BOGOR – Maraknya fenomena ijazah palsu di tengah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional menuai kritik keras. Praktik yang mencederai integritas dunia pendidikan itu dinilai tidak hanya merugikan institusi, tetapi juga mengancam keberlangsungan profesionalisme di sektor-sektor strategis, termasuk layanan publik dan kesehatan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kritik tersebut mengemuka dalam gelaran kuliah umum di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Dalam paparannya, penceramah Abdul Somad menegaskan bahwa kompetensi nyata tidak dapat diperoleh melalui jalan pintas atau dokumen akademik yang tidak absah.
Sorotan tajam diarahkan pada bahaya ketika seseorang tanpa kualifikasi asli memegang tanggung jawab yang bersinggungan langsung dengan nyawa dan nasib orang lain. Profesi dokter menjadi contoh paling nyata. Kegagalan diagnosa medis yang tidak akurat, yang kemudian dieksploitasi demi keuntungan materi, disebut sebagai malapetaka yang nyata dan menjadi cermin betapa fatalnya dampak ketika keahlian digantikan oleh selembar kertas palsu.
Fenomena ini dinilai diperparah oleh mentalitas sebagian generasi yang cenderung menjadi penikmat dan penghancur, bukan pejuang yang membangun bangsa dengan integritas. Ketimpangan antara gelar akademik dan kemampuan teknis di lapangan disinyalir menjadi akar persoalan yang menghambat kemajuan bangsa. Ketika gelar tidak lagi merepresentasikan kompetensi, kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan dan profesi akan runtuh.
Institusi pendidikan tinggi kini dituntut untuk tidak sekadar menjadi pabrik pencetak ijazah, melainkan pusat pembentukan karakter yang beradab dan berdampak. Mahasiswa diingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari selembar kertas, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat luas. Tanpa adab, kompetensi yang dimiliki dianggap kehilangan jiwanya dan berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan pribadi yang destruktif. (*)









































