Dikepung Bau dan Lalat: Warga Prapat Titi Panjang Desak Peternakan Ayam Ditutup

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 2 Juni 2025 - 12:24 WIB

50622 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tenggara | Senin, 2 Juni 2025 — Rasa nyaman warga Desa Prapat Titi Panjang, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara terusik sejak kehadiran sebuah peternakan ayam petelur di tengah-tengah permukiman. Bukan hanya karena bau menyengat, tetapi juga karena serbuan lalat yang kini hadir nyaris setiap saat di rumah-rumah warga. Keluhan telah berulang kali disampaikan, namun hingga kini belum ada tindakan nyata dari pihak pemerintah daerah.

Peternakan ayam petelur tersebut menampung sekitar 3.000 ekor ayam. Meski secara ekonomi dianggap memberi manfaat bagi pemilik usaha, sebagian warga justru merasa sebaliknya. Mereka mendesak agar aktivitas peternakan itu dihentikan atau dipindahkan dari kawasan pemukiman.

Tim  Media yang mewawancarai warga pada Sabtu, 31 Mei 2025, mendapati keresahan mendalam dari masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bau kotoran ayam itu sangat menyengat, apalagi saat angin kencang. Belum lagi lalat, sudah seperti wabah. Kami makan saja tak tenang, lalat hinggap di piring dan gelas,” ujar Zulfikar, warga yang rumahnya hanya berjarak puluhan meter dari lokasi kandang ayam.

Zulfikar mengaku dirinya dan keluarga kini jarang duduk di teras rumah. Dulu, suasana sore yang biasanya menjadi waktu bersantai kini tergantikan dengan aroma tak sedap dan gangguan lalat.

“Kami ingin peternakan ini ditutup atau minimal dipindahkan dari lingkungan tempat tinggal. Ini sudah mencemari kenyamanan dan kesehatan,” tambahnya.

Sementara itu, pemilik peternakan yang diwawancarai pada Minggu, 1 Juni 2025, menyampaikan bahwa pihaknya sudah menjalankan manajemen kebersihan secara berkala.

“Kami membuang kotoran ayam setiap dua hari sekali dan ada tiga bak penampungan limbah yang kami kuras setiap minggu,” kata pemilik peternakan, yang enggan namanya disebut.

Menurutnya, pagar tinggi telah dibangun untuk mengurangi dampak lingkungan, dan semua perizinan usaha telah dikantongi dari instansi terkait.

“Terkait keluhan warga, dari awal kami sudah antisipasi. Kami tidak berniat merugikan siapa pun. Justru kami harapkan ada bimbingan dari OPD agar usaha ini bisa berjalan dengan baik dan tidak mengganggu masyarakat,” jelasnya.

Warga menilai Pemkab Aceh Tenggara terlalu lamban dalam menangani keluhan yang sudah berlangsung cukup lama. Beberapa warga bahkan berencana mengajukan laporan resmi ke Dinas Lingkungan Hidup dan Satpol PP.

“Kalau pemerintah tidak turun tangan, kami akan datangi DPRK dan laporkan secara resmi. Ini bukan soal ekonomi semata, tapi kenyamanan dan kesehatan masyarakat,” tegas Munawir, tokoh pemuda desa.

Sebelumnya, media Tim Media  juga melaporkan bahwa sejumlah warga telah menyampaikan protes kepada pemerintah setempat, mendesak agar aktivitas peternakan itu ditinjau ulang secara menyeluruh.

Secara aturan, peternakan berskala sedang hingga besar seharusnya tidak dibangun di tengah kawasan permukiman padat, apalagi jika belum memenuhi analisis dampak lingkungan (UKL-UPL). Warga mempertanyakan apakah pengawasan rutin benar-benar dilakukan oleh dinas teknis seperti Dinas Peternakan dan Lingkungan Hidup Aceh Tenggara.

Jika terbukti mengganggu lingkungan dan kenyamanan warga, maka pemerintah daerah punya kewajiban menertibkan, bahkan menutup usaha tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemkab Aceh Tenggara. Namun tekanan dari warga semakin kuat. Di satu sisi, usaha mandiri seperti peternakan perlu didukung sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, hak warga untuk hidup dalam lingkungan yang sehat dan nyaman juga wajib dihormati.

Konflik ini menjadi cermin pentingnya keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keselamatan sosial-lingkungan. Masyarakat kini menanti: apakah pemerintah akan bertindak, atau justru membiarkan keluhan warga terus menguap tanpa jawaban?  (Tim)

Berita Terkait

Diterjang Banjir Akhir 2025, Yahdi Hasan Kucurkan Dana Reses II Tahun 2026 Membangun 50 Bronjong Darurat di D.I Irigasi Kuta Tinggi.
Polres Aceh Tenggara Gelar Razia Malam, Sopir Travel Bermuatan Berlebih Ditegur Humanis
Diduga Dana Ketahanan PangaDana Ketahanan Pangan Rp120 Juta di Kute Lawe Kongker Diduga Belum Jelas Penggunaannya, Warga Pertanyakan Transparansi Pengulu
Polres Aceh Tenggara Perkuat Sinergi Penegakan Hukum Melalui Sosialisasi KUHAP Tahun 2025
Oknum Kepala SD N Trt Seperai ( SS) kuasai Barang Bekas Rehab Sekolah.”Diduga tampa Proses Lelang
BPJN 3.5 Tuntaskan Pembersihan Lumpur Pascabanjir di Jalur Nasional Aceh Tenggara hingga Lawe Tua Persatuan
Oknum Kepala SD N Trt Seperai Diduga Kangkangi Impres no 7 tahun 2025. dan Boyong barang Bekas Bangunan ke Rumahnya
Putri Penulis Ahmad Bahar Laporkan Hercules ke Polda Metro Jaya, Dugaan Penyekapan hingga Intimidasi Mencuat

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 16:48 WIB

Pasacsarjana Umuslim Yudisium 147 lulusan Angkatan V

Jumat, 15 Mei 2026 - 02:24 WIB

JASA Bireuen Dukung Penuh Pergub JKA 2026: Bukti Keberpihakan Pemerintah Aceh kepada Rakyat

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:54 WIB

Bea Cukai Lhokseumawe Perkuat Pendampingan Industri Hasil Tembakau Lewat Customs Visit Customer di Bireuen

Jumat, 24 April 2026 - 04:33 WIB

Iswahyudi Terima SK DPP PAN, Konsolidasi Politik PAN Bireuen Diperkuat Jelang Agenda Strategis Daerah

Minggu, 12 April 2026 - 18:48 WIB

350 Hektare Sawah di Gandapura Terselamatkan dari Ancaman Gagal Panen, Respons Cepat Pemerintah Jadi Kunci

Rabu, 1 April 2026 - 20:47 WIB

Aksi Kemanusiaan Bea Cukai Lhokseumawe Salurkan Lebih dari 7 Ton Bantuan untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh

Jumat, 27 Maret 2026 - 00:32 WIB

Aksi Kemanusiaan Bea Cukai Lhokseumawe Salurkan Lebih dari 7 Ton Bantuan untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh

Jumat, 27 Februari 2026 - 00:24 WIB

Salurkan Bantuan, Bea Cukai Lhokseumawe ke Gampong Teupin Raya

Berita Terbaru