Makar sebagai Struktur Cara Berpikir Saiful Mujani

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 12 April 2026 - 20:14 WIB

50282 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini
Penulis : Arvindo Noviar (Ketua Umum PRABU)

Sebuah forum sosial berhenti menjadi wadah silaturahmi dan diam-diam bersalin-rupa menjadi panggung pertunjukan. Halal bihalal yang semula merawat etika dan mempererat relasi berubah menjadi arena sirkus yang miskin keanggunan dalam kemasan, lengkap dengan tema banal, penonton linglung yang menunggu sensasi, serta pemain yang mengerti bahwa satu kalimat keras tanpa pijakan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi daripada satu argumen yang disusun dengan disiplin.

Pernyataan yang dilontarkan oleh Saiful Mujani dalam arena itu kehilangan watak intelektualnya sejak pertama kali diucapkan, berubah menjadi bagian dari atraksi yang mengandalkan efek kejut dan emosi dangkal. Kata-kata dilepas seperti properti sulap, dilempar ke udara untuk memancing decak kagum sesaat, berputar tanpa arah yang dapat dipertanggungjawabkan, lalu jatuh sebagai bunyi yang nyaring namun kosong, menyisakan kesan sebagai satu bentuk kedalaman semu, di mana kata-kata dipoles hingga berkilau di permukaan, sementara di dalamnya hanya tersisa dorongan emosi yang gagal menjelma menjadi pikiran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang intelektual bekerja dengan ukuran yang ketat, dimulai dari ketepatan merumuskan maksud sebelum melangkah pada keberanian menyatakannya. Pernyataan Saiful Mujani tentang “mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Presiden” membuka persoalan yang lebih elementer dari sikap politik itu sendiri. “Mengonsolidasikan” mengandaikan struktur, arah, dan tujuan; “menjatuhkan” memikul konsekuensi yang melampaui kritik oposisi biasa. Keduanya disandingkan tanpa penjelasan operasional dan tanpa batas konseptual yang tegas, seolah susunan kata telah cukup menggantikan kerja berpikir.

Pola yang muncul sulit disamarkan, ketergesaan yang digerakkan oleh refleks, jauh dari proses yang matang. Uraian tentang bentuk konsolidasi tidak pernah hadir, kerangka demokrasi yang dirujuk dibiarkan kabur, dan disiplin makna tidak dijaga. Kalimatnya terdengar tegas, rapuh saat disentuh; tampak berani, canggung saat diminta peta jalan. Pernyataan itu berfungsi sebagai umpan wacana yang dilempar untuk memancing respons cepat, lalu membiarkan beban penjelasan terdistribusi ke para pendengar yang mengisinya sesuai hasrat dan prasangka yang telah mereka miliki sebelumnya.

Dalam tradisi intelektual, kekaburan seperti ini menandai gagasan yang belum pernah benar-benar selesai dipikirkan. Kekaburan sekaligus menyediakan ruang aman bagi pembicara untuk menghindari pengujian, karena makna dapat digeser setiap saat tanpa pernah benar-benar dipertanggungjawabkan. Karl Popper menempatkan kejelasan sebagai syarat agar sebuah pernyataan layak diuji, sebab tanpa itu, sebuah gagasan mudah merosot menjadi rangkaian bunyi yang bergaung di muka gua, nyaring terdengar, namun gagal menjelaskan kedalaman.

Persoalannya bergerak dari isi ke cara bahasa diperlakukan. Pernyataan Saiful Mujani menunjukkan pola yang semakin lazim dalam retorika kontemporer, di mana diksi dipilih karena daya pantulnya di ruang publik, sementara ketepatannya dalam memetakan realitas ditangguhkan. Kalimat dirancang untuk segera beredar, mengundang reaksi, dan menampilkan ketegasan di permukaan, sementara struktur berpikir yang menopangnya tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Dalam pernyataannya, pola bahasa yang digunakan oleh Saiful Mujani bergerak menjauh dari upaya menjelaskan realitas dan condong pada penciptaan kesan yang cukup kuat agar terdengar seperti penjelasan. Ia mengulang susunan yang sama dalam berbagai tafsir tanpa pernah menambatkan makna pada satu pijakan yang dapat diuji. Jarak antara analisis dan performa menipis hingga keduanya bertukar tempat tanpa disadari. George Orwell pernah menunjukkan bagaimana bahasa yang kehilangan disiplin dapat membuat sesuatu yang kabur terdengar sebagai kebenaran, cukup dengan memastikan ia terdengar meyakinkan.

