Kutacane, Baranews — Sebuah tayangan siaran langsung berdurasi lebih dari tiga belas menit yang diunggah oleh akun Facebook Agus Liadi Sawang memicu gelombang keprihatinan publik. Video tersebut memperlihatkan kenyataan getir seorang warga di Desa Terandam, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, yang tinggal dalam rumah tak layak huni—sebuah potret kemiskinan yang mencolok di tengah gegap gempita persiapan perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia.
“Di bulan Agustus ini, saat kita merayakan kemerdekaan, tetapi masih ada saudara kita yang hidup seperti ini,” kata Agus dalam video itu sambil menunjukkan kondisi rumah yang nyaris roboh, atap bolong, dinding lapuk, dan lantai tanah yang becek. Seorang perempuan yang disebut sebagai Kak Nur tinggal di tempat itu bersama anaknya, mengais rezeki dari mengumpulkan barang bekas, tanpa jaminan makan pasti setiap hari.
Di tengah ajakan pemerintah untuk mengibarkan bendera merah putih, suara dari Desa Terandam justru menggugah pertanyaan mendasar: apa arti merdeka bagi rakyat yang tak mampu membeli sehelai bendera sekalipun?
“Kalau ini masih disebut negara merdeka, tolong jelaskan pada rakyat seperti kami yang hidup begini,” ujar Agus dengan nada getir. Ia secara terang-terangan menyebut kondisi tersebut bukan sekadar “di bawah garis kemiskinan”, melainkan “tidak layak untuk ditinggali”.
Dalam video itu, ia menyampaikan permohonan terbuka kepada Bupati Aceh Tenggara, Haji Muhammad Salim Fakhri, agar turun tangan langsung melihat kondisi rakyatnya. Ia juga menyebut nama-nama anggota DPRK dan DPRA dari daerah pemilihan Aceh Tenggara, menantang mereka untuk tidur satu malam saja di rumah Kak Nur. “Agar tahu rasanya. Kalau masih bisa tertawa di pesta kemerdekaan, coba datang ke sini dulu,” ujarnya.
Ini bukan kali pertama kondisi rumah tersebut diungkap ke publik. Beberapa tahun lalu, rumah yang sama pernah disorot melalui media sosial oleh akun yang sama, namun tak ada perubahan berarti hingga kini. “Sudah pernah diekspose. Tapi nyatanya, beberapa tahun berlalu, tetap begini juga,” katanya.
Ironisnya, menurut Agus, banyak program bantuan pemerintah justru salah sasaran. “Yang layak malah tidak dapat, yang rumahnya masih bagus malah dibantu,” ujarnya getir.
Tayangan itu pun memuat ajakan yang tidak biasa: agar para pejabat menyisihkan uang pribadi, bahkan uang sisa beli rokok, untuk membangun rumah layak bagi rakyatnya. “Kalau bapak nyumbang dua juta, saya juga dua juta. Walaupun saya rakyat biasa. Kita sama-sama bantu.”
Video tersebut bukan hanya seruan kemanusiaan, tetapi juga teguran moral yang tajam. Disaat elite daerah sibuk berpose di panggung perayaan, masih ada warga yang hidup di tengah lumpur dan dinding lapuk tanpa jaminan masa depan.
“Ini baru satu sudut dari Aceh Tenggara. Masih banyak yang lebih parah dari ini,” katanya di akhir video, sebelum menutup dengan salam dan harapan agar video itu sampai ke telinga pejabat pusat, bahkan Presiden.
Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara maupun para anggota legislatif yang disebutkan. Namun unggahan dari akun Agus Liadi Sawang ini telah ditonton lebih dari 14 ribu kali dan memantik diskusi hangat di berbagai lini media sosial: tentang siapa sebenarnya yang telah benar-benar merdeka. https://www.facebook.com/agus.l.sawang/videos/2591184214565152
(RED)








































