Aceh Tenggara, Baranews – Warga Desa Lawe Tua Gabungan, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kutacane, Aceh Tenggara, digegerkan dengan temuan seorang pria yang meninggal dunia dengan cara gantung diri. Korban diketahui bernama Suparman Panjaitan (32), seorang petani yang sehari-hari tinggal bersama istri dan anaknya di rumah orang tua.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (24/8/2025) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Korban pertama kali ditemukan oleh ibunya, Termin Br. Siagian (60), yang saat itu hendak mengecek kondisi anaknya di kamar. Betapa terkejutnya sang ibu ketika melihat Suparman sudah tergantung dengan leher terikat kain panjang. Dalam keadaan panik, ia segera meminta bantuan kepada adik korban, Seteven Panjaitan (23), yang kebetulan sedang berada di warung. Keduanya lalu memanggil anggota keluarga lain, Marolop Panjaitan (45), untuk memastikan keadaan korban. Saat diperiksa bersama, Suparman sudah tak bernyawa.
Kejadian ini segera dilaporkan kepada kepala desa dan kemudian diteruskan ke Polsek Lawe Sigala-gala. Polisi yang tiba di lokasi langsung mengamankan tempat kejadian perkara. Sekitar pukul 04.00 WIB, Unit Inafis Polres Aceh Tenggara datang melakukan identifikasi, lalu membawa jenazah ke RSUD H. Sahudin Kutacane menggunakan ambulans Puskesmas Lawe Sigala-gala. Jenazah sempat diperiksa oleh tim medis, namun keluarga korban menolak dilakukan otopsi dan hanya mengizinkan visum luar. Pada pukul 06.45 WIB, jenazah sudah dipulangkan ke rumah duka di Lawe Tua Gabungan.
Informasi dari keluarga menyebutkan bahwa sebelum kejadian, korban sempat terlibat pertengkaran dengan istrinya, Denti Maris Manalu (32). Percekcokan itu terjadi pada Minggu sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu korban disebut sedang dalam pengaruh minuman tuak. Pertengkaran kian memanas sehingga ibu korban akhirnya mengantar menantu dan cucunya ke rumah keluarga di Desa Lawe Tua Persatuan. Namun ketika kembali, ia mendapati anaknya sudah dalam kondisi tergantung di dalam kamar.
Pihak keluarga juga menyampaikan bahwa Suparman pernah mencoba bunuh diri pada tahun 2023. Tekanan ekonomi dan beban keluarga ditengarai menjadi salah satu pemicu depresi yang dialaminya. Korban sehari-hari bekerja sebagai buruh tani atau upah-upahan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Barang bukti yang diamankan polisi dari lokasi kejadian berupa sehelai kain panjang bermotif batik yang digunakan korban serta pakaian yang dikenakannya.
Kepolisian setempat menyatakan telah melakukan sejumlah langkah penanganan, mulai dari mendatangi TKP, mengamankan barang bukti, hingga meminta visum dari rumah sakit. Namun proses otopsi tidak dilakukan karena ditolak pihak keluarga. Polisi juga sudah melaporkan kasus ini kepada pimpinan di Polres Aceh Tenggara.
Peristiwa tragis yang menimpa Suparman menambah daftar kasus bunuh diri di Aceh Tenggara. Faktor tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, dan riwayat depresi kerap disebut sebagai pemicu tindakan nekat. Polisi mengimbau warga untuk lebih peduli dengan kondisi anggota keluarga maupun lingkungan sekitar, agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Suasana duka kini menyelimuti rumah keluarga besar Panjaitan di Desa Lawe Tua Gabungan. Sanak saudara, kerabat, dan warga desa berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah Suparman dimakamkan. (*)








