Cara bahasa digunakan pada akhirnya menentukan apakah sebuah pernyataan mampu bertahan ketika berhadapan dengan realitas yang tak dapat dielakkan. Pemerintahan Prabowo Subianto berdiri di atas legitimasi yang terbentuk melalui proses yang jelas dan terbuka. Kualitas semacam itu menuntut kritik yang sepadan, kritik yang lahir dari ketelitian, ketepatan makna, dan kesediaan untuk mempertanggungjawabkan setiap istilah yang digunakan hingga tuntas.

Bagi Saiful Mujani, yang lebih mendesak saat ini adalah meluangkan waktu untuk menuntaskan pikiran sebelum melepaskan kalimat, memastikan setiap istilah memiliki pijakan sebelum beredar di ruang publik, dan menahan diri dari dorongan untuk mempercepat bunyi melebihi kedalaman. Bagi para pendukungnya, kehati-hatian dalam menyerap dan mengulang pernyataan akan memberi bobot yang lebih tahan uji daripada memproduksi pantulan secara tergesa padahal belum paham sepenuhnya. Sebab negara hari ini tidak kekurangan suara; yang mulai langka adalah kesediaan untuk berpikir hingga tuntas sebelum memilih untuk bersuara.

Berita Terkait

Diskominfo Nagan Raya Gelar Pembinaan Teknis Lanjutan EPSS untuk Perkuat Tata Kelola Data Statistik Sektoral
Tasyakur Ke -9 Dan Pelepasan Murid MIN 3 Nagan Raya Tahun Ajaran 2025-2026.
Breaking News : Satu Warga Nagan Raya Ditemukan Tidak Bernyawa Lagi Di Rumah Transmigrasi Desa Blang Lango
Breaking News : Satu Warga Nagan Raya Ditemukan Tidak Bernyawa Lagi Di Gebuk Transmigrasi Desa Blang Lango
Bupati TRK Diwakili Plt Sekda Ikuti Peresmian Operasional 1.061 KDKMP Secara Virtual
PT Socfindo Semayam Salurkan Bantuan Sembako untuk Penyandang Disabilitas
Tolak Tambang Beutong Ateuh, Mantan Anggota DPRK Nagan Raya Minta Pemkab Cabut Izin
Anggota RAPI Nagan Raya Bertakziah Kerumah Almarhumah ADRI Anggota RAPI Nagan Raya

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 18:13 WIB

Kacabdisdik Wilayah Aceh Tenggara Sampaikan Ucapan Idul Adha, Ajak Masyarakat Perkuat Ketakwaan dan Kepedulian Sosial

Kamis, 21 Mei 2026 - 22:54 WIB

Kepala SMA Negeri 1 Rikit Gaib Sampaikan Ucapan Idul Adha 1447 H, Ajak Tingkatkan Keikhlasan dan Semangat Berbagi

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:31 WIB

Kepala SMA Negeri 1 Lawe Sigala-Gala Sampaikan Ucapan Idul Adha, Ajak Siswa Perkuat Karakter dan Kepedulian Sosial

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:29 WIB

Kadis Perhubungan Aceh Tenggara Sampaikan Ucapan Idul Adha, Ajak Masyarakat Perkuat Kebersamaan dan Keselamatan

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:26 WIB

Sekda Aceh Tenggara Yusrizal Sampaikan Ucapan Idul Adha, Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Semangat Pengabdian

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:23 WIB

Kepala Dinas Sosial Aceh Tenggara Bahagia Wati Sampaikan Ucapan Idul Adha, Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian Sosial

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:21 WIB

Kepala BPBD Aceh Tenggara Mohd. Asbi Sampaikan Ucapan Idul Adha, Ajak Masyarakat Perkuat Kepedulian dan Semangat Kebersamaan

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:19 WIB

Ketua DPRK Aceh Tenggara Denny Febrian Roza Sampaikan Ucapan Idul Adha, Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Kepedulian Sosial

Berita Terbaru