BANDA ACEH – Senat Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan Simposium Sumpah Pemuda dengan tema “Merawat Persatuan NKRI dalam Bingkai Kepemudaan yang Reformis”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Teater LP2M UIN Ar-Raniry Selasa, 27 Oktober 2026 yang diikuti oleh berbagai organisasi Kepemudaan serta Ormawa Kampus.
Kegiatan Simposium Sumpah Pemuda dibuka langsung oleh Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan masa penjajahan fisik. Namun, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan degradasi moral masih menjadi persoalan yang perlu dikaji dan dicarikan solusinya.
“Hari ini kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan serta degradasi moral pemuda menjadi isu yang memungkinkan dikaji, dipahami, dan yang dilakukan bersama serta refleksi untuk dilakukan perubahan pada masa mendatang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan ekonomi di tengah melimpahnya sumber daya alam Indonesia, termasuk Aceh. Menurutnya, kekayaan alam seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
“Yang kaya makin kaya di negeri ini. Yang miskin untuk makan nanti siang aja dia nggak tahu harus cari di mana berasnya,” ungkapnya.
Ketua Senat Mahasiswa UIN Ar-Raniry, Zuhari, menyampaikan bahwa simposium tersebut tidak hanya membahas peran pemuda dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga mengkaji persoalan nasional dan Aceh yang akan dihadapi generasi penerus.
Ia berharap forum tersebut dapat mendorong mahasiswa melahirkan terobosan, inovasi, dan gagasan baru dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bangsa dan daerah.
“Kita tidak ingin generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Indonesia dan Aceh ini menjadi generasi-generasi yang pengecut dan melempem ke depannya,” kata Zuhari.
Zuhari juga mengkritik perilaku pemimpin yang dinilainya tidak mencerminkan kepentingan masyarakat. Ia mengajak para peserta untuk mendiskusikan berbagai persoalan kepemudaan, nasional, dan daerah sebagai bagian dari upaya mempersiapkan kepemimpinan masa depan.
Ketua Panitia, Muhammad Muthahir, menyampaikan bahwa simposium tersebut merupakan ruang refleksi yang perlu direnungkan bersama. Menurutnya, pemuda tidak hanya menjadi tameng utama dalam pilar kebangsaan, tetapi juga harus berperan sebagai penyeimbang antara pemerintah dan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa peran tersebut penting agar pelaksanaan kebijakan pemerintah tetap berorientasi pada kemaslahatan masyarakat dan bangsa.
Simposium Sumpah Pemuda menghadirkan dua pemateri yang menyampaikan materi dalam forum diskusi, sementara satu pemateri lainnya tidak dapat hadir yang tidak tahu apa alasannya
Pemateri pertama, Zulfata Agapol, membahas peran dan posisi strategis kepemudaan dalam ranah politik nasional. Ia menyebutkan bahwa pemuda saat ini harus memiliki patron dan kiblat dalam menjalankan pergerakan yang masif.
Serbia menjadi salah satu contoh yang disampaikannya dalam menjelaskan bagaimana rasa kesakitan dipendam selama 14 tahun.
Menurutnya, “pemuda harus menjadi tembok utama untuk meluruskan arah perjalanan bangsa dan negara.” Tegasnya
Ia juga mengingatkan agar pemuda tidak menjadi kacung dan berlindung di bawah ketek pemerintahan.
Pemateri kedua, Danil Akbar Taqwidin, menjelaskan materi tentang tantangan era digitalisasi dan globalisasi serta peran pemuda Indonesia dalam menjaga bingkai NKRI.
Ia menyampaikan bahwa “pemuda menghadapi berbagai tantangan di era digitalisasi, terutama dalam menjalankan mandat sebagai penyambung lidah rakyat. Berbagai isu yang berkembang melalui media sosial, menurutnya, tidak mudah dibendung.” Jelasnya
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa pemuda harus menjadi pilar yang mampu menjaga persatuan sekaligus meluruskan isu-isu yang tidak sesuai dengan fakta dan data.
Sementara itu, pemateri ketiga, Ahmad Salihin selaku Direktur WALHI Aceh, dijadwalkan menyampaikan materi bertajuk “Pencerdasan bagi Kalangan Pemuda Aceh untuk Pengabdian kepada Masyarakat dan Lingkungan Hidup”. Namun, ia tidak dapat hadir karena kendala yang tidak ada konfirmasi sama sekali apa alasannya.
Diskusi dalam simposium tersebut dimoderatori oleh Fitria Sundari, Ketua KOHATI HMI Kota Banda Aceh.
Melalui kegiatan ini, Senat Mahasiswa UIN Ar-Raniry menghadirkan ruang diskusi bagi mahasiswa dan organisasi kepemudaan untuk membahas tantangan generasi muda, persoalan kebangsaan, serta peran pemuda dalam menjaga persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.









































