam Salurkan Bantuan Sembako untuk Penyandang Disabilitas
Tolak Tambang Beutong Ateuh, Mantan Anggota DPRK Nagan Raya Minta Pemkab Cabut Izin
Anggota RAPI Nagan Raya Bertakziah Kerumah Almarhumah ADRI Anggota RAPI Nagan Raya
Ratusan Kasi Keuangan Gampong Ikut Sosialisasi Aktivasi IBC Non Tunai Di Bank Aceh Cabang Jeuram
Hambalang Boy, Dinasti Politik, dan Bom Waktu Transisi Elite
Gawat : Tem Gabungan di Lapas Kelas IIB Meulaboh, Petugas Temukan Senjata Tajam dan HP
Salah Baca Kritik

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:56 WIB

DPR dan Pemerintah Jelaskan Mekanisme Pendaftaran Tanah dalam Sistem Hukum Nasional

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:08 WIB

Dinamika Tuntutan Berat untuk Nadiem Makarim dalam Dugaan Korupsi Chromebook: Polemik Digitalisasi yang Menyeret Mantan Menteri ke Meja Hijau

Selasa, 12 Mei 2026 - 14:17 WIB

Kementerian ATR/BPN dan KPK Jadikan Sulut Lokasi Percontohan Transformasi Pelayanan Publik di Bidang Pertanahan

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:11 WIB

Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 06– 12 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 00:06 WIB

KKP Rampungkan 65 Kampung Nelayan Merah Putih Tahap I, Satgas Dikerahkan Percepat Operasional

Jumat, 1 Mei 2026 - 02:47 WIB

Dirjen LIP Apresiasi TA Khalid Dalam Percepatan Rehab Lahan Pertanian Paska Bencana

Rabu, 29 April 2026 - 21:47 WIB

Wakapolri Dorong Brimob Tingkatkan Profesionalisme dan Modernisasi Hadapi Tantangan Baru

Rabu, 29 April 2026 - 21:14 WIB

Polda Riau Raih IKPA Terbaik Nasional Kategori Pagu Sedang Di Rakernis Polri 2026

Berita Terbaru

ACEH BARAT DAYA

Ahmad Jadi Kepala Tukang, Rehab RTLH TMMD Abdya Kian Cepat Rampung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:09 WIB