JAKARTA | Memasuki pekan kedua Januari 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap hujan lebat yang dapat disertai petir, kilat, dan angin kencang, sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
BMKG mencatat, intensitas hujan pada periode 6 hingga 12 Januari berada dalam kategori tinggi, dipicu oleh pengaruh beberapa sistem atmosfer berskala global dan regional yang tengah aktif secara bersamaan. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, tanah longsor, serta gangguan keselamatan pelayaran dan penerbangan.
Dalam keterangannya, BMKG mengidentifikasi tiga fenomena utama penyebab tingginya potensi hujan pekan ini. Pertama, pengaruh Monsun Asia yang saat ini berada dalam fase aktif membawa massa udara lembap dari Benua Asia ke wilayah Indonesia, terutama bagian barat dan tengah. Kedua, keberadaan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) di sekitar ekuator Indonesia turut mendukung pembentukan awan hujan skala besar. Ketiga, ditemukannya sirkulasi siklonik di sekitar wilayah perairan utara dan selatan Indonesia memperkuat konvergensi atau pertemuan massa udara, yang pada akhirnya mendorong terjadinya hujan deras secara lebih luas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengikuti perkembangan sistem atmosfer tersebut, BMKG merilis daftar wilayah dengan potensi hujan berintensitas sedang hingga tinggi. Di Sumatera, daerah-daerah seperti Aceh, Sumatera Utara bagian barat, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau masuk dalam kategori waspada. Aceh bagian tengah, seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues, bahkan diperkirakan mengalami hujan berdurasi panjang yang dapat memicu banjir dan longsor.
Sementara itu, Pulau Jawa diprediksi mengalami sebaran cuaca ekstrem yang hampir merata. Wilayah seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat (terutama Bogor, Depok, dan Bandung Raya), hingga Jawa Timur berpotensi menerima curah hujan harian yang tinggi, umumnya terjadi pada sore hingga malam hari. Kejadian hujan mendadak dan disertai angin kencang menjadi fenomena yang paling diantisipasi dalam sepekan ke depan.
Di wilayah timur Indonesia, cuaca ekstrem turut mengancam beberapa daerah di Sulawesi. Di Sulawesi Selatan, seluruh kawasan pesisir termasuk Kota Makassar, Gowa, Maros, dan Takalar diprediksi mengalami hujan lebat yang dapat disertai petir. Di sisi barat dan tenggara, beberapa wilayah di Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara diminta waspada terhadap potensi genangan air, serta gelombang laut tinggi di perairan sekitar Selat Makassar.
Kalimantan pun tidak luput dari curah hujan tinggi. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan dipetakan mengalami cuaca basah selama sepekan. Di kawasan Indonesia bagian timur, kerawanan serupa dinilai terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, dengan potensi hujan berdurasi panjang. Sedangkan di Maluku dan Papua bagian tengah, peningkatan pembentukan awan hujan diperkirakan cukup signifikan, utamanya di wilayah pegunungan.
BMKG mengingatkan bahwa cuaca ekstrem berpotensi memicu berbagai bencana turunan. Segala bentuk bencana hidrometeorologi basah, seperti genangan, banjir, tanah longsor, hingga kerusakan infrastruktur publik karena angin kencang, lebih mungkin terjadi jika antisipasi di tingkat lokal tidak dilakukan secara dini.
Tanah longsor menjadi salah satu risiko yang meningkat, terutama di kawasan pegunungan dan lereng perbukitan curam. Beberapa wilayah dengan kontur tanah labil seperti bagian tengah Aceh dan selatan Jawa Barat diminta melakukan pemantauan secara berkala terhadap pergerakan tanah, terutama pascakejadian hujan berintensitas tinggi selama beberapa hari berturut-turut.
Gelombang tinggi juga menjadi perhatian serius. Dalam laporannya, BMKG mengamati potensi gelombang laut mencapai lebih dari 2,5 meter di sejumlah perairan, antara lain Selat Makassar, Laut Flores, hingga perairan selatan Jawa dan Bali. Aktivitas kelautan, khususnya bagi nelayan tradisional dan pengguna kapal kecil, dianjurkan untuk ditunda guna menghindari risiko kecelakaan di laut.
BMKG mengajak masyarakat untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain membersihkan saluran air di lingkungan rumah agar aliran air hujan tidak tersumbat, serta memangkas ranting pohon besar guna mengurangi risiko akibat angin kencang. Warga juga diimbau untuk tidak berlindung di bawah pohon atau baliho ketika hujan disertai kilat melanda.
Pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, diminta untuk mengoptimalkan sistem peringatan dini dan terus memperbarui informasi melalui kanal resmi BMKG. Aplikasi daring seperti InfoBMKG dapat dimanfaatkan untuk memperoleh data prakiraan cuaca serta peringatan dini di tingkat kecamatan secara real time.
Peringatan cuaca ini akan terus diperbarui karena sifat atmosfer yang dinamis. BMKG menekankan pentingnya akses informasi harian bagi masyarakat demi meminimalkan dampak dan korban akibat cuaca ekstrem. Kesiagaan kolektif menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi alam yang tidak menentu sepanjang awal tahun ini. (*)







































