Anatomi Penjarahan di Negeri Seribu Bukit

J.PORANG

- Redaksi

Minggu, 8 Februari 2026 - 22:29 WIB

50601 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES – Di sela reruntuhan pasca-banjir Gayo Lues, sebuah “kanker” distribusi tengah bermetastasis dengan cepat. Di SPBU, nozel-nozel pengisian tampak lesu, menyemburkan bahan bakar sesekali ke barisan kendaraan yang mengular layaknya antrean panjang menuju liang lahat ekonomi. Namun, hanya sepelemparan batu dari sana, di trotoar jalan, bahan bakar justru “berpesta” dalam botol-botol eceran dengan stok yang melimpah ruah, namun berlabel harga yang mencekik nadi warga.
Ini bukan sekadar macetnya distribusi; ini adalah pendarahan hebat dalam sistem pengawasan energi yang sengaja dibiarkan terbuka.

Kebocoran di Jantung Distribusi
Karim Kemala Darma, legislator DPRD Gayo Lues, tak lagi menggunakan retorika halus. Baginya, kelangkaan ini adalah hasil dari sebuah “operasi senyap” yang sistematis. Ia mencium aroma busuk dari kebocoran yang mengalir deras dari operator resmi menuju pundi-pundi spekulan.

“Kita sedang menyaksikan sebuah anomali yang dipelihara. Masyarakat dipaksa ‘berpuasa’ di depan pompa, sementara di pasar gelap, energi mengalir seperti air bah. Pemerintah daerah nampak sedang menikmati peran sebagai penonton dalam sirkus penjarahan ini,” cetus Karim, Minggu, 8 Februari 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dugaan “main mata” di balik selang pengisian bukan lagi sekadar desas-desus akar rumput. Surat Edaran Bupati yang membatasi pembelian 15 liter per kendaraan kini tak lebih dari sekadar “hiasan dinding” yang tak diindahkan. Praktik bypass distribusi perpindahan BBM secara ilegal dari tangki SPBU ke jeriken pengecer seolah mendapatkan lampu hijau untuk terus melaju di jalur cepat.
Parasit di Tengah Trauma
Riduan (33), seorang warga Blangkejeren, memandang menjamurnya pengecer pasca-bencana sebagai bentuk

“kanibalisme ekonomi”. Ia heran bagaimana para pemburu rente ini memiliki insting yang melampaui radar pemerintah; mereka mampu menimbun stok sesaat sebelum hujan turun, seolah-olah telah memegang kendali atas cuaca dan nasib warga.

“Logika sehat mana yang bisa menerima ini? SPBU mengaku kering, tapi pinggir jalan banjir bensin. Ini adalah perampokan yang terstruktur,” gugat Riduan. Ia mendesak agar dinas terkait dibedah kinerjanya karena terkesan melakukan pembiaran yang akut.

Luka warga makin menganga saat merambah ke dapur. In. Mila (25), seorang pedagang kecil, menggambarkan betapa gas LPG 3kg kini telah menjelma menjadi “emas cair”. Dari harga normal Rp 22.000, ia meroket hingga menyentuh angka psikologis Rp 100.000 saat hujan mengguyur. Kelangkaan yang diciptakan (artificial scarcity) ini memaksa warga masuk ke dalam pusaran panic buying yang hanya menguntungkan segelintir bandit energi.

Di sisi lain, pihak pengelola SPBU berlindung di balik tameng prosedur. Janji pemecatan operator yang nakal kerap dilempar ke publik sebagai tumbal, meski jantung persoalan yakni pengawasan di tingkat hulu dan manajemen tetap tak tersentuh.

Kehadiran aparat di setiap titik pengisian menjadi mendesak, bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tapi untuk memutus sirkuit kecurigaan yang kian membara antarwarga. Namun, selama pengawasan di tingkat pengecer tetap longgar dan distribusi tetap berada di area “abu-abu”, masyarakat Gayo Lues akan terus dipaksa mengonsumsi ketidakpastian.

Saatnya pemerintah berhenti bersilat lidah dengan keterbatasan anggaran. Rakyat yang tengah merangkak pulih dari bencana alam tak selayaknya kembali dihantam oleh bencana moral para pemangku kebijakan yang menutup mata atas penimbunan ini. Kesadaran harus datang sebagai obat, bukan sebagai upacara pemakaman bagi keadilan sosial.
(J.porang)

Berita Terkait

Kronologi Kematian Misterius Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Polisi Dituntut Transparan
Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Meninggal Mendadak, Polisi Lakukan Penyelidikan
Arief Martha Rahadyan: Penguatan Hubungan Indonesia–Rusia Cerminkan Diplomasi Bebas dan Aktif
AJI Tuntut Prabowo Minta Maaf soal Ucapan ‘Londo Ireng’, Tuding Diskreditkan Jurnalis
YLBHI Kecam Tajam Stigma “Londo Ireng”, Dinilai Ancaman Serius terhadap Kebebasan Pers dan Demokrasi
Satresnarkoba Polres Gayo Lues Berhasil Ungkap Kasus Peredaran Narkotika Sabu, Seorang ASN Diamankan
KPK Jelaskan Alasan Penahanan Febrie Adriansyah di Rutan KPK, Tegaskan Tak Ada Kriminalisasi
Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Ngaku Dikriminalisasi

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Meninggal Mendadak, Polisi Lakukan Penyelidikan

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:41 WIB

Arief Martha Rahadyan: Penguatan Hubungan Indonesia–Rusia Cerminkan Diplomasi Bebas dan Aktif

Minggu, 26 Juli 2026 - 06:09 WIB

AJI Tuntut Prabowo Minta Maaf soal Ucapan ‘Londo Ireng’, Tuding Diskreditkan Jurnalis

Minggu, 26 Juli 2026 - 00:26 WIB

YLBHI Kecam Tajam Stigma “Londo Ireng”, Dinilai Ancaman Serius terhadap Kebebasan Pers dan Demokrasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 02:40 WIB

KPK Jelaskan Alasan Penahanan Febrie Adriansyah di Rutan KPK, Tegaskan Tak Ada Kriminalisasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 02:18 WIB

Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Ngaku Dikriminalisasi

Jumat, 24 Juli 2026 - 22:03 WIB

MK Tetapkan Sisa Kuota Internet Tidak Boleh Hangus, Operator Wajib Lindungi Hak Konsumen

Jumat, 24 Juli 2026 - 00:30 WIB

Prof DR Sutan Nasomal Meminta Presiden RI Membuat Aturan Ketat Jaga Ibu & Anak Indonesia

Berita Terbaru