ACEH SELATAN | Lingkungan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Simpang Ulim, Aceh Timur, kini menjadi gersang setelah puluhan pohon besar di area sekolah ditebang habis. Kondisi tersebut memicu aksi protes serta mogok belajar yang dilakukan oleh para siswa di kantor guru dan kepala sekolah setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi protes ini dipicu oleh kebijakan kepala sekolah, Laina Fariyani, yang memerintahkan penebangan seluruh pohon di lingkungan sekolah. Para siswa merasa keberatan karena pohon-pohon yang telah tumbuh selama 10 hingga 15 tahun tersebut berfungsi sebagai penyaring udara alami dan penurun suhu yang memberikan kenyamanan saat cuaca panas. Ketidakpuasan siswa juga dituangkan dalam bentuk surat terbuka yang menyuarakan protes atas tindakan tersebut, yang menurut mereka hanya didasarkan pada alasan estetika atau selera pribadi.
Salah satu siswa mengungkapkan bahwa ketika mereka meminta klarifikasi, jawaban yang diterima hanyalah alasan bahwa pohon-pohon tersebut dianggap tidak enak dipandang. Kejadian aksi demonstrasi ini berlangsung pada 23 Oktober 2026, di mana para pelajar menuntut penjelasan resmi serta pertanggungjawaban dari pihak sekolah terkait hilangnya ruang terbuka hijau di lingkungan mereka.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur, Rahputra, memberikan klarifikasi. Ia membenarkan adanya aksi demo oleh para siswa, namun menjelaskan bahwa penebangan pohon tersebut dilakukan atas perintah dinas. Menurutnya, pohon-pohon tua tersebut harus ditebang karena akar yang terus membesar dikhawatirkan dapat merusak fondasi bangunan dan memecahkan lantai kelas. Selain itu, dahan-dahan yang sudah melebar dinilai berisiko memperparah kerusakan pada bagian atap sekolah, sehingga langkah tersebut diambil sebagai upaya mitigasi kerusakan infrastruktur sekolah. (*)









































