Gayo Lues — Perjalanan panjang selama lebih dari 15 jam ditempuh oleh para relawan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Tanggap Bencana atau Bagana Aceh demi menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Teripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Kawasan ini masih terisolasi sejak bencana melanda pada akhir November 2025, menyusul kerusakan infrastruktur dan sulitnya akses jalur darat menuju lokasi.
Dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Khusus Nasional (Kasatsusnas) Bagana, Mahdani Hamzah, bersama Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Aceh, Azwar A Gani, rombongan relawan bergerak dari berbagai titik di Aceh. Mereka membawa bantuan logistik yang mencakup kebutuhan dasar warga, seperti bahan pangan, perlengkapan harian, tenda darurat, hingga alat penerangan untuk wilayah yang masih belum tersentuh jaringan listrik pascabencana.
Misi kemanusiaan tersebut berlangsung lintas kabupaten dengan menempuh medan yang sulit dan ekstrim. Jalur menuju Teripe Jaya diketahui merupakan salah satu wilayah paling terdampak, di mana beberapa dusun hingga saat ini masih mengalami gangguan distribusi bantuan akibat akses transportasi yang terputus oleh longsor dan jembatan yang rusak. Kondisi geografis Gayo Lues yang berada di kawasan pegunungan turut memperparah situasi, menyulitkan kendaraan roda empat melintasi titik bahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran relawan Bagana disambut hangat oleh warga setempat yang sejak beberapa pekan terakhir bertahan dengan stok pangan terbatas. Bagi sebagian warga, bantuan yang dibawa oleh relawan menjadi gelombang dukungan pertama yang tiba sejak pascabencana. Mahdani Hamzah, dalam keterangannya di lokasi distribusi bantuan, menegaskan bahwa misi ini adalah bentuk komitmen Banser Tanggap Bencana dalam menjawab langsung kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil. “Kami hadir untuk memastikan bahwa tidak ada warga yang tertinggal dari bantuan kemanusiaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Azwar A Gani menyampaikan bahwa momentum ini bukan hanya tentang membawa logistik, tetapi juga sebagai upaya merawat kepedulian sosial antarwarga bangsa di tengah kondisi krisis. Ia menegaskan pentingnya kerja sama lintas organisasi dalam merespons bencana, terutama di daerah-daerah yang memiliki tantangan geografis luar biasa seperti Gayo Lues.
Selain membawa logistik, relawan turut melakukan asesmen awal terhadap kebutuhan lanjutan di lapangan, termasuk kondisi kesehatan warga, ketersediaan air bersih, serta kebutuhan hunian sementara. Informasi dari asesmen tersebut akan menjadi dasar pengiriman bantuan tahap berikutnya dan perencanaan intervensi jangka menengah hingga masa pemulihan.
Relawan yang terlibat berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh. Sinergi ini mencerminkan semangat gotong royong yang terus dijaga oleh elemen-elemen masyarakat sipil, khususnya di bawah gerakan pemuda dan keagamaan. Keseluruhan proses distribusi bantuan dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip keselamatan dan keamanan para relawan, mengingat kondisi lapangan yang tidak sepenuhnya stabil serta potensi risiko susulan dari bencana.
Dalam jangka pendek, Bagana Aceh bersama jaringan relawan lokal dan organisasi kemanusiaan lainnya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga tanggap darurat untuk menjaga kesinambungan bantuan. Langkah ini dianggap krusial mengingat banyaknya desa yang masih membutuhkan dukungan logistik lanjutan, baik dalam bentuk pangan, layanan kesehatan, maupun pendampingan psikososial.
Bencana alam di Gayo Lues menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan pembangunan sistem tanggap darurat berbasis lokal. Ketahanan komunitas tidak hanya dibentuk melalui infrastruktur, tetapi juga dari solidaritas dan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjawab situasi darurat. Di medan yang berat dan sepi dari sorotan, misi kemanusiaan relawan Banser Bagana menjadi salah satu wujud nyata dari upaya menjangkau yang terjauh dan melayani yang terlemah. (*)








































