HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

BMKG Prediksi Curah Hujan Tinggi di Sebagian Besar Wilayah Indonesia pada Januari 2026

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026 - 00:41 WIB

50357 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA |  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan curah hujan bulanan untuk periode Januari 2026. Berdasarkan peta yang diperbarui pada 1 Desember 2025, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, dengan nilai curah hujan mencapai lebih dari 300 milimeter per bulan di beberapa wilayah.

Hasil analisis ini didasarkan pada data model ansambel dari ECMWF (European Centre for Medium-Range Weather Forecasts) yang telah dikoreksi oleh sistem pemodelan BMKG. Peta curah hujan ini menjadi rujukan penting dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air di berbagai daerah.

Wilayah Indonesia bagian barat hingga selatan menjadi fokus utama dengan prediksi hujan tinggi pada awal tahun. Bagian selatan Sumatera mencakup Lampung, Sumatera Selatan, serta sebagian wilayah Bengkulu dan Jambi menunjukkan warna hijau tua yang mengindikasikan curah hujan tinggi, bahkan sangat tinggi di beberapa tempat. Sementara itu, hampir seluruh Pulau Jawa diprediksi mengalami curah hujan lebat dengan intensitas di atas 300 milimeter, terutama di bagian selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur juga diperkirakan menerima curah hujan tinggi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan prediksi untuk wilayah utara Sulawesi dan sebagian Maluku, yang masih menunjukkan curah hujan menengah, berkisar antara 100–200 milimeter per bulan. Di wilayah Kalimantan, peta menunjukkan distribusi curah hujan bervariasi. Kalimantan bagian tengah dan timur diprediksi mengalami curah hujan menengah hingga tinggi, sementara Kalimantan Utara dan sebagian Kalimantan Tengah berada pada kategori curah hujan rendah hingga menengah.

Sebagian besar wilayah Papua bagian tengah dan pesisir selatan juga masuk dalam kategori curah hujan tinggi. Namun, wilayah utara Papua hingga Papua Barat menunjukkan pola yang lebih bervariasi, mulai dari rendah hingga menengah, mencerminkan adanya pengaruh sistem sirkulasi atmosfer regional yang tidak merata.

BMKG mengelompokkan curah hujan ke dalam lima kategori, yakni rendah (0–50 mm), menengah (50–150 mm), sedang (150–300 mm), tinggi (300–500 mm), dan sangat tinggi (lebih dari 500 mm). Berdasarkan klasifikasi ini, sebagian wilayah Indonesia bagian selatan mengalami musim hujan dalam intensitas yang lebih dari normal atau ekstrem di awal tahun.

Kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya fenomena Monsun Asia, serta adanya beberapa dinamika atmosfer berskala regional seperti Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuatorial yang memperkuat pertumbuhan awan hujan. Kehadiran konvergensi dan sirkulasi siklonik di beberapa wilayah juga turut mendukung pembentukan cuaca lembap di atas permukaan lokal.

BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk waspada terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan oleh cuaca ekstrem selama Januari ini. Banjir, tanah longsor, serta gangguan transportasi darat dan laut menjadi dampak yang umum saat curah hujan mencapai kategori tinggi atau sangat tinggi.

Upaya pencegahan melalui optimalisasi sistem drainase, penataan daerah aliran sungai (DAS), serta pemantauan wilayah-wilayah yang rawan longsor di daerah perbukitan dan pegunungan sangat diperlukan. Selain itu, kegiatan pertanian juga perlu disesuaikan dengan kondisi curah hujan agar tidak mengalami kerugian panen akibat tergenangnya lahan atau kerusakan tanaman.

Peta prakiraan ini juga menjadi rujukan penting bagi sektor transportasi, kelautan, dan energi, yang sangat bergantung pada kestabilan cuaca. BMKG mengimbau berbagai pihak untuk menggunakan peta prakiraan ini sebagai dasar penyusunan perencanaan dan langkah mitigasi, sehingga risiko kerugian akibat cuaca ekstrem dapat ditekan sejak dini.

Masyarakat diminta untuk terus memperbarui informasi cuaca dari kanal resmi BMKG, baik melalui aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi, maupun sistem peringatan dini yang ada di masing-masing daerah. Kecepatan akses informasi menjadi elemen penting dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu pada awal tahun ini. (*)

Berita Terkait

Kabut Asap Selimuti Aceh Singkil, Warga Keluhkan Dampak Karhutla Lintas Provinsi
Ancaman Asap Tebal di Atmosfer, BMKG Imbau Warga Jakarta Waspada dan Kritik Lambatnya Penanganan Pemerintah
Satu Rumah di Kecamatan Lawe Alas Aceh Tenggara Ludes Terbakar Dini Hari, Penghuni Selamat
Jalan Badak Gayo Lues Lumpuh Diterjang Banjir, Warga Desak Pemerintah Pusat dan BWS Bertindak
Jebolnya Tanggul Lawe Kisam Perparah Banjir di Aceh Tenggara, Jalan Nasional Kutacane-Medan Lumpuh
Banjir Luas Rendam Jalan Nasional Kutacane-Medan, Akses Lawe Sumur Lumpuh Total
Singapura Tercekik Kabut Asap, Kualitas Udara Terburuk di Dunia
Kabut Asap Selimuti Sampit, Warga Tetap Nekat Berkerumun di Hari Bebas Kendaraan

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Asap Karhutla Racuni 13 Juta Warga, 277 Ribu Terserang ISPA dan 62 Ribu Korban Balita

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:20 WIB

KPK Ancam Jemput Paksa Menteri ATR Nusron Wahid yang Dua Kali Mangkir

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:39 WIB

MK Putuskan Prajurit TNI Pelaku Pidana Umum Diadili di Peradilan Umum

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bahlil Desak Kepolisian Segera Tindak Tegas Penimbun BBM Subsidi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Stok Pertalite Nasional Tersisa 16 Hari, Bahlil Klaim Aman di Tengah Antrean BBM di Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Dugaan Pembatasan Rujukan JKN Mengancam Keselamatan Pasien Kronis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Digelandang ke Gedung Merah Putih KPK, Barang Bukti Diangkut Pakai Tong Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:07 WIB

PDI-P Sebut Framing Karhutla sebagai Bencana Alam Keliru, Soroti Kegagalan Mitigasi Pemerintah

Berita Terbaru