GAYO LUES | Proses pembersihan jalan nasional yang menghubungkan Takengon dan Gayo Lues terus berlangsung setelah bencana tanah longsor dan banjir bandang menyebabkan terputusnya akses utama di sejumlah titik. Pihak terkait dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh sejak beberapa hari terakhir bekerja siang dan malam guna mengupayakan pembukaan jalur darurat agar lalu lintas kembali berjalan meski masih terbatas.
Dari pantauan lapangan, lebih dari 50 titik longsoran tersebar di sepanjang ruas jalan nasional mulai dari Simpang Uning di Kecamatan Pegasing, hingga perbatasan Kabupaten Gayo Lues. Beberapa di antaranya mengalami kerusakan cukup parah, hingga menyebabkan badan jalan tertutup material lumpur, batu, dan puing pohon. Kondisi ini sempat membuat jalur Takengon–Gayo Lues lumpuh total dan kendaraan tidak bisa melintas selama beberapa hari akibat intensitas hujan yang tinggi di wilayah tengah Aceh.
Pekerjaan besar dikerjakan oleh satuan pelaksana dari Kementerian Pekerjaan Umum, terutama melalui PPK 33 yang membawahi ruas Simpang Uning hingga IC-IS. Rabu, 7 Januari 2026, akses darurat sudah berhasil ditembus. Kendaraan roda dua dan roda empat kini sudah mulai bisa melintasi jalur tersebut, meski dengan pengamanan ketat dan pengawasan karena jalan belum sepenuhnya stabil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihak teknis menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan kelancaran akses bagi distribusi kebutuhan pokok serta mobilitas masyarakat yang sempat terputus. Pada beberapa titik yang menjadi lokasi longsor besar, alat berat terus dikerahkan untuk mempercepat pembersihan dan perataan badan jalan. Adapun jalur dari Pegasing hingga Linge menjadi sektor rawan karena kontur tanah yang labil serta dekat dengan aliran sungai yang sebelumnya meluap.
Dalam penanganan jangka pendek, jalur darurat akan terus diperkuat agar mampu menahan beban kendaraan logistik dan operasional penyelamatan. Sementara itu, pada bulan Februari mendatang, diperkirakan akan dimulai tahap pemeliharaan dan perbaikan permanen terhadap beberapa segmen jalan nasional yang rusak berat. Langkah ini direncanakan mencakup penguatan struktur jalan, pengendalian tebing rawan longsor, serta pemulihan drainase untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Masyarakat yang sempat terdampak langsung oleh terputusnya akses jalan mengungkapkan harapan agar proses normalisasi dapat terus dipercepat. Pasalnya, keterbatasan akses tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan, namun juga menghambat distribusi bantuan bagi warga yang berada di wilayah terpencil.
Pihak berwenang mengingatkan pengendara untuk tetap waspada saat melintasi jalur Takengon–Gayo Lues, terutama ketika terjadi hujan deras yang berpotensi memicu longsor susulan. Koordinasi lintas instansi terus berjalan guna menjamin stabilitas arus transportasi dan memperkuat sistem respons cepat bencana di wilayah yang masuk dalam zona rawan longsor.
Dengan intensitas kerja yang terus dijaga oleh petugas di lapangan, progres pemulihan infrastruktur jalan nasional ini menandai langkah awal pemulihan pascabencana di wilayah tengah Aceh. Koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga konektivitas antarwilayah, terutama di jalur vital seperti Takengon–Gayo Lues yang memegang peranan strategis dalam aktivitas harian dan ekonomi masyarakat. (*)









































