Air Telah Surut, Bener Meriah Menanti Pemulihan Nyata

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:07 WIB

50358 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Haris.SE
Sekretaris Asosiasi Pemuda Desa
Kabuoaten Bener Meriah

Air memang telah surut dari halaman-halaman rumah warga di Kabupaten Bener Meriah. Lumpur yang kemarin menggenang kini mulai mengering di sela-sela lantai dan dinding. Jalan yang sempat terputus perlahan kembali terbuka. Aktivitas tampak bergerak lagi, seakan kehidupan telah kembali seperti biasa.

Namun sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar biasa setelah bencana lewat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sudut-sudut rumah yang retak, ada tatapan yang belum pulih. Di atas tikar yang dijemur di bawah matahari, ada lelah yang tak terlihat. Air boleh saja pergi, tetapi ia meninggalkan sunyi-sunyi yang hanya dipahami oleh mereka yang semalam tidur dengan cemas, yang memeluk anak-anaknya ketika suara gemuruh terdengar dari bukit.

Dan ketika warga mulai mencoba berdamai dengan sisa-sisa luka itu, gempa kecil terus mengguncang hampir setiap hari. Getarannya mungkin tak selalu merobohkan bangunan, tetapi cukup untuk membuat dada kembali berdebar. Di bawah bayang-bayang Gunung Burni Telong, bumi seakan melepaskan napasnya pelan-pelan menggetarkan tanah, mengingatkan bahwa rasa aman belum sepenuhnya kembali. Setiap getaran adalah kecemasan yang datang tanpa undangan, mengetuk pintu hati warga yang belum selesai memulihkan diri.

Di jalan-jalan yang kini bisa dilalui, bekas longsor masih menyisakan luka pada tanah. Mobilitas memang kembali berjalan, tetapi tidak secepat dulu. Hasil panen yang biasanya mudah diangkut kini harus menunggu. Bagi sebagian keluarga, keterlambatan itu berarti tertundanya harapan. Sebab di daerah yang hidup dari tanah dan kebun, setiap hari yang hilang terasa panjang dan berat.

Di sawah, air irigasi belum sepenuhnya mengalir. Saluran tertutup lumpur dan batu. Para petani berdiri memandangi lahan mereka, bukan dengan keluhan, melainkan dengan kecemasan yang dipendam. Masa tanam tak bisa menunggu terlalu lama. Waktu, bagi mereka, bukan sekadar angka di kalender, ia adalah penentu antara cukup dan tidak cukup, antara tenang dan gelisah.

Kebun-kebun kopi yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga pun tak luput dari dampak. Ada batang yang patah, ada akar yang terangkat, ada buah yang gugur sebelum sempat dipetik. Kopi bukan hanya komoditas; ia adalah hasil doa dan keringat bertahun-tahun. Ketika kebun rusak, yang ikut terguncang adalah keyakinan bahwa esok akan lebih baik.

Sungai yang membawa lumpur meninggalkan pendangkalan di banyak titik. Air yang dulu mengalir jernih kini keruh dan berat. Di beberapa wilayah, air bersih mulai sulit didapat. Debit di hulu menyusut, sementara kebutuhan tak pernah berkurang. Bagi sebagian ibu rumah tangga, satu ember air menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan langkah lebih jauh dari biasanya.

Di tengah semua itu, masyarakat tetap berdiri. Mereka membersihkan sisa lumpur dengan tangan sendiri. Mereka memperbaiki pagar, menambal dinding, saling membantu tanpa perlu diminta. Gotong royong tumbuh bukan karena ingin dipuji, tetapi karena tidak ada pilihan lain selain saling menguatkan.

Namun setegar apa pun warga, pemulihan tak boleh berhenti pada ketabahan semata. Rehabilitasi jalan, perbaikan irigasi, normalisasi sungai, penguatan lereng rawan longsor, perlindungan kawasan hulu, serta pemulihan sistem air bersih harus menjadi langkah nyata yang terencana dan berkelanjutan. Lebih dari itu, kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa dan aktivitas alam lainnya perlu diperkuat, agar masyarakat tidak terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Air telah surut. Longsor telah reda.
Namun tanah masih bergetar, dan hati warga masih belajar untuk tenang.

Bagi masyarakat Bener Meriah, pemulihan yang sesungguhnya bukan hanya tentang membangun kembali yang runtuh, tetapi juga memulihkan rasa aman yang retak.

Dalam setiap bencana, yang diuji bukan hanya kekuatan alam dan ketangguhan manusia. Yang diuji adalah kesungguhan kita semua apakah setelah air pergi dan getaran mereda, perhatian juga ikut hilang, atau justru tumbuh menjadi kepedulian yang nyata dan berkelanjutan.

Bener Meriah tidak meminta belas kasihan.
Ia hanya berharap tidak ditinggalkan dalam sunyi, ketika bumi masih sesekali bergetar di bawah kaki warganya.

Berita Terkait

Satresnarkoba Polres Bener Meriah Amankan Sorang Pria Dengan 29 Paket Sabu dan 70 Gram Ganja
Tujuh Ekor Kuda Pacu Hasil Peternakan Gayo Dominasi Babak Final Kebumen Cup 1 Jawa Tengah
Menjaga Amanah Umat: Transparansi dan Akuntabilitas Sebagai Pilar Kepercayaan Terhadap Lembaga Amil Zakat
SMP Negeri 1 Bukit Gelar Prosesi Adat Penyerahan Murid Ku Tengku Guru
Pemberontakan Kegamangan Eksistensialis Manusia
Bener Meriah Raih 11 Medali Emas, 10 Medali Perak Dan 7 Medali Perunggu
Munyerah Murid Ku Tengku Guru Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda Asal Kabupaten Bener Meriah
Hari Pertama Pelaksanaan Taekwondo Aceh Student Championship 2026, Bener Meriah Boyong Empat Medali

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:43 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Upacara Penurunan Bendera HUT RI ke-81, “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”

Selasa, 18 Agustus 2026 - 01:16 WIB

Prestasi Pendidikan Aceh Tenggara Makin Diperhitungkan, Piagam Nasional Diborong di HUT RI

Selasa, 18 Agustus 2026 - 01:15 WIB

Deretan Prestasi Nasional, Dunia Pendidikan Aceh Tenggara Panen Penghargaan di HUT RI ke-81

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Semangat Kemerdekaan, Wakapolres Aceh Tenggara Pimpin Upacara HUT RI ke-81 di Mapolres

Senin, 17 Agustus 2026 - 11:46 WIB

BPKD Aceh Tenggara: HUT ke-81 RI Jadi Momentum Memperkuat Semangat Persatuan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Hadir di Tengah Putra-Putri Terbaik Aceh Tenggara, Paskibraka Resmi Dikukuhkan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 02:25 WIB

Kepala SMA Negeri 1 Lawe Sigala Gala Mengucapkan Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia

Minggu, 16 Agustus 2026 - 02:17 WIB

Kepala BPKD Aceh Tenggara Mengucapkan Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Berita Terbaru