slot preparation.lsrs.lu

Otoriterianisme Sipil Pemicu Reformasi Kebablasan

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 8 Juni 2025 - 07:11 WIB

50400 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Reformasi sebagai orde yang menandai berakhirnya kekuasaan orde baru yang kental dengan rezim militer,dan dicap mengatasnamakan demi stabilitas, telah membrangus nilai demokrasi dan kebebasan individu. Orde reformasi yang dimulai sejak 21 mei 1998, sebagai gerakan koreksi terhadap tatanan politik, ekonomi, hukum dan social budaya legacy rezim orde baru. Menurut Yeni Wahid, reformasi sejatinya mengurus masa depan demi kemaslahatan bersama, bukan terus menerus mencari musuh bersama dan melampiaskan balas dendam.

Reformasi dengan agenda besar berisi 6 (enam) tuntutan yaitu Adili Soeharto dan pengikutnya, Amandemen UUD 1945, Otonomi daerah seluas-luasnya, Hapus dwifungsi ABRI, Hapus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), Tegakkan supremasi hukum. Refleksi 25 tahun sudah berjalan reformasi, menunjukan tanda-tanda kebablasan atau jauh panggang dari api. Reformasi hanya memposisikan TNI sebagai musuh bersama, bahkan ingin mengeliminasi peran TNI sebagai garda terdepan pengawal kedaulatan negara. Sementara reformasi telah membangun otoritarianisme sipil yang memanipulasi hukum untuk membrangus kekuatan oposisi dan kebebasan demokrasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Otoritarianisme sipi memonopoli sumber-sumber ekonomi, sehingga korupsi justru lebih merajalela dibanding periode orde baru. Otoritarianisme sipil telah melahirkan politik dinasti, bentuk nepotisme yang lebih berbahaya ketimbang periode orde baru. Reformasi telah menciptakan model pendidikan yang mengabaikan nilai-nilai dan budaya yang selama ini disepakati sebagai arah kehidupan berbangsa bernegara, mengakibatkan lahir generasi muda yang terpapar ide liberalism, individualism dan radikalisme.

Wajah reformasi ternyata penuh dengan polesan kosmetika politik, untuk menutupi bopeng reformasi. Reformasi telah dijadikan alat untuk memenuhi sahwat balas dendam sipil, tanpa mempertimbangkan dampak kerusakan terhadap kelangsungan hidup berbangsa bernegara. Supremasi sipil telah berubah menjadi eforia sipil untuk menguasai politik, ekonomi, hukum, tanpa memiliki rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup negara.

Sudah saatnya kita berani jujur demi kemaslahatan bangsa ini, bahwa reformasi telah digagalkan oleh otoritarianisme sipil, bukan oleh niat TNI untuk mengembalikan dwi fungsi TNI

Berita Terkait

Ketika Google Menjadi Pilihan Pertama, Di Mana Posisi Perpustakaan?
DPC dan 10 PAC PPP Nagan Raya Nyatakan Sikap, Serukan Persatuan dan Kekompakan Kader
Festival Santri Dayah MUQ Nagan Raya Jadi Ajang Unjuk Bakat, Siswa MIN 3 Raih Tiga Penghargaan
Wagub Aceh Sampaikan Duka Mendalam atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera
LSM ABA Dukung Kapolri Usut Tuntas Dugaan Penyadapan Presiden, Suryadi: Jangan Ada yang Kebal Hukum!
Pererat Kemitraan dengan Forkopimda dan Lintas Sektor, PWI Nagan Raya Gelar Makan Siang Bersama
Kapolres Nagan Raya Berikan Penghargaan kepada 63 Personel Berprestasi, Apresiasi Dedikasi dan Kinerja dalam Pelaksanaan Tugas
Jamaluddin Idham Raih Penghargaan JAB Award 2026 sebagai Wakil Rakyat Responsif dan Aspiratif

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 17:30 WIB

Bareskrim Usut Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Wapres Gibran, Putusan MK Jadi Rujukan Penyidik

Jumat, 6 November 2026 - 17:27 WIB

Jokowi Hormati Proses Hukum Terkait Wacana Pemakzulan Wapres Gibran

Jumat, 6 November 2026 - 17:05 WIB

Dasco Minta Komisi III Pantau Berkala Kasus Penyadapan Presiden yang Seret Eks Kapolri

Jumat, 6 November 2026 - 17:01 WIB

Irjen Ahrie Sonta Bersikap Kooperatif dan Siap Buka Tabir Kasus Dugaan Penyadapan Presiden

Jumat, 6 November 2026 - 16:37 WIB

Presiden Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Dubes Asing di Istana Hari Ini

Jumat, 6 November 2026 - 16:06 WIB

ICW dan Trend Asia Ungkap Belanja Teknologi Pengawasan Polri Capai Rp35,9 Triliun

Jumat, 6 November 2026 - 15:59 WIB

Dua Pejabat Senior KPK Kembali ke Kejaksaan Agung Setelah Lebih dari 10 Tahun Bertugas

Jumat, 6 November 2026 - 15:51 WIB

Pemerintah Buka Rekrutmen CPNS November 2026 untuk Penyegaran dan Program Prioritas

Berita Terbaru