slot preparation.lsrs.lu

Menavigasi Framing dan Hasil Quick Count dalam Pilpres 2024: Sebuah Pandangan Kritis

Redaksi Bara News

- Redaksi

Rabu, 14 Februari 2024 - 21:21 WIB

50771 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Achmad Nur Hidayat, MPP, Pakar Kebijakan Publik dan CEO NARASI INSTITUTE

*Pemahaman Mendalam tentang Quick Count dan Framing*

Dalam dinamika pemilihan presiden Indonesia 2024, terjadi fenomena yang cukup menarik terkait dengan penerapan dan interpretasi hasil Quick Count (QC).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peristiwa ini menciptakan narasi yang menggambarkan kompetisi seolah-olah sudah dimenangkan oleh pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dengan persentase suara yang dilaporkan mencapai 56-58%, sebuah angka yang signifikan jika dibandingkan dengan pesaingnya.

Narasi ini menimbulkan diskusi tentang bagaimana QC memanipulasi persepsi publik terhadap hasil pemilu.

Fakta yang perlu dipahami adalah bahwa QC merupakan alat analisis statistik yang dirancang untuk memberikan gambaran awal tentang hasil pemilu berdasarkan sampel tertentu dari tempat pemungutan suara.

Meskipun berguna, QC memiliki keterbatasan dan margin of error yang harus dipertimbangkan dalam interpretasinya.

Permainan Data Statistik

Bentuk permainan Framing Brain Wash Paska 14 Februari saat ini adalah Glorifikasi Quick Count.

Lihat bagaimana hasil seluruh QC semuanya menangkan Prabowo-Gibran. QC membuat framing bahwa Pilpres 2024 satu putaran dengan kemenangan mutlak untuk pasangan 02.

Lembaga yang memajang QC sebut saja LSI Denny JA, Hasan Hasbi Cyrus, Indikator Burhanuddin, SRMC Saiful Muljadi, Poltracking, Voxpopuli semuanya yang telah lama melakukan framing 1 putaran. Semua lembaga mereka disebut-sebut diokrestrasi pihak tertentu yang berkontestasi.

Refleksi atas Lembaga Survei dan Reputasi Mereka

Beberapa lembaga survei, seperti Voxpopuli, LSI Denny JA, dan lain-lain, yang memiliki sejarah panjang dalam melakukan QC, kembali mendapat sorotan terkait dengan hasil pemilu 2024.

Pengalaman mereka dalam pemilu sebelumnya, termasuk pilkada DKI 2017 dimana beberapa lembaga ini membuat prediksi yang tidak akurat, menambahkan lapisan kompleksitas dalam memahami motivasi dan akurasi di balik angka-angka yang dirilis.

Penting untuk diingat bahwa lembaga survei ini beroperasi dalam lingkungan yang sangat kompetitif dan dinamis, dimana integritas dan kredibilitas menjadi aset utama.

Kesalahan dalam prediksi atau framing dapat berdampak serius terhadap reputasi mereka.

Sebut saja QC LSI Denny JA, menyatakan bahwa pasangan Anies-Sandi berada di posisi buncit dengan perolehan suara 21,4%, sementara pasangan Agus-Sylvi unggul dengan 36,7% dan Ahok-Djarot dengan 32,6% Namun, hasil ini tidak sesuai dengan hasil akhir yang menunjukkan keunggulan pasangan Anies-Sandi.

Dimana akhirnya pasangan Anies-Sandi unggul jauh dengan raihan suara 57,95% dibandingkan Ahok-Djarot yang hanya meraih 42,05% suara,

Respon Publik yang Berinformasi dan Proaktif

Dalam menghadapi dinamika QC dan narasi yang berkembang, respons terbaik dari publik adalah dengan pendekatan yang berinformasi dan kritis.

Pertama, penting bagi masyarakat untuk memahami metodologi di balik QC, termasuk bagaimana sampel dipilih dan apa margin of error yang ada.

Kedua, masyarakat harus menjaga sikap kritis terhadap semua informasi yang diterima, termasuk mempertanyakan sumber dan potensi bias yang mungkin mempengaruhi hasil yang disajikan.

Kesadaran ini sangat penting dalam menjaga integritas proses demokratis, dimana hasil akhir pemilu ditentukan oleh penghitungan suara yang resmi dan transparan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), bukan oleh prediksi awal atau framing oleh lembaga survei.

Sebagai pakar kebijakan publik, saya menilai semua lembaga survei yang merilis QC tersebut sedang melakukan permainan framing brain wash tingkat massal yang sangat besar dan mengerikan.

Saya tidak begitu terkejut karena sudah memprediksi kejadian seperti ini.

Saya menulis ini untuk mengingatkan publik agar tidak terjebak pada permainan ini.

Tujuan QC lembaga survey tersebut adalah framing bahwa pemilu sudah selesai dan pemenang sudah diketahui padahal maksud sejati mereka adalah melemahkan usaha KPU dan Bawaslu serta petugas KPPS untuk berkerja ekstra serius dan hati-hati karena hasil kerja merekalah yang menentukan siapa menang dan siapa salah.

Oleh Karena itu, publik harus tetap ingatkan seluruh petugas KPPS di semua tps untuk tetap waspada dan bekerja dengan baik.

Publik yang terlibat sebagai saksi TPS juga tidak boleh lengah dan lalai karena sebenarnya pemenangnya belum ditentukan dan itu semua tergantung pada kesaksian mereka di tingkat TPS di seluruh Indonesia.

LEMBAGA SURVEI MELEMAHKAN DEMOKRASI INDONESIA

Saya bukan tergolong mereka yang anti lembaga survei. Lembaga survey yang tidak ada konflik kepentingan lebih patut didengar daripada mereka lembaga survey yang menjadi konsultan politik kemenangan dengan motivasi uang bukan edukasi publik.

Oleh karena itu, lembaga survey yang melakukan QC saat ini merupakan lembaga survey yang membodohi publik dan bermaksud jahat terhadap demokrasi Indonesia karena itu publik harus abaikan dan hanya percaya pada hasil KPU berdasarkan proses yang Jurdil yang saat ini sedang diperjuangkan dari tingkat TPS, kelurahan, kabupaten / kota, propinsi dan tingkat nasional.

*Kesimpulan: Menghargai Proses, Menjaga Demokrasi*

Akhirnya, diskusi ini membawa kita pada penghargaan yang lebih dalam terhadap proses demokrasi kita yang sedang berjalan.

Quick Count dan lembaga survei memainkan peran dalam ekosistem demokrasi kita, namun tidak boleh menggantikan atau mendiskreditkan proses pemilihan yang resmi dan transparan.

Dengan mempertahankan sikap kritis dan berinformasi, publik dapat membantu menjaga kekuatan dan integritas demokrasi.

Dalam perjalanan demokrasi, setiap suara penting dan setiap tahapan proses harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian, untuk memastikan bahwa hasil akhir mencerminkan kehendak rakyat secara adil dan jujur.

End

Berita Terkait

Tinjau Kondisi Dermaga Nelayan Sawang Bak U, Jamaluddin Idham Siap Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Pesisir
Skenario Politik 2029: Dinamika di Lingkaran Jokowi dan Prabowo
Manuver Politik di Tengah Pusaran Kasus, Nusron Wahid Ternyata Sudah Mundur dari Pengurus Golkar
Pilih Berpidato Tanpa Teks, Presiden Prabowo Mengaku Abaikan Rekomendasi Pakar
Prabowo Subianto Tebar Janji Pendidikan Gratis dan Senggol Praktik Korupsi di HUT PAN
PAN Tolak Kenaikan Ambang Batas Parlemen, Tegaskan Risiko Suara Rakyat Terbuang
Kemenkum Aceh Resmi Tetapkan Kepengurusan Baru DPP Partai Nusantara Aceh Periode 2026-2031
Dinamika Politik 2029: Poros Kekuasaan Mulai Bergerak di Tengah Pemerintahan Prabowo

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 17:30 WIB

Bareskrim Usut Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Wapres Gibran, Putusan MK Jadi Rujukan Penyidik

Jumat, 6 November 2026 - 17:27 WIB

Jokowi Hormati Proses Hukum Terkait Wacana Pemakzulan Wapres Gibran

Jumat, 6 November 2026 - 17:21 WIB

Mabes Polri Dalami Dugaan Keterlibatan Ketum Parpol dan Aliran Dana Judi Online di Kasus Penyadapan Presiden

Jumat, 6 November 2026 - 17:05 WIB

Dasco Minta Komisi III Pantau Berkala Kasus Penyadapan Presiden yang Seret Eks Kapolri

Jumat, 6 November 2026 - 16:37 WIB

Presiden Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Dubes Asing di Istana Hari Ini

Jumat, 6 November 2026 - 16:06 WIB

ICW dan Trend Asia Ungkap Belanja Teknologi Pengawasan Polri Capai Rp35,9 Triliun

Jumat, 6 November 2026 - 15:59 WIB

Dua Pejabat Senior KPK Kembali ke Kejaksaan Agung Setelah Lebih dari 10 Tahun Bertugas

Jumat, 6 November 2026 - 15:51 WIB

Pemerintah Buka Rekrutmen CPNS November 2026 untuk Penyegaran dan Program Prioritas

Berita Terbaru